Clara Marwita
05.29
0 Comments
Senin, 21 Oktober 2013
Minggu, 06 Oktober 2013
cerpen 4
Clara Marwita
00.48
0 Comments
SELINGAN DI HARI LIBUR
Disuatu sore yang tenang, aku duduk
termangu di teras menunggu terbenamnya matahari. Mendengar detik jam yang
berdetak seperti jantungku. Di situ aku mulai jenuh dan hendak menuju ruang
tengah untuk menonton tv. Tiba tiba ketika aku mulai beranjak dari tempat
dudukku, dengan sekejap semuanya menjadi kelam. Yeah, satu kata untuk situasi
ini “mati listrik”.
“Bu,
lampu emergensinya tolong dibawa ke depan saja,” teriakku.
“Di
dalam saja, Ayah dan Adik sudah berkumpul di ruang tengah,” balas Ibu.
“Baiklah”
Hal
yang menyebalkan adalah ketika kita harus berjalan dalam kegelapan tanpa
seorang teman. Dan aku harus melakukan itu saat ini. Ketika aku meraba raba
dinding, tiba tiba aku tersandung dan terjatuh. Seketika itu anjingku menggonggong.
Aku terkesiap ternyata aku menindihi anjingku. Untungnya saja, ayahku datang
dan menggandengku untuk berkumpul di ruang tengah. Di situ kami berbincang
bincang dengan hangat. Dan ditemani lampu emergency, bayangan kami terlihat
seperti film yang di LCD. Dari situ aku mempunyai ide untuk mengajak teman
teman lamaku menonton film di bioskop langganan kami. Kebetulan besuk sudah
mulai libur semester.
Keesokan
paginya setelah aku bangun dari tidur, aku melihat jam bekerku masih menunjukan
pukul 05.00 WIB. Selagi masih ingat, aku sms Nesti untuk berjanjian pergi ke
bioskop dan menyuruhnya menyebarkan sms itu ke teman teman yang lain. Karena hari
libur, aku melanjutkan tidurku yang sempat terpotong itu. Baru sekitar 5 menit,
mimpiku harus terpotong lagi gara gara hp-ku bordering. Ya, itu Nesti yang
membalas sms ku.
To : Nesti
Nes, ayo nanti kta ke bioskop
langganan kta. Ada fil baru.
Sebarkan ke teman2 yg lain.
Ok.
Ak ajak Agustin, Evi, Findo,Deri. Tp, nanti stlh ak foto
bku
tahunan. Jm 11 aj.
Di
hari libur seperti ini, aku selalu membantu Ibu menyapu, mencuci piring, dan
memasak. Setelah selesai, aku akan meluncur ke rumah kakaek nenekku. Di sana
aku juga membantu menyapu dan memasak. Seperti dikejar kejar waktu, aku harus
mengerjakan banyak hal dengan waktu singkat.
Jarum
jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. Aku sudah siap meniju rumah Nesti. Kukira
setelah 30 menit lebih siang dari waktu janjian Nesti sudah selesai dengan
acaranya. Tapi, ternyata belum pulang pulang juga. Setengah jam kemudian ia
baru datang dan disusul dengan teman teman lainnya. Rencana awal aku akan
berboncengan dengan Nesti, kemudian Agustin dengan Findo, dan Evi dengan Deri. Dan
ternyata, Agustin tidak diperbolehkan dengan orang tuanya berboncengan dengan
anak laki laki.
“Eh,
tunggu. Aku berboncengan sama Nesti lho,” kata Agustin.
“Eit!
Kan aku yang harusnya berboncengan dengan Nesti. Emang kenapa ga’ gonceng Findo
aja?,” selaku.
“Ah,
aku ga’ boleh sama Ibuku,” bela Agustin.
“wkwkwkwkwk,”
kami semua tertawa.
Akhirnya,
akulah yang harus berboncengan dengan Findo. Sampai di bioskop, kami harus
mengantre panjang seperti orang antre BLT. Kami merasa jenuh setelah berjam jam
mengantre. Dan setelah mendapatkan tiketnya, kami pun harus menunggu 2.30 jam
lagi. Sungguh menyebalkanhari sudah mulai malam kami baru dapat menonton
filmnya. Kami mendapat tempat duduk nomor 3 sebelah kiri. Setelah kami duduk,
kenapa kurang satu tempat duduknya? Dan ada segerombol orang akan mendekati
tempat kami sehingga kami saling bepandangan. Ternyata setelah dilihat lagi,
kami mendapat tempat duduk nomor 2. Rasanya malu sekali ketika banyak mata yang
memandangi kami dengan aneh. Rasa itu sudah mulai hilang setelah melihat cahaya
dari LCD. Ya, kami begitu menikmati filmnya. Tertawa bersama, menangis bersama ….
begitu menyenangkan.
Serasa
terbayar semua kelelahanku hari ini. Dengan menonton film itu, aku mempunyai
semangat baru. Namun, semuanya hancur lebuh berantakan karena sesampai di
parkiran motorku sulit dikeluarkan. Setelah dapat keluar, ternyata hari sudah
malam dan disertai kejadian hujan, kami pulang dengan muka merengut karena
tidak membawa mantel. Sesampai di rumah, Ibuku marah marah karena aku pulang
terlalu malam. Dan sebelumnya, aku belum pernah pulang malam. untungnya ayah
belum pulang kerja. Jadi, aku masih bisa meredam amarah Ibu dengan gorengan
yang masih hangat. Bagiku, semua kejadian pada hari ini mengesankan.
