Follow Us @soratemplates

Jumat, 01 Mei 2020

05.05 0 Comments

Salah jurusan?

Hello everyone, bukan everything ya hihi. Gimana kuliah onlinenya? Apakah ada yang sidang online? Haha semangat ya semua jangan bilang nilai jelek karena salah jurusan.

Berbicara tentang jurusan kuliah, apakah beberapa dari kalian memang merasa salah jurusan? Aku harap tidak. Kalaupun ada, kalian hanya perlu berusaha sedikit dengan menjadi rajin. Aku juga pernah merasakan ketidak nyamanan ketika memasuki perkuliahan. Bisa dibilang aku tidak terlalu menyukai jurusan yang telah aku ambil saat kuliah. Semua berawal ketika kelas 12 SMA, aku harus mencari cadangan jurusan di universitas swasta. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi jika aku tidak diterima SNMPTN. Ketika itu, berarti tahun 2015, aku sangat mendambakan menjadi seorang perawat. Aku sudah beberapa kali mendaftar di universitas swasta, sayangnya ada satu syarat yang membuatku tidak diterima, yakni tinggi badan. Tinggiku kurang sekitar 2 cm. Kemudian aku melakukan terapi tinggi badan beberapa minggu, yang mana seminggu dilakukan 3x terapi. Memang hasilnya sangat terlihat ketika selesai terapi. Naasnya, sehari kemudian tinggiku kembali seperti semula. Sedih bukan? Ohiya aku juga tertarik dengan bidang sastra Indonesia juga seni lukis. Sempat pengen masuk ISI, tapi aku sadar sih kemampuanku. Cukup menjadi hobi saja. Orangtuaku juga tidak setuju kalau misal aku mendaftar ke ISI maupun kuliah di jurusan sastra. Mereka menyarankan untuk mendaftar ke Sanata Dharma Yk jurusan PGSD . Tentu saja aku tidak berani menolak. Untuk itu, aku mendaftar jurusan pendidikan bahasa Inggris sebagai pilihan pertama, karena aku pikir tidak akan diterima. Lalu, aku memilih jurusan pendidikan biologi untuk pilihan ke 2 karena aku sangat suka belajar anatomi tubuh- hehe semua mahkluk hidup yaa. Jurusan PGSD aku letakkan sebagai pilihan ketiga karena memang tidak tertarik. Pada akhirnya aku diterima di jurusan PBI Universitas Sanata Dharma Yk karena SNMPTN pun sudah gagal. Aku diterima sebelum UN- berasa sombong dan paling keren. Hal tersebut membuatku tidak semangat ujian lagi. Ketika UN pun aku tidak belajar. Akhirnya nilai UN-ku terendah nomor 2 haha miris. Ketika aku merasa menjadi orang yang lumayan pintar (anak IPA) dan mendapat nilai UN sangatlah rendah, rasanya malu pada waktu pengumuman. Ketika aku ditanya kenapa ga belajar? Aku hanya menjawab karena nilai UN tidak berpengaruh. Singkat cerita aku masuk ke PBI walaupun sempat ditolak oleh orangtua. Disitulah aku merasa depresi. Pertama, ketika aku harus kos sendiri dengan uang yang minim (karena aku ga berani minta juga ga berani kerja, apalagi ngutang). Kedua, semua mata kuliah menggunakan bahasa Inggris yang tidak begitu aku pahami. Membaca saja susah apalagi berbicara. Ipk semester 1 sekitar 2.80, dimana itu termasuk rendah sehingga aku tidak dapat mengambil sks maksimal. Semester awal aku sering mual mual setiap pagi dan menangis tanpa sebab setiap malam. Juga, aku menjadi introvert, sangat berkebalikan dengan sifat asliku. Semester 1 aku sudah mengikuti ukm Inkai. Di situ aku bisa menyegarkan pikiran. Sepulangnya, aku bisa belajar materi yang aku rasa sulit. Semester 2, aku masih belum bisa mendapatkan ipk 3.00. Aku mencoba belajar dengan strategi baru, yaitu dengan pergi ke kedai kopi. Tentunya sendirian karena aku masih belum bisa menyesuaikan. Sebenarnya banyak teman yang akrab denganku dari awal awal kuliah, tapi akulah yang menutup diri. Sampai saat itu ada beberapa teman yang benar benar tulus menarikku untuk bersosial dan membantuku dalam perkuliahan. Akhirnya aku mulai mendaftar kepanitiaan untuk pertama kalinya dan itu sangat mengubah diriku. Semester 3 aku sudah bisa bersosial, mempunyai gang, penampilan yang berbeda, dan mulai bisa mengikuti matkul. Sampai semester 4, aku merasa kemampuanku belum terlalu berkembang, masih merasa kesulitan dsb. Sampai sampai aku meminta pindah jurusan kepada orang tuaku. Tentu saja temanku menyemangatiku dan membantuku, mereka orang orang yang baik. Saat itu aku sering sekali melihat video bahasa Inggris, menulis diary dengan bahasa Inggris, bangun tengah malam untuk belajar grammar dsb sampai aku merasa sudah bisa mengikuti matkul. Semester berikut berikutnya, aku sudah kuat untuk menghadapinya tanpa rasa mual. Walaupun kadang ada kegagalan atau kekecewaan, sampai aku harus mengulang beberapa matkul dengan adek tingkat. Sempat dikira maba, digoda maba sampai dicuekin pun pernah. Akhirnya Ipk sudah stabil baik. Dari terkena gangguan psikologis sampai menjadi bar bar, puji Tuhan aku bisa lulus. Aku lulus di semester 9. Semuanya baik baik saja tentunya dengan bantuan teman temanku. Kalian yang merasa salah jurusan, sebenarnya kalian tidak salah. Kalian perlu usaha karena sebenarnya banyak orang orang yang membantu kalian. Aku percaya bahwa lebih banyak orang baik daripada orang jahat di dunia ini. Semangat semuanyaa :)

Followers

Search This Blog

Translate