Follow Us @soratemplates

Minggu, 07 Desember 2014

MERENGUT SEPERTI MARMUT

21.36 0 Comments

MERENGUT SEPERTI MARMUT

Suara dentuman nampak  begitu jelas ditelinga. Dentuman? Ya! Suara air terjun berdentum menghantam batu-batu besar yang berada di bawahnya. Kemudian air itu mengalir kecil ke sungai bercadas. Air itu terasa segar menggelitik jemari kaki. Begitu terasa…dan benar-benar terasa. Apa? Benar-benar terasa? Susi terbangun, matanya yang merah terbelalak menuju kakinya. Ia melihat air hujan yang jatuh dari atas genting menetes ke sela-sela jemarinya dan mengalih ke Kasur empuknya. Waktu masih menunjukan pukul 01.00 WIB. Susi kecil berlari ke belakang dan mendapati sebuah panci. Ia mengambil panci itu kemudian ditempatkannya di bagian air itu menetes. Akhirnya, Susi pun tidur kembali.
            Pagi yang cerah, walaupun tadi malam sempat hujan. Susi sudah berdandan cantik menggunakan seragam batiknya. Kini ia sudah siap pergi sekolah diantar oleh Ayah handanya. Tak lupa, Susi berpamitan dengan Bunda tercinta. Hari ini Susi begitu ceria, ia selalu bersenandung di perjalanan. Bahkan sesekali ia menirukan siulan seekor burung walaupun cenderung mirip orang meniup balon. Tiba-tiba Susi terdiam, ia baru saja ingat hari ini ada kelas berenang. Tangannya yang dingin menepuk-nepuk pundak Ayahnya. Seketika, ayahnya memperlambat laju motor yang dinaiki untuk berhenti di pinggir jalan.
            “Ada apa nak?”
            “Baju renangku ketinggalan yah. Ayo pulang,”rengek Susi.
            “Apa ketinggalan? Padahal sudah hampir sampai”
            Susi yang terus merengek, membuat Ayahnya menuruti permintaannya. Sesampai di rumah, bocah kelas 4 SD itu berlari mengobrak-abrik almarinya. Bundanya datang dan bertanya kepada Susi.
            “Apa yang tertinggal nak, kok pulang lagi?”
            “Baju renangku dimana ya?”
“Loh baju renangnya, sudah bunda masukkan ke dalam tas kamu. Katanya jika hari Sabtu ada kelas renang, jadi Bunda teliti ulang tas Susi”
            “(bertetiak sekeras mungkin)”
            Ketika sampai di sekolah, ternyata Susi telah terlambat. Ibu Kepala sekolah menghadang Susi yang tengah berlari menuju kelas. Muka Susi yang merah berubah menjadi pucat pasi. Akhirnya, Susi disuruh menyanyikan lagu Indonesia Raya. Susi pun menyanyikannya dengan suara gemetar hingga ia harus mengulang kembali. Susi masuk ke dalam  kelasnya yang gaduh. Ia ditertawakan oleh teman-temannya karena ia telat hampir 30 menit. Susi yang biasanya ceria berubah menjadi lebih pendiam juga pemarah. Selama pelajaran berlangsung, Susi terus diam. Ia tidak menghiraukan temannya yang telah meminta maaf kepadanya. Hingga jam terakhir tiba, yaitu kelas berenang. Pak Maman telah memanaskan mesin bus tua yang terparkir di depan sekolah. Bau dari kepulan asap bus yang memabukkan itu telah  tercium oleh para siswa. Dengan sigapnya murid-murid kelas 4 SD Ujung Pandang itu berlarian ke dalam bus. Mereka berebut tempat duduk kecuali Susi Rohma Runi. Ia sibuk memainkan kacamata renangnya kemudian duduk di bawah pintu bus. Sesekali gigi-gigi kecil itu menggigiti bibir merahnya.
            “Susi, ayo nak masuk ke dalam bus,” ajak Ibu Uhma.
            “(hanya menatap)”
            “Kamu kenapa? Ayo masuk, duduk sama Ibu,” bujuk Ibu Uhma.
Akhirnya Susi mau menggerakkan kakinya untuk masuk ke dalam bus. Sementara, Ibu Uhma mengabsen siswa siswi kelas 4 tersebut. Setelah itu, Ibu Uhma segera menghampiri Susi yang duduk sendirian di samping Pak Maman.
            Ibu Uhma adalah seorang Guru renang di SD Ujung Pandang. Ia masih muda dan cantik pula. Juga, ia selalu telaten mengajari muridnya. Oleh karena itu, banyak murid yang suka bila diajar oleh Ibu Uhma. Ternyata kesabaran Ibu Uhma telah banyak membuahkan hasil. Tak jarang murid-muridnya mendapatkan kejuaraan renang.
            Susi kecil sepertinya sangat senang melihat pemandangan di luar jendela. Ia terus terusan melototi pepohoan yang hijau nan rimbun. Kemudian bola matanya yang lebar itu tertuju ke sebuah sungai berair jernih yang mengalir dari  celah-celah tebing. Sorot matanya menandakan ia sangat ingin berada di tempat itu. Bus masih tetap berjalan, sungai yang indah itu kini tertutupi oleh rimbunan beribu pepohonan. Tak lama, rombongan telah sampai ke objek wisata kolam renang dan air terjun Muara Indah. Ibu Uhma memberi komando terhadap muridnya.
            “Siapa yang merasa mual atau tidak enak badan?”
            “Tidak ada,” jawab murid-murid serentak.
“Hari ini special, karena kita mengunjungi kolam renang Muara Lembah sambil berekreasi. Di sini terdapat taman bermain dan air terjun. Lokasi ini sangat luas jadi, jangan sampai ada yang hilang”
            “Iya Bu,” jawab murid-murid serentak.
            “Bagus. Sekarang mari ikuti Ibu ke penitipan tas dan barang”
            Kesejukan udaranya membuat Susi bernafas lega. Tersirat sedikit senyum di bibir kecilnya yang merah itu. Terlihat semua hal di sini, memberi warna bagi Susi. Salah satunya adalah Evaro. Anak yang begitu rapi dari kelas 4B itu telah menarik hati susi  tuk terus memperhatikannya. Mungkin anak seusia Susi belum mengerti apa itu cinta tapi, rasa ketertarikan itu muncul dengan sendirinya. Tiba-tiba Evaro melihat ke arah Susi yang sedang memperhatikannya. Susi pun berteriak dan cepat berlari menuju rombongannya. Rombongan anak laki-laki itu menertawakan Susi yang telah bertingkah aneh.
            Semua anak perempuan telah menanggalkan pakaian seragamnya dan memakai pakaian renang. Mereka siap berenang bersama Ibu Uhma di kolam renang putri. Sedangkan anak laki-laki bersama Bapak Candra di kolam renang putra. Untuk melatih otot-otot agar tidak kram saat berenang, Ibu Uhma dan Bapak Candra mengajak murid-muridnya untuk senam terlebih dahulu. Disaat akan memutar musik, Ibu Uhma lupa membawa CD-nya. Akhirnya, mereka senam tidak menggunakan musik. Ditengah senam yang membosankan itu, Susi mendengar suara gemericik air dari sebelah timur. Suara itu semakin jelas ketika Susi dan rombongan hendak memasuki kolam renang putri. Suara itu masih terdengar bersumber dari timur. Susi yang berhenti berjalan, dipanggil Ibu Uhmi supaya segera menyerahkan tiketnya. Setelah masuk ke kolam renang, semua siswa tercengangah melihat kolam yang begitu luas dan dilengkapi banyak permainan. Walaupun harus berbagi dengan banyak orang, mereka begitu semangat untuk berenang di kolam biru itu. Kolam itu sangat ramai kecuali di sebelah selatan sendiri. Tidak ada orang yang berenang disana. Kemungkinan tempat itu sudah disewa oleh Ibu Uhma untuk berenang anak anak kelas 4 SD itu. Ibu Uhma mengapsen kembali muridnya dan memberi peenjelasan.    
“Anak-anak, kita berenang di kolam paling selatan yang kedalamannya satu meter. Karena kita akan berlatih berenang 0,50 meter lebih tinggi dari pada kemarin”
“Haaa………(ribut sendiri)”
“Jangan pesimis dulu, jika kita yakin kita pasti bisa”
“(Mengangguk)”
Semua siswi mencoba berenang kecuali Susi. Sepertinya Ia begitu ketakutan sampai tidak berani menyentuh air. Temannya memaksa Susi agar berani mencoba tetapi, Susi malah keluar dari kolam renang. Ia berlari mengikuti suara aliran air itu kembali. Susi berlari menerobos taman yang begitu banyak pohon. Berlari dan terus berlari walaupun kakinya terasa perih terkena kerikil kerikil kecil. Dan semakin jauh Susi berlari kakinya semakin sakit terkena batu batu yang besar. Tatkala Ia tersandung batu yang lebih besar dan tersungkur. Ketika mencoba bangkit, rasa sakit di kakinya terasa tersembuhkan. Karena Susi melihat air terjun yang begitu indah seperti di mimpinya. Ia tersenyum lebar, kemudian berjalan pincang mendekati air terjun itu. Susi kecil tak menghiraukan banyaknya orang yang ada di sana. Masa bodoh dengan gerombolan orang yang sedang bercengkrama atau yang sedang berpacaran. Kakinya yang kecil berjalan menuju air terjun. Masih dengan luka yang sama di kakinya. Tapi ia tetap menghiraukan rasa sakitnya yang terkena air. Di bawah air terjun itu Susi membasahi tubuhnya bersama sama dengan banyak orang. Tak sengaja Ia melihat raut wajah yang taka sing lagi baginya. Ia berada di samping Susi. Sosok itu adalah Evaro. Susi dipertemukan lagi dengannya tapi, Susi selalu takut jika dekat dengannya. Ada rasa yang janggal jika Ia melihat Evaro. Kaki susi yang mulai kaku itu beranajak menuju sungai yang mengalir kecil. Sebenarnya tidak jauh dari air terjun itu tapi, kali ini tidak terdapat satu orang pun di sini kecuali Susi seorang. Masih dengan aliran yang sama dengan air terjun tadi. Susi dengan senangnya bermain air segar itu. Semakin lama ia semakin jauh dari keramaian. Ia terlena dengan air yang bisa membuat marahnya hilang. Susi tak sadar, air itu semakin deras membawa susi menuju celah yang dalam. Telapak kaki Susi yang mulai mati terkagetkan oleh celah yang dalam itu. Susi mencoba berenang, namun kakinya terlanjur kaku menerpa ketakutan. Mungkin beberapa detik lagi Susi akan tenggelam. Keajaiban pun datang menolong Susi lewat sosok yang tinggi dan keriput. Seorang kakek tua telah menolong Susi dari maut. Melihat sosok itu Susi menangis dan ingin lepas dari genggamannya. Susi takut oleh belatinya yang tajam. Semakin Susi meronta-ronta, semakin kakek itu kuat menyengkeram Susi. Badan Susi serasa lemas dan tak berdaya. Tiba-tiba Susi pun pingsan.
 Mata cantik itu telah terbuka lebar. Susi bingung ia berada dimana. Cahaya dari sela-sela kerai membuat matanya silau. Badannya terbujur kaku di kasur mati itu. Ia bangun mencoba mencari pintu keluar. Tapi ia dikejutkan oleh sosok kakek tadi. Kakek itu tersenyum dan memberikan air putih kepadanya. Susi pun meminumnya karena ia sangat haus. Kerongkongannya menjadi segar kembali dan Susi membalas senyuman kakek itu.
“Sudah enak badannya?”
“Sudah Kek, terimakasihj telah menolongku”
“Iya sama-sama.”
“ Kek  saya ingin pulang”
“Oh iya, Kakek akan mengantarmu di penitipan barang karena guru dan teman-teman sudah menunggu”
“Kok Kakek bisa tahu?”
“Kakek tadi membeahwa teman-temannyari pengumuman orang hilang”
“Oh,terimakasih sekali lagi Kek. Nama kakek siapa?”
“Nama Kakek Urdo. Kakek perawat tempat ini. Sudah ayo Kakek antar”
Sesampainya di tempat penitipan barang, Susi disambut oleh Ibu Uhma dan pak Candra. Yang paling mengagetkan adalah teman teman susi langsung memeluk Susi yang sempat hilang itu. Sepertinya Susi sadar bahwa teman-temannya sangat menyayangi Susi. Susi berjanji tidak akan bersikap seperti tadi. Sesampai di rumah ia sadar bahwa handuk kesayangannya telah tertinggal. Susi pun menangis, kemudian orang tuanya memarahinya. Karena orang tua Susi tidak suka jika Susi jadi anak yang cengeng, maka jika susi marah orang tuanya akan berkata “Susi merengut seperti marmut”. Kemudian Susi akan berhenti menangis.  Saat ini Susi masih kecil dan menyebalkan tapi kelak Ia akan menjadi orang hebat jika ia berani dan bertanggung jawab.




UNSUR INTRINSIK

Tema   : Ketidak beruntungan Susi dalam sehari
Latar    : Kamar Susi, rumah Susi, pingir jalan, sekolah, wisata kolam renang dan air                terjun ,
Suasana : senang, sedih, tegang, membosankan
Alur     : Maju
Sudut pandang               : Orang ketiga
Perwatakan        : Susi = menyebalkan, pemarah, manja
                              Ayah dan Ibu = baik, telaten, tegas
                              Kakek Urdo   = suka menolong, baik
                              Ibu Uhma       = telaten, sabar, baik hati
Amanat              : Untuk mencapai keinginan, harus butuh waktu dan pengorbanan.









Followers

Search This Blog

Translate