Follow Us @soratemplates

Jumat, 15 November 2013

organel sel

01.40 0 Comments

Organel Sel

  •  Membran Plasma 
    • Merupakan bagian terluar sel yang memisahkan sel dengan lingkungan sekitarnya.
    • Strukturnya seperti lembaran tipis.
    • Tersusun dari molekl molekul lipida(lemak), protein, dan sedikit karbohidrat.
    • Bersifat dinamis dan asimetris, fosfolipid bilayer, semipermiabel.
    • Terdapat 2 protein membran :
      • Protein integral = protein yang terbenam.
      • Protein periferal = protein yang menempel di lapisan fosfolipid.
    • Fungsi :
      • Mengontrol atau mengendalikan pertukaran zat.
      • sebagai penerima rangsang dari luar.
      • Sebagai pelindung bagian sel.
  • Sitoplasma
    • sitoplasma atau cairan sel merupakan matriks yang berada di dalam membran plasma tetapi di luar nukleus.
    • bahan penyusun :
      • sitosol yang bersifat koloid
      • sitoskeleton (rangka sel) 
      • 90% air
    • Bahan anorganik :
      • garam garam mineral
      • gas, asam, basa
    • Bahan organik :
      • karbohidrat, lemak, protein, hormon, vitamin, asam nukleat (ARN)
    • Fungsi :
      • Tempat terjadinya metabolisme
      • tempat penyimpanan bahan kimia
      • mempermudah organel bergerak
      • tempat menyimpan cadangan makanan
      • penghantar rangsang
      • tempat reaksi kimia
      • tempat transportasi
  • Sitoskeleton
    • Merupakan rangka sel yang terdapat pada sitosol
    • Terdiri dari mikrofilamaen, filamen tengah, dan mikrotubulus
    • Fungsi :
      • sebagai rangka sel
      • menyokong stabilitas bentuk sel
      • sebagai pengatur gerakan sel
      • sebagai pengatur gerakan kromosom ke arah kutub
  • Inti Sel (Nukleus)
    • Merupakan bagian terpenting dari sel
    • Terdiri dari :
      • Selaput inti (karioteka)
        • Berfungsi sebagai pembungkus sekaligus pelindung inti.
      • Nukleoplasma
        • Merupakan cairan inti berbentuk gel yang kaya akan substansi kimia.
      • Nukleolus (anak inti)
        • mengandung ADN yang bertindak sebagai organisator inti dan mrngandung salinan gen gen yang memberikan kode ARN ribosom.
    • Fungsi :
      • mengendalikan proses berlangsungnya metabolisme
      • menyimpan informasi genetik
      • tempat terjadinya replikasi dan transkripsi
      • mengatur reproduksi sel
      • mengendalikan seluruh kegiatan sel
  • Retikulum Endoplasma
    • Bentuk : tersusun dari kantong pipih dan tabung 2 lapis membran yang meluas dan menutupi sebagian besar sitoplasma.
    • Ada 2 RE:
      • RE kasar : bergranula dan dilekati oleh ribosom
      • RE halus : tidak bergranula dan tidak dilekati ribosom
    • Fungsi :
      • RE kasar berguna untuk tempat sintesis protein
      • RE halus berfungsi untuk tempat sintesis lipid, metabolisme karbohidrat dan detoksifikasi
      • Sebagai sistem transpor pada sintesa protein
  • Ribosom
    • Merupakan butiran kecil nukleoprotein yang tersebar di dalam sitoplasma.
    • Disusun oleh RNA ribosomal
    • Fungsi :
      • proses tempat berlangsungnya sintesa protein
  • Badan Golgi
    • Merupakan kantung pipih bertumpuk tumpuk
    • Badan golgi terdapat pada sel sel sekretori, yaitu :
      • sel sel kelenjar pencernaan
      • sel sel kelenjar prankeas 
      • kelenjar air ludah 
      • kelenjar air mata
    • Fungsi :
      • Menghasilkan musin dan sintesis dinding sel
      • Untuk sekresi proten, glikoprotein, karbohidrat dan lemak
      • Menambahkan glikosilat pada protein dan fungsi ekskresi
      • Membentuk Lisosom
  • Lisosom
    • Merupakan vesikel membran berkantung yang mengandung enzim enzim hidrolitik yang bekerja pada kondisi asam.
    • Fungsi :
      • mencerna makromolekul secara intraseluler dan merusak sel sel asing dengan fagositosis,
    • Enzim enzim yang berfungsi untuk menghidrolisis materi seluler asing :
      • nulkease, protease, lipase, fosfatase
  • Peroksisom
    • Berbentuk seperti lisosom, berisi enzim oksidatif dan katalase
    • Menghasilkan hidrogen peroksida (merupakan racun). Dengan adanya enzim katalase maka hidrogen peroksida diubah menjadi air dan oksigen. 
  • Mitokondria (terdapat pada sel eukariotik)
    • Merupakan organel membran rangkap yang sangat penting untuk metabolisme energi dalam sel.
    • Membran sebelah dalam berlekuk lekuk disebut krista, berfungsi untuk memperluas permukaan sehingga penyerapan energi lebih efektif.
    • Ruang antara lipatan membran merupakan matriks yang berisi enzim enzim pernapasan (sitokrom).
    • Mitokondria berperan dalam respirasi sel dan penghasil energi terbesar dalam sel, sehingga disebut The Power House.
  • Organel organel yang hanya dimiliki tumbuhan :
    • dinding sel 
    • vakuola 
    • plastida
  • organel organel yang dimiliki oleh hewan :
    • lisosom
    • sentriol
    • sentrosom

Minggu, 06 Oktober 2013

cerpen 4

00.48 0 Comments
SELINGAN DI HARI LIBUR



           Disuatu sore yang tenang, aku duduk termangu di teras menunggu terbenamnya matahari. Mendengar detik jam yang berdetak seperti jantungku. Di situ aku mulai jenuh dan hendak menuju ruang tengah untuk menonton tv. Tiba tiba ketika aku mulai beranjak dari tempat dudukku, dengan sekejap semuanya menjadi kelam. Yeah, satu kata untuk situasi ini “mati listrik”.

                “Bu, lampu emergensinya tolong dibawa ke depan saja,” teriakku.
                “Di dalam saja, Ayah dan Adik sudah berkumpul di ruang tengah,” balas Ibu.
                “Baiklah”

                Hal yang menyebalkan adalah ketika kita harus berjalan dalam kegelapan tanpa seorang teman. Dan aku harus melakukan itu saat ini. Ketika aku meraba raba dinding, tiba tiba aku tersandung dan terjatuh. Seketika itu anjingku menggonggong. Aku terkesiap ternyata aku menindihi anjingku. Untungnya saja, ayahku datang dan menggandengku untuk berkumpul di ruang tengah. Di situ kami berbincang bincang dengan hangat. Dan ditemani lampu emergency, bayangan kami terlihat seperti film yang di LCD. Dari situ aku mempunyai ide untuk mengajak teman teman lamaku menonton film di bioskop langganan kami. Kebetulan besuk sudah mulai libur semester.
                Keesokan paginya setelah aku bangun dari tidur, aku melihat jam bekerku masih menunjukan pukul 05.00 WIB. Selagi masih ingat, aku sms Nesti untuk berjanjian pergi ke bioskop dan menyuruhnya menyebarkan sms itu ke teman teman yang lain. Karena hari libur, aku melanjutkan tidurku yang sempat terpotong itu. Baru sekitar 5 menit, mimpiku harus terpotong lagi gara gara hp-ku bordering. Ya, itu Nesti yang membalas sms ku.

To : Nesti
Nes, ayo nanti kta ke bioskop langganan kta. Ada fil baru.
Sebarkan ke teman2 yg lain.

                                                                Ok. Ak ajak Agustin, Evi, Findo,Deri. Tp, nanti stlh ak foto
                                                                bku tahunan. Jm 11 aj.

                Di hari libur seperti ini, aku selalu membantu Ibu menyapu, mencuci piring, dan memasak. Setelah selesai, aku akan meluncur ke rumah kakaek nenekku. Di sana aku juga membantu menyapu dan memasak. Seperti dikejar kejar waktu, aku harus mengerjakan banyak hal dengan waktu singkat.
                Jarum jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. Aku sudah siap meniju rumah Nesti. Kukira setelah 30 menit lebih siang dari waktu janjian Nesti sudah selesai dengan acaranya. Tapi, ternyata belum pulang pulang juga. Setengah jam kemudian ia baru datang dan disusul dengan teman teman lainnya. Rencana awal aku akan berboncengan dengan Nesti, kemudian Agustin dengan Findo, dan Evi dengan Deri. Dan ternyata, Agustin tidak diperbolehkan dengan orang tuanya berboncengan dengan anak laki laki.
               
                “Eh, tunggu. Aku berboncengan sama Nesti lho,” kata Agustin.
                “Eit! Kan aku yang harusnya berboncengan dengan Nesti. Emang kenapa ga’ gonceng Findo aja?,” selaku.

                “Ah, aku ga’ boleh sama Ibuku,” bela Agustin.
                “wkwkwkwkwk,” kami semua tertawa.

                Akhirnya, akulah yang harus berboncengan dengan Findo. Sampai di bioskop, kami harus mengantre panjang seperti orang antre BLT. Kami merasa jenuh setelah berjam jam mengantre. Dan setelah mendapatkan tiketnya, kami pun harus menunggu 2.30 jam lagi. Sungguh menyebalkanhari sudah mulai malam kami baru dapat menonton filmnya. Kami mendapat tempat duduk nomor 3 sebelah kiri. Setelah kami duduk, kenapa kurang satu tempat duduknya? Dan ada segerombol orang akan mendekati tempat kami sehingga kami saling bepandangan. Ternyata setelah dilihat lagi, kami mendapat tempat duduk nomor 2. Rasanya malu sekali ketika banyak mata yang memandangi kami dengan aneh. Rasa itu sudah mulai hilang setelah melihat cahaya dari LCD. Ya, kami begitu menikmati filmnya. Tertawa bersama, menangis bersama …. begitu menyenangkan.
                Serasa terbayar semua kelelahanku hari ini. Dengan menonton film itu, aku mempunyai semangat baru. Namun, semuanya hancur lebuh berantakan karena sesampai di parkiran motorku sulit dikeluarkan. Setelah dapat keluar, ternyata hari sudah malam dan disertai kejadian hujan, kami pulang dengan muka merengut karena tidak membawa mantel. Sesampai di rumah, Ibuku marah marah karena aku pulang terlalu malam. Dan sebelumnya, aku belum pernah pulang malam. untungnya ayah belum pulang kerja. Jadi, aku masih bisa meredam amarah Ibu dengan gorengan yang masih hangat. Bagiku, semua kejadian pada hari ini mengesankan.


Rabu, 25 September 2013

Selasa, 24 September 2013

puisi singkat

05.00 0 Comments
KAPAS YANG TERTETES 
TINTA HITAM


Dahulu.... kau putih 
Bersih tiada noda
Lembut nan berseri
Bening mata memandangmu

Hembusan angin nan kencang
Tlah membawamu ke alam bebas
Jauh menghilang...melayang layang
Terombang ambing di udara

Hingga membuatmu menghitam
Tertetes tinta tnta hitam dunia
Putih bersih, kini tlah berubah
Menjadi sampah yang tak berguna

#puisi ini bermakna : apabila seseorang yang awalnya masih alim atau polos tapi salah memilih pergaulan, seseorang itu akan hancur dan tidak berguna bagi orang lain. lebih tidak bernilai di mata orang lain. 
trimakasih :D

cerpen 3

04.51 0 Comments

Air Mata Terakhir


Bahagia itu tidak harus di kayangan. Cukup menari denganmu di atas awan yang bertabur cococips dipayungi toping cokelat yang tebal anti cahaya dan.......BRAAKKKK..... Seketika, aku terbangun dari lamunanku dan melihat ice creamku jatuh disambar bal basket si Rio. 

"Ya Tuhan indahnya," bisikku lirih.

Aku tercenganga ketika Rio menghampiriku. Matanya yang berbinar sudah sering kulihat. Tapi, lengan yang kuat dan putih terlihat tepat di depan mataku membuat ku tersihir cinta. Ya, dia adalah idola hatiku sejak kami masih berteman di taman kanak-kanak. 

" Aduh, maaf. Kamu tidak apa-apa?"
" oh...nnggg ngg gak kok hehe.."
"siip"
"ha..? Cuma gitu aja??," kataku dalam hati.

Trenggggg treeeng...
Bel masuk sudah menjerit-jerit memanggil para siswa SMA Prima untuk mengikuti pelajaran kembali. Aku kembali duduk di bangkuku yang paling belakang di sebelah Nofi. Sengaja biar bisa lihat Rio sepuasnya. Sebenarnya Nofi tidak terlalu suka duduk di belakang. Tapi, dia kan teman setiaku yang selalu bersamaku dimana pun. Kecuali tadi di lapangan basket. Aku sengaja meninggalnya yang sibuk baca buku di kantin. Aneh-aneh saja bisa-bisa bukunya yang dimakan.

"Dari mana Re?"
"Dari lapangan basket "
"Ngapain? Jadi juru bersih-bersih keringat?"
"Iya...bisa jadi...tidak..tidak"
"LEBAY"

Pelajaran biologi mulai dengan bab baru. Padahal bab kemaren aja nilaiku belum tuntas. Memang kalau suruh menghafal ingatanku tidak seperti Nofi. Bukannya sombong, tapi kalau menghitung, lumayanlah lebih mending dari pada Nofi. Materi biologi kusimpan di otak depan. Karena otak tengah dan belakangku sudah sibuk dengan setumpuk angka-angka.
Trenggggg..... Treeenggg...treeeengg
Bel tanda pulang yang merdu menyadarkan mataku untuk melihat Rio. Tapi, dimana dia?  Aku tidak melihatnya setelah aku menengok ke jam dinding sebentar saja. Yah... sudahlah besuk juga ketemu lagi. 

"Reina..."
"Iya"
"Ini ice cream untuk mengganti milikmu tadi. Sama seperti tadi. Bertoping cokelat tebal dan di dalamnya ada cococipsnya"
"Ha?...makasih. Tapi ti.."
"Suadahlah ini, dimakan. Biar kutemani kamu makan"

Apa?? Rio memanggilku lalu menarik tanganku menuju lapangan basket? Mengganti ice creamku lalu menemaniku makan pula. Wah seperti melamun di bawah matahari "berkeringat". Sepertinya aku mulai mati gaya dan kehilangan banyak ion. Kalian tahu rasanya? Hatiku pengen meledak ledak, jantungku mulai berdebar dan kehilangan kendali. 
"O iya Re, 3 bulan lagi kita kan udah ujian nasional, kamu mau melanjutkan kuliah di mana?"
"Haahhhh?? 3 bulan??",sontak, aku hampir tersendak.
"Iya. Masa kamu tidak memperhitungkan dari sekarang?"
"Serasa masih TK. Dan sibuk memperhitungkan waktuku melihatmu", kataku lirih.
"Apa?? Melihat hantu??"
"Ha?? Sudah lupakan. Aku mau pulang. Toh ice creamku sudah habis”
"Ok. Hati hati ya"

Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Di perjalanan aku sibuk memikirkan time managementku untuk waktu 3 bulan yang sangat singkat. Tapi, di dalam pikiranku sudah banyak tersita untuk memikirkan Rio. Sedangkan Rio tidak pernah memperhatikanku sedetail itu. Mulai sekarang, aku berjanji akan belajar dengan sungguh sungguh dan penuh semangat untuk menyaingi Rio si bintang kelas itu. Dengan begitu, Rio akan melirik padaku. Hahaha.. 
Baru sadar, ternyata dari tadi aku senyum senyum sendiri dan ditertawakan oleh pengemis yang berada di sebrang jalan. Pokoknya aku tidak mau ini hanya fikir belaka dan aku harus benar benar mencapai target. Aku tidak mau ditertawakan anak jalanan karena kegagalanku.


*******

#1 bulan kemudian

Satu bulan ini memang melelahkan. Jadwal keseharianku kuhabiskan untuk belajar dan les. Setiap malam aku belajar dari pukul 18.00-20.00 WIB. Nanti bangun lagi sekitar pukul 03.00 dini hari. Belum siang sepulang sekolah aku harus les. Rasanya otakku mulai mencair dan nyawaku mulai hilang satu persatu. Apalagi sudah sebulan ini aku duduk di depan. Otomatis jarang melihat Rio yang suka makan permen xylitol waktu pelajaran.
Pagi hari di ruang makan. Ayah, Ibu dan adikku memandangiku yang sedang sarapan. Memang aneh rasanya bila terlalu banyak mata yang memandangiku.

"Apa? Ada apa denganku ada yang aneh ya?"
"Kaka sebulan ini kelihatan lebih rajin dariku"
"O...jelas"
"Sombong! Kaka kan cewek seharusnya rajin sejak dulu dong"
"Kamu kan cowo. Seharusnya ngga' cerewet dong"
"Sudah sudah mungkin kaka'mu baru sadar kalau ujian sudah dekat. Iya kan Bu?"
"Iya Yah"
“Kalau kamu bisa mendapat nilai lebih bagus dari Rio, apalagi bisa menjadi juara umum. Ayah akan memberimu kejutan yang besar. Pasti kamu suka”.
“Memangnya apa yah??”
“Tunggu saja”

Memang satu bulan ini, nilaiku sudah jauh progres. Bahkan hampir menyamai nilai Rio. Pantas saja keluargaku kaget mendengan laporan dari wali kelas Rabu kemarin di rapat sekolah.
By the way, aku jadi penasaran dengan kejutan dari Ayah. Kali ini hanya satu yang ada dipikiranku yaitu dijodohkan dengan Rio. Memang aneh, siapa yang tahu kalau aku suka Rio? Nofi saja tidak begitu memahami perasaanku kepada Rio. Tapi, mungkin saja kan karena Ibunya Rio itu teman akrap Ayah dan Ibuku. Dari pada pusing memikirkan hal yang bodoh, mending aku segera menaiki skuter maticku yang dari tadi menunggu di garasi. Berangkat sekolah lebih pagi daripada si Rendi (adikku), wah hebat!

Treeeengggg ……trreeenggg
Aku terkesiap mendengar bel tanda masuk kelas ketika aku sibuk membaca buku. Terlihat Rio dan Nofi sedang berbincang bincang asik di depan kelas. Hatiku, oh hatiku, sunyi senyap tak gemerlap dan serasa dicabik cabik harimau. Untungnya Bu Isna segera masuk ruang kelas dan menyuruh mereka untuk duduk. Aji gila, pagi pagi sudah panas ngelihatin mereka. Sial!! Jangan jangan mereka salingg…..

Plak….
“Aw..!!,” aku menjert. Pipiku panas kena gamparan tangan si Zog yang gemuk.
“Sorry Re, ada nyamuk di pipimu,” jelas si Zog lantang.
 Seisi kelas melihatku dan menertawakan aku. Termasuk Rio dan Nofi yang jelas jelas sudah kuanggap teman baikku. Gara gara si Zon alias si zona gemuk aku jadi pusat perhatian. Aku mengikuti pelajaran biologi dengan perasaan sebal setengah mati.

Trreeengg…trreeengg
Ya, tentu aku tidak asing dengan bel itu. Langsung saja aku melarikan diri ke kantin tanpa mengajak Nofi. Seperti biasa, aku membeli ice cream kesukaanku. Selintas, kulihat sosok Nofi berjalan menuju lapangan basket. Mataku menyipit dan penuh selidik. Apa yang dikerjakan Nofi di sana?? Mencariku?? Atau mencari Rio?? Aku lari dari kantin menuju parkiran. Entah kenapa aku ingin membenamkan diriku dari Nofi dan Rio.

“Sial!! Hari ini adalah hari yang mengenaskan. Ada apa dengan mereka berdua? Apa aku haru bilang secara blak blakan tentang perasaanku kepada Rio? Tidak…tidak. Pasti ada jalan yang lebih indah,” aku berkata lirih menuju tempat duduk yang ada di sebelah pohon beringin.

Untuk menghilangkan rasa penatku, aku menendang kerikil yang ada di depan kakiku. Plak ….kerikil itu tergelempar dan menabrak sebuah motor yang tidak asing kulihat. Ya, itu motor Rio yang tidak jauh dari motorku. Tapi tiba tiba alarm motor itu berbunyi keras. Aku gugup harus bagaimana. Kemudian aku mengambil stiker di helmku yang bertuliskan “I LOvE U” dan menempelkannya ke kaca spidometer motor Rio. Entah ide gila apa itu,dan datang dari mana.  Kemudian aku lari sekencang kencangnya.
Ketika aku menengok sebentar ke arah motor Rio, sontak aku syok melihat ada sesosok besar yang tiba tiba muncul di hadapanku. Aku tidak dapat mengerem langkahku seperti motor CBS. Terjadilah apa yang terjadi kepadaku dan kepadamu. Aku menabrak si Zog yang sedang lari dari arah barat.

“AWAASS!!!,” aku berteriak sebisa mungkin.
“AAAGGHH,” Zog terkaget.
“Aww…,” rintihku ketika ku tau Zog menabrakku hingga aku terpental ke selokan.
            “Maaf Re, aku tidak sengaja”
           
            Kemudian Zog menggendongku hingga ke UKS walaupun aku sudah meronta ronta tidak mau. Semua keadaan bertambah ricuh. Bekas luka lukaku bertambah perih ketika PMR mengoleskan obat merah.

            “Rei,kamu tidak apa apa?,” tanya Nofi yang baru saja datang.
            “Lumayan…lumayan hancur,” balasku sambil nyengir kecut.
            “Kamu ini, masih sempat bercanda,” kata Nofi.
            “Gimana rasanya?,” sahut Rio yang datang bersama Zog.
(aku dan Nofi menengok kea rah Rio bersamaan)
        “Lebih sakit daripada terkena bola basketmu,” jawabku sambil memutarkan bola mataku 360 derajat.
(Semua tertawa)

Setelah kejadian itu terjadi, aku akan lebih berhati hati dan tidak ceroboh dalam melakukan suatu hal. 



#3 minggu menjelang UNAS


Matahari mulai terbenam, awan pun mulai menjelma menjadi merah keorenan. Aku duduk termenung di taman belakang rumah. Di situ aku mengingat kejadian di kelas tadi. Kejadian yang membuatku bangga akan kemampuanku. Aku mendapat nilai try out tertinggi di kelas. Itu berarti aku mendapat nilai lebih tinggi daripada Rio. Sehingga dia mengucapkan selamat dan menjabat tanganku. Ternyata usahaku telah membuahkan hasil.

“Rei….Reina…makan dulu nak”
(Suara ibu yang lembut telah masuk dalam telingaku)
“Iya Bu…”

Aku berjalan menuju ruang makan yang berada di sebelah dapur. Mataku sedikit terbelalak karena menu yang ibu sediakan lebih lengkap dari biasanya. Piringnya pun menjadi dua kali lebih banyak dan tertata rapih.

“Wah..wah..wah, ada pesta ya?,” tanyaku penuh selidik.
“Bukan, ini hanya sambutan kecil karena Om Dio suami Tante Rika telah pulang dari Kalimantan,” jawab ibu dengan nada bahagia.
“Tante Rika Ibunya Rio?!,” tanyaku dengan begitu semangat.
“Iya, Om dio baru datang tadi pagi dan ingin berkumpul bersama kita,” jelas Ibu.
“Ok. Aku akan membantu Ibu menyiapkan segalanya.”

Oh Tuhan… pasti menyenangkan bertemu Rio di luar jam sekolah. Andai mereka menginap di sini, pasti lebih seru. Tapi, mereka berkunjung di sini sebentar saja aku sudah bahagia.

Tok..tok …tingtung…tingtung
Bel sudah bersiul menandakan mereka sudah datang.  Aku cepat cepat berlari dan membukakan pintu. Ya, benar mereka datang. Ada Om Dio, Tante Rika, Risa (adik Rio) dan tentunya Rio yang paling kunanti nanti. Tapi, kenapa setelah aku membukakan pintu mereka malah tertawa tebahak bahak?

“Hahaha, kamu ini habis ngapain Re?,” tanya Om Dio.
“E..e..emangnya ada yang salah denganku?,” aku balik bertanya dengan suara terbata bata.
“Ya, jelas dong. Orang mukamu coreng moreng bigini.”
“What…? Tisu tisu…e kaca kaca.”
(Aku menjadi salah tingkah. Pasti gara gara pemanggang sate yang aku angkat tadi mukaku jadi coreng moreng begini).

Setelah aku mempersilahkan mereka masuk, aku langsung meluncur ke kamar mandi untuk membersihkan noda di wajahku. Setelah selesai dari kamar mandi, aku ikut bergabung di ruang makan. Semuanya ternyata sudah asik menikmati hidangan. Kebetulan, ada kursi yang kosong di sebelah Rio. Kesempatanku untuk menambah akrab dengannya. 

“Hi…,” sapaku.
“Hi juga, sudah lama ya kita tidak berkumpul begini.”
“Iya. Kamu pasti kangen banget kan sama aku…hehe,” candaku dengan agak memberankan diri.
“Idih..tiap hari juga ketemu kali,” ejeknya.
“Besuk mau lanjut kuliah jurusan apa?”
“Aku masih bingun antara jadi Guru olahraga atau ke seminari untuk jadi Pastur. Kamu?”
“Haaah apa?!! Kamu mau jadi Pastur?”
           
Aku terkaget setengah mati dan kupingku serasa panas mendengar Rio hendak menjadi Pastur. Seketika harapanku musnah untuk memiliki Rio karena Pastur tidak boleh memiliki istri. Tetapi, aku mencoba untuk tenang dan membujuk Rio agar jadi guru olahraga saja.

“Mending kamu jadi guru olahraga saja. Toh kamu juga jago basket. Kamu juga anak laki laki satu satunya di keluargamu kan.”
“Iya sih. Akan kupertimbangkan pendapatmu”

Setelah kami selesai makan dan berbincang bincang, keluarga Rio segera berpamitan karena hari sudah mulai larut malam. Kami  pun mempersilahkan mereka untuk pulang.
Tidak ada pembantu di rumah kami. Jadi, aku memberikan malam ini khusus untuk membantu pekerjaan ibuku yang super duper banyak.

Pagi hari di sekolah.
Aku bertemu Rio di parkiran dan berjalan bersama untuk masuk kelas.
           
“Rio..”
“Eh, Reina. Kamu kelihatan masih mengantuk”
“(aku tersenyum)”
“Yah..malah tersenyum. Makasih lho sambutannya tadi malam”
“Iya..sama sama”

Tiba tiba ada Zog yang merangkul bahu kami dari belakang. Aku dan Rio sempat terkaget dan kami tertawa terpingkal pingkal. Aku, Rio dan Zog pun berjalan menuju kelas bersama sama.
Sesampai di kelas, ternyata Pak Indra guru matematika kami sudah memulai pelajaran. Berhubung Pak Indra merupakan salah satu guru kiler di sekolah ini, kami pun dihukum beliau untuk menyapu di gedung aula. Sungguh menyebalkan! Zog selalu mengganggu acara berduaku dengan Rio. Ketika aku mendekati Rio, Zog selalu lebih dulu dekat dekat dan menjahili aku. Rio yang pendiam hanya bisa ikut tertawa. Setelah hukuman kami selesaikan, kami boleh mengikuti pelajaran lagi seperti biasa.
Trreeeenggg….treeeenngg
Bel istirahat telah menari nari di telingaku. Aku bergegas mengajak Nofi untuk jajan di kantin. Setiba di kantin, kami terheran heran karena kantin begitu sepi. Tapi, setelah aku satu kali melangkah ke depan, banyak orang yang muncul dari bawah meja dan menyanyikan lagu yang berlirik “maukah kamu jadi pacarku…yang salalu setya menemaniku….” Seketika, Zog muncul di belakangku dengan membawa bunga yang kelihatannya baru dipetik dari taman sekolah.

“Reina Riona Lalita, maukah kamu menjadi pacarku?”
APPAA??? Zog menembakku??? Oh Tuhan, aku harus bagaimana ini…
“A…aa..ku…”
(Belum sempat melanjutkan kalimatku, aku melihat Rio datang dan tiba tiba pergi menjauh)  
“Aku apa?”
“Aku tidak tega mengucapkan ini. Tapi, aku sudah menyukai seseorang”
“Sudah kuduga. Tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu”
“Ayolah, lebih baik kita memikirkan UNAS yang tinggal sebentar lagi”

Zog kemudian pergi dengan membenamkan wajahnya dan membuang bunga itu ke tong sampah. Semua murid yang ada di kantin menyorakiku seolah olah aku seorang penjahat. Aku lari menuju lapangan basket dan meninggalkan Nofi sendirian. Hatiku seakan sepi dan air mataku tak terasa menetes di pipi.

“Kenapa bukan kamu Ri? Ternyata Zog lebih berani dari pada kamu. Atau kamu memang tidak suka dengan ku dan hanya menganggapku teman?,” bisikku lirih.

Terdengar suara bola basket yang sedang dimainkan mendekat dan mendekat. Siapa itu? Rio, Zog atau para siswa yang akan berolahraga? Aku hanya bisa diam dan mengusap air mataku. Kemudian aku menengok kea rah suara itu. Ternyata hanya segelintir bola terpental pental yang kelihatannya dilempar dari luar. Aku beranjak pergi dan tiba tiba ada yang menepuk pundakku. Dengan secepat kilat aku menengok. Dan ternyata Rio ada di belakangku dengan membawa ice cream kesukaanku.

“Rio”
“Duduklah, dan makan ice cream ini”
(Aku hanya bisa menunduk dan menuruti perkataan Rio)

Rio menungguku untuk menghabiskan ice cream ini. Setelah ice cream coklat itu masuk dalam perutku semua, sejenak Rio melihatku dan melemparkan sebuah bola basket. Dengan sigap aku menangkapnya dan menggiringnya ke ring. Rio mengejar dan merebut bola sehingga aku harus berputar balik untuk merebutnya kembali. Permainan bertambah seru walau aku tidak bisa bermain basket. Tapi, Rio terus mengajarkanku dan mengajakku bermain. Kami pun tertawa terbahak bahak tanpa menghiraukan bel berbunyi. Tak terasa hari sudah sore dan ketika kami keluar dari lapangan, sekolahan sudah sepi. Kami pun memutuskan untuk pulang bersama.
Malam hari ketika aku belajar, terdengar telepon ayahku berdering. Terdengar pembicaraan itu sangat serius dan berbelit belit. Mungkin itu salah satu klien ayah yang komplain dengan produk baru perusahaan. Namun, seketika telepon itu mati ayah tidak dengan segan segan menggebrok pintu kamarku. Aku terperanjat dari tempat dudukku dan membukakan pintu.  Terlihat mata ayah yang tadinya penuh kasih saying kini berubah menjadi merah dan garang.

“REINAA!!,” ayah membentakku garang.
“A..a apa yah?,” sahutku dengan gemetar.
“Kamu mau jadi apa? Selama jam ke-3 sampai selesai kamu tidak mengikuti pelajaran. Kamu kemana? Dengan siapa? Ada apa dengan kamu ini sehingga wali kelasmu menyekorsmu selama 2 hari?,” tanya ayah panjang lebar.
“Maaf yah, tadi aku keasikan main basket dengan Rio sehingga tidak mendengar bel,” jelasku dengan muka menunduk dan meneteskan air mata.
“Memangnya kamu mau jadi pemain basket? Berjalan saja tidak becus. Masih mending Rio cerdas. Lhah kamu..?,” suara ayah bertambah besar bagaikan petir.

Sedangkan ibu dan adikku mulai datang dan mencoba menenagkan ayah. Aku pun disuruh masuk kamar dan tidur untuk menenangkan diri. Ibu mulai menutup pitu kamarku dan pergi. Sepintas aku memikirkan Rio. Apakah dia juga bernasip sama denganku? Aku mencoba meraih ponselku dan mengirim pesan singkat padanya.


Rio, sorry gara2 aku kamu jd ikut kena skors 2hari.



                              Bukan slhmu Rei, biarkan waktu yang menjawab dan berjalan apa adanya.




Ada apa dengannya? Kenapa jawabnya begitu aneh? Aku tidak terlalu memikirkan itu. Tapi cuma ada satu yang menancap dalam pikiranku yaitu bagaimana aku kembali baikan dengan ayahku? Aku harus membalasnya dengan nilai nilaiku yang menjanjikan masa depanku. Aku juga akan menjaga sikapku. Aku janji.


Ujian sudah di depan mata.
Aku telah merasa siap dengan soal ujian yang sudah mengibarkan bendera merahnya. Aku akan membunuhnya dengan rumus rumus dan jawaban yang tepat. Aku akan mengerjakannya dengan jujur dan tanpa menyontek. Aku juga tidak membeli jawaban dari oknum.
            Hari Senin, dimulai dengan jadwal matematika. Aku berusaha untuk berkonsentrasi dan larut dalam soal tanpa melihat di sekelilingku.  Setelah aku selesai, aku langsung meneliti dan mengumpul lembar jawabanku. Ya aku selesai pertama kali.
            Hari Selasa dan Rabu, seperti biasa aku dengan PDnya mengumpul lembar jawaban pertamakali. Tapi, pada hari Kamis dan Jumat aku kalah cepat dengan Rio. Semoga saja nilaiku tidak terpaut dengannya.
            Aku menunggu nilai UNAS dengan kegiatan yang hanya datar datar saja. Pagi hari aku membantu ibu memasak dan membersihkan rumah, siang hari aku bermain dengan adikku dan sore hari aku membantu ayah membersihkan kebun dan menyirami tanaman. Hampir satu bulan aku seperti orang linglung. Tapi untungnya, nilai UNAS akan diumumkan hari Senin besuk. Rasanya itu seperti lari di atas awan. Menyenangkan tetapi juga mendebarkan. Aku hanya bisa berdoa untuk itu.
            Kali ini ayahku yang akan menghadiri di acara pengumuman kelulusan. Sungguh jantungku tambah bergoncang goncang. Aku tidak berani membuka mata dan telingaku ketika wali kelas menyampaikan nilai itu. Ketika ayah melihat nilaiku, matanya serasa dua kali tambah lebar. Dan bola matanya yang hitam memandang tajam padaku. Aku semakin takut dan tanganku mulai merinding. Seketika ayah memelukku dengan erat dan membisikan padaku “ kamu akan mendapat paspornya nak”. Apa maksudnya?
            Ternyata nilaiku sempurna dan melebihi nilai Rio bahkan menjadi nilai tertinggi di sekolah ini. Ayah memberikanku hadiah yang dulu dijanjikannya yaitu sekolah di Australia. Aku tak percaya ayah punya ide seperti itu. Menurutku itu sangat berat karena aku harus jauh dari keluarga dan juga Rio.
            “ Rei, selamat ya,” kata Rio yang tiba tiba muncul di hadapanku.
            “Eh, iya sama sama,” balasku.
            “Kamu bener mau ke Australia ya?”
            “Ehmm, belum tahu. Lagi pula aku..”
(Aku belum sempat melanjutkan kata kataku. Tetapi Rio telah memotongnya)
            “O ya, aku sepertinya lebih berminat melanjutkan ke seminari”
            “Haah?? Yang benar? Jangannn”
            “Lho kenapa?”
            “Karena aku, ingin kamu selalu ada di sisihku,” aku menunduk dan lari ke tempat ayahku.

            Ini hal yang tergila yang penah aku lakukan. Tapi aku sudah tidak bisa memendam perasaan ini. Mataku sudah tebutakan oleh ketulusan, kebijaksanaan dan kebaikannya. Tapi apabila aku memang ditakdirkan Tuhan untuk tidak bersamanya, mungkin aku butuh waktu yang lama untuk menerima.
            Satu minggu menjelang kepergianku ke negeri Kanguru itu, Rio mengajakku untuk makan malam. Katanya untuk sekedar mengingat masa persahabatanku dengannya. Sekitar pukul 07.00 WIB ia datang menjemputku. Rio mengajakku makan di sebuah warung makan yang kecil dan sederhana. Tetapi, ketika kami masuk ke dalam ternyata banyak sekali pelanggan. Dan setelah kucicipi, rasa dan aroma hidangannya begitu lezat.
           
“Wah enak sekali,” kataku.
“Kalau kamu ingin lagi, pesan saja jangan malu malu. Biar aku yang bayar,” jawab Rio.
“Sayangnya perutku sudah kenyang. Ternyata rasanya tidak sesederhana tempatnya ya,” pujiku.
“Iya. Seperti persahabatan kita yang sederhana dan banyak orang yang tidak mengetahuinya,” jelas Rio.
             
            Aku hanya tersenyum ketika Rio mengatakan aku adalah sahabatnya. Ya sahabat saja mungkin sudah cukup baginya. Tapi hatiku seperti tersengat lebah ketika mendengar itu.
           
            “Rio, kamu jadi melanjutkan ke seminari?”
            “Kalau kamu benar benar tidak setuju, aku bisa memilih kuliah menambil jurusan pendidikan olahraga”
            (Aku hanya tersipu malu)
            “Rei, bisakah kamu melihat pertandingan basket untuk merayakan kelulusan SMA kita?”
            “O..bisa. Kamu main kan?”
            “Iya”
            “Kapan?”
            “Besuk Kamis pukul 15.00 WIB”
            “Ok”
            Setelah kami kenyang, Rio mengantarkanku pulang. Dan aku berjanji hendak melihat pertandingan basket hari Kamis besok.


Hari Kamis.
Tak terasa hari Kamis sudah datang. Hari ini aku sudah berjanji pada Rio untuk melihat pertandingan basket. Aku mengajak Nofi untuk melihatnya. Sengaja aku menjemput Nofi di kediamannya untuk sekedar melepas kangen setelah serasa lama tidak bertemu.

            “Nofi….aku kangen”
            “Aku juga Rei..”
            “Gimana udah sembuh? Katanya kemaren kamu sakit”
“Udah Rei. Cuma gak enak badan aja kok”
            Selesai berbincang bincang kami pun berangkat menuju lapangan basket di SMA kami. Tepatnya mantan sekolah kami :D. Setelah sampai, ternyata sudah banyak teman teman yang datang. Terlihat Rio dan teman temannya sedang pemanasan fisik. Ternyata Zog juga ikut main satu tim dengan Rio. Wah pasti seru pertandingannya.
            Aku dan Nofi mengambil barisan depan sendiri. Maklum karena tinggi kami sedikit terhambat. Terdengar wasit telah meniup peluit yang berarti permainan sudah dimulai. Aku dan Nofi terus berteriak dengan menyebut nama Rio. Mungkin tingkah kami sedikit kemayu tapi kan tidak masalah. Toh hanya untuk menyemangati saja. Terlihat Rio dengan fasih terus mencetak point. Pada menit menit awal tim Rio masih unggul 15 point. Tetapi, ketika menit pertengahan ada insiden tragis yang membuat jantungku hampir berhenti. Ketika Rio membawa bola dan melakukan dribel terlihat ada Jarod yang berusaha menghalangi langkah Rio. Dan ternyata kaki Rio terjegal oleh kali Jarod sehingga membuat Rio jatuh tersungkur. Tanpa diketahui, Zog yang lari dari belakang Rio tidak bisa menghentikan langkahnya. Otomatis tulang belakang Rio terinjak Zog. Terdengar Rio berteriak dan bersama teriakannya air keluar dari mulut Rio.
            Aku langsung lari ke tempat Rio dan memeluknya. Terlihat darah mengucur dari hidung juga jidatnya dan nafasnya terputus putus. Isaknya semakin keras sehingga membuat semua panik. Terdengar suara Pak Toni (wasit) menelepon ambulance. Air mataku menetes membasahi pipi Rio. Terdengar dari suara Rio yang amat kurang jelas “ Rei,ku harap ini air mata terakhirmu.” Setelah ambulan datang, Rio dianggkat dan di bawa ke ambulance. Dengan gesit aku mengambil tas Rio yang ada di barisan depan penonton dan ikut mobil ambulance itu. Di perjalanan, aku terus menangis dan Rio sempat mengusap air mataku dengan susah payah yang kemudian tanganya terjatuh dari pipiku dan terbujur kaku. Ya, dia telah tiada. Tim medis telah berusaha menolongnya tapi takdir berkata lain. Selamat tinggal Rio.
            Selesai mengikuti acara penguburan Rio, Zog menghampiriku dengan wajah yang kusut.

            “Rei, sorry ya gara gara aku semua jadi berantakan”
            “Ini bukan salahmu, tapi ini takdir yang harus dijalani”
            “Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu bahkan sejak dulu aku ingin mengatakannya”
            “Apa?”
            “Sebenarnya Rio suka kamu dari dulu. Dia juga tahu kalau yang menempelkan stiker di motornya itu kamu. Karena sebenarnya waktu itu aku melihatmu dan aku memberitahukan pada Rio. O ya, sebenarnya waktu aku menembak kamu, Rio terlebih dahulu merencanakan ingin menembakmu. Tapi aku sedang marah sama Rio. Jadi aku menggagalkan rencana itu. Sorry ya Rei”
            “Ya sudahlah semua telah berlalu Zog”
            Aku berjanji untuk Rio. Bahwa aku akan berusaha tegar menjalani hidup tanpa menitihkan air mata, aku akan masih bisa hidup walau salah satu orang yang aku sayangi telah tiada. Karena itu adalah bagian rencana Tuhan. Dan kini aku telah melanjutkan studyku di Australia untuk menyongsong hari depan yang aku yakin pasti akan lebih indah. 

Followers

Search This Blog

Translate