Follow Us @soratemplates

Minggu, 06 Oktober 2013

cerpen 4

00.48 0 Comments
SELINGAN DI HARI LIBUR



           Disuatu sore yang tenang, aku duduk termangu di teras menunggu terbenamnya matahari. Mendengar detik jam yang berdetak seperti jantungku. Di situ aku mulai jenuh dan hendak menuju ruang tengah untuk menonton tv. Tiba tiba ketika aku mulai beranjak dari tempat dudukku, dengan sekejap semuanya menjadi kelam. Yeah, satu kata untuk situasi ini “mati listrik”.

                “Bu, lampu emergensinya tolong dibawa ke depan saja,” teriakku.
                “Di dalam saja, Ayah dan Adik sudah berkumpul di ruang tengah,” balas Ibu.
                “Baiklah”

                Hal yang menyebalkan adalah ketika kita harus berjalan dalam kegelapan tanpa seorang teman. Dan aku harus melakukan itu saat ini. Ketika aku meraba raba dinding, tiba tiba aku tersandung dan terjatuh. Seketika itu anjingku menggonggong. Aku terkesiap ternyata aku menindihi anjingku. Untungnya saja, ayahku datang dan menggandengku untuk berkumpul di ruang tengah. Di situ kami berbincang bincang dengan hangat. Dan ditemani lampu emergency, bayangan kami terlihat seperti film yang di LCD. Dari situ aku mempunyai ide untuk mengajak teman teman lamaku menonton film di bioskop langganan kami. Kebetulan besuk sudah mulai libur semester.
                Keesokan paginya setelah aku bangun dari tidur, aku melihat jam bekerku masih menunjukan pukul 05.00 WIB. Selagi masih ingat, aku sms Nesti untuk berjanjian pergi ke bioskop dan menyuruhnya menyebarkan sms itu ke teman teman yang lain. Karena hari libur, aku melanjutkan tidurku yang sempat terpotong itu. Baru sekitar 5 menit, mimpiku harus terpotong lagi gara gara hp-ku bordering. Ya, itu Nesti yang membalas sms ku.

To : Nesti
Nes, ayo nanti kta ke bioskop langganan kta. Ada fil baru.
Sebarkan ke teman2 yg lain.

                                                                Ok. Ak ajak Agustin, Evi, Findo,Deri. Tp, nanti stlh ak foto
                                                                bku tahunan. Jm 11 aj.

                Di hari libur seperti ini, aku selalu membantu Ibu menyapu, mencuci piring, dan memasak. Setelah selesai, aku akan meluncur ke rumah kakaek nenekku. Di sana aku juga membantu menyapu dan memasak. Seperti dikejar kejar waktu, aku harus mengerjakan banyak hal dengan waktu singkat.
                Jarum jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. Aku sudah siap meniju rumah Nesti. Kukira setelah 30 menit lebih siang dari waktu janjian Nesti sudah selesai dengan acaranya. Tapi, ternyata belum pulang pulang juga. Setengah jam kemudian ia baru datang dan disusul dengan teman teman lainnya. Rencana awal aku akan berboncengan dengan Nesti, kemudian Agustin dengan Findo, dan Evi dengan Deri. Dan ternyata, Agustin tidak diperbolehkan dengan orang tuanya berboncengan dengan anak laki laki.
               
                “Eh, tunggu. Aku berboncengan sama Nesti lho,” kata Agustin.
                “Eit! Kan aku yang harusnya berboncengan dengan Nesti. Emang kenapa ga’ gonceng Findo aja?,” selaku.

                “Ah, aku ga’ boleh sama Ibuku,” bela Agustin.
                “wkwkwkwkwk,” kami semua tertawa.

                Akhirnya, akulah yang harus berboncengan dengan Findo. Sampai di bioskop, kami harus mengantre panjang seperti orang antre BLT. Kami merasa jenuh setelah berjam jam mengantre. Dan setelah mendapatkan tiketnya, kami pun harus menunggu 2.30 jam lagi. Sungguh menyebalkanhari sudah mulai malam kami baru dapat menonton filmnya. Kami mendapat tempat duduk nomor 3 sebelah kiri. Setelah kami duduk, kenapa kurang satu tempat duduknya? Dan ada segerombol orang akan mendekati tempat kami sehingga kami saling bepandangan. Ternyata setelah dilihat lagi, kami mendapat tempat duduk nomor 2. Rasanya malu sekali ketika banyak mata yang memandangi kami dengan aneh. Rasa itu sudah mulai hilang setelah melihat cahaya dari LCD. Ya, kami begitu menikmati filmnya. Tertawa bersama, menangis bersama …. begitu menyenangkan.
                Serasa terbayar semua kelelahanku hari ini. Dengan menonton film itu, aku mempunyai semangat baru. Namun, semuanya hancur lebuh berantakan karena sesampai di parkiran motorku sulit dikeluarkan. Setelah dapat keluar, ternyata hari sudah malam dan disertai kejadian hujan, kami pulang dengan muka merengut karena tidak membawa mantel. Sesampai di rumah, Ibuku marah marah karena aku pulang terlalu malam. Dan sebelumnya, aku belum pernah pulang malam. untungnya ayah belum pulang kerja. Jadi, aku masih bisa meredam amarah Ibu dengan gorengan yang masih hangat. Bagiku, semua kejadian pada hari ini mengesankan.


Followers

Search This Blog

Translate