MERENGUT SEPERTI MARMUT
Suara
dentuman nampak begitu jelas ditelinga.
Dentuman? Ya! Suara air terjun berdentum menghantam batu-batu besar yang berada
di bawahnya. Kemudian air itu mengalir kecil ke sungai bercadas. Air itu terasa
segar menggelitik jemari kaki. Begitu terasa…dan benar-benar terasa. Apa?
Benar-benar terasa? Susi terbangun, matanya yang merah terbelalak menuju
kakinya. Ia melihat air hujan yang jatuh dari atas genting menetes ke sela-sela
jemarinya dan mengalih ke Kasur empuknya. Waktu masih menunjukan pukul 01.00
WIB. Susi kecil berlari ke belakang dan mendapati sebuah panci. Ia mengambil panci
itu kemudian ditempatkannya di bagian air itu menetes. Akhirnya, Susi pun tidur
kembali.
Pagi yang cerah, walaupun tadi malam sempat hujan. Susi
sudah berdandan cantik menggunakan seragam batiknya. Kini ia sudah siap pergi
sekolah diantar oleh Ayah handanya. Tak lupa, Susi berpamitan dengan Bunda
tercinta. Hari ini Susi begitu ceria, ia selalu bersenandung di perjalanan.
Bahkan sesekali ia menirukan siulan seekor burung walaupun cenderung mirip
orang meniup balon. Tiba-tiba Susi terdiam, ia baru saja ingat hari ini ada
kelas berenang. Tangannya yang dingin menepuk-nepuk pundak Ayahnya. Seketika,
ayahnya memperlambat laju motor yang dinaiki untuk berhenti di pinggir jalan.
“Ada apa nak?”
“Baju renangku ketinggalan yah. Ayo pulang,”rengek Susi.
“Apa ketinggalan? Padahal sudah hampir sampai”
Susi yang terus merengek, membuat Ayahnya menuruti
permintaannya. Sesampai di rumah, bocah kelas 4 SD itu berlari mengobrak-abrik
almarinya. Bundanya datang dan bertanya kepada Susi.
“Apa yang tertinggal nak, kok pulang lagi?”
“Baju renangku dimana ya?”
“Loh baju renangnya,
sudah bunda masukkan ke dalam tas kamu. Katanya jika hari Sabtu ada kelas
renang, jadi Bunda teliti ulang tas Susi”
“(bertetiak sekeras mungkin)”
Ketika sampai di sekolah, ternyata Susi telah terlambat. Ibu
Kepala sekolah menghadang Susi yang tengah berlari menuju kelas. Muka Susi yang
merah berubah menjadi pucat pasi. Akhirnya, Susi disuruh menyanyikan lagu
Indonesia Raya. Susi pun menyanyikannya dengan suara gemetar hingga ia harus
mengulang kembali. Susi masuk ke dalam kelasnya yang gaduh. Ia ditertawakan oleh
teman-temannya karena ia telat hampir 30 menit. Susi yang biasanya ceria
berubah menjadi lebih pendiam juga pemarah. Selama pelajaran berlangsung, Susi
terus diam. Ia tidak menghiraukan temannya yang telah meminta maaf kepadanya.
Hingga jam terakhir tiba, yaitu kelas berenang. Pak Maman telah memanaskan
mesin bus tua yang terparkir di depan sekolah. Bau dari kepulan asap bus yang
memabukkan itu telah tercium oleh para
siswa. Dengan sigapnya murid-murid kelas 4 SD Ujung Pandang itu berlarian ke
dalam bus. Mereka berebut tempat duduk kecuali Susi Rohma Runi. Ia sibuk
memainkan kacamata renangnya kemudian duduk di bawah pintu bus. Sesekali
gigi-gigi kecil itu menggigiti bibir merahnya.
“Susi, ayo nak masuk ke dalam bus,” ajak Ibu Uhma.
“(hanya menatap)”
“Kamu kenapa? Ayo masuk, duduk sama Ibu,” bujuk Ibu Uhma.
Akhirnya Susi mau
menggerakkan kakinya untuk masuk ke dalam bus. Sementara, Ibu Uhma mengabsen
siswa siswi kelas 4 tersebut. Setelah itu, Ibu Uhma segera menghampiri Susi
yang duduk sendirian di samping Pak Maman.
Ibu Uhma adalah seorang Guru renang di SD Ujung Pandang.
Ia masih muda dan cantik pula. Juga, ia selalu telaten mengajari muridnya. Oleh
karena itu, banyak murid yang suka bila diajar oleh Ibu Uhma. Ternyata
kesabaran Ibu Uhma telah banyak membuahkan hasil. Tak jarang murid-muridnya
mendapatkan kejuaraan renang.
Susi kecil sepertinya sangat senang melihat pemandangan
di luar jendela. Ia terus terusan melototi pepohoan yang hijau nan rimbun.
Kemudian bola matanya yang lebar itu tertuju ke sebuah sungai berair jernih
yang mengalir dari celah-celah tebing.
Sorot matanya menandakan ia sangat ingin berada di tempat itu. Bus masih tetap
berjalan, sungai yang indah itu kini tertutupi oleh rimbunan beribu pepohonan.
Tak lama, rombongan telah sampai ke objek wisata kolam renang dan air terjun
Muara Indah. Ibu Uhma memberi komando terhadap muridnya.
“Siapa yang merasa mual atau tidak enak badan?”
“Tidak ada,” jawab murid-murid serentak.
“Hari ini special, karena kita mengunjungi kolam
renang Muara Lembah sambil berekreasi. Di sini terdapat taman bermain dan air
terjun. Lokasi ini sangat luas jadi, jangan sampai ada yang hilang”
“Iya Bu,” jawab murid-murid serentak.
“Bagus. Sekarang mari ikuti Ibu ke penitipan tas dan
barang”
Kesejukan udaranya membuat Susi bernafas lega. Tersirat
sedikit senyum di bibir kecilnya yang merah itu. Terlihat semua hal di sini,
memberi warna bagi Susi. Salah satunya adalah Evaro. Anak yang begitu rapi dari
kelas 4B itu telah menarik hati susi tuk
terus memperhatikannya. Mungkin anak seusia Susi belum mengerti apa itu cinta
tapi, rasa ketertarikan itu muncul dengan sendirinya. Tiba-tiba Evaro melihat
ke arah Susi yang sedang memperhatikannya. Susi pun berteriak dan cepat berlari
menuju rombongannya. Rombongan anak laki-laki itu menertawakan Susi yang telah
bertingkah aneh.
Semua anak perempuan telah menanggalkan pakaian
seragamnya dan memakai pakaian renang. Mereka siap berenang bersama Ibu Uhma di
kolam renang putri. Sedangkan anak laki-laki bersama Bapak Candra di kolam
renang putra. Untuk melatih otot-otot agar tidak kram saat berenang, Ibu Uhma
dan Bapak Candra mengajak murid-muridnya untuk senam terlebih dahulu. Disaat
akan memutar musik, Ibu Uhma lupa membawa CD-nya. Akhirnya, mereka senam tidak
menggunakan musik. Ditengah senam yang membosankan itu, Susi mendengar suara
gemericik air dari sebelah timur. Suara itu semakin jelas ketika Susi dan
rombongan hendak memasuki kolam renang putri. Suara itu masih terdengar
bersumber dari timur. Susi yang berhenti berjalan, dipanggil Ibu Uhmi supaya
segera menyerahkan tiketnya. Setelah masuk ke kolam renang, semua siswa
tercengangah melihat kolam yang begitu luas dan dilengkapi banyak permainan.
Walaupun harus berbagi dengan banyak orang, mereka begitu semangat untuk
berenang di kolam biru itu. Kolam itu sangat ramai kecuali di sebelah selatan
sendiri. Tidak ada orang yang berenang disana. Kemungkinan tempat itu sudah
disewa oleh Ibu Uhma untuk berenang anak anak kelas 4 SD itu. Ibu Uhma
mengapsen kembali muridnya dan memberi peenjelasan.
“Anak-anak, kita
berenang di kolam paling selatan yang kedalamannya satu meter. Karena kita akan
berlatih berenang 0,50 meter lebih tinggi dari pada kemarin”
“Haaa………(ribut
sendiri)”
“Jangan
pesimis dulu, jika kita yakin kita pasti bisa”
“(Mengangguk)”
Semua
siswi mencoba berenang kecuali Susi. Sepertinya Ia begitu ketakutan sampai
tidak berani menyentuh air. Temannya memaksa Susi agar berani mencoba tetapi,
Susi malah keluar dari kolam renang. Ia berlari mengikuti suara aliran air itu
kembali. Susi berlari menerobos taman yang begitu banyak pohon. Berlari dan
terus berlari walaupun kakinya terasa perih terkena kerikil kerikil kecil. Dan
semakin jauh Susi berlari kakinya semakin sakit terkena batu batu yang besar.
Tatkala Ia tersandung batu yang lebih besar dan tersungkur. Ketika mencoba
bangkit, rasa sakit di kakinya terasa tersembuhkan. Karena Susi melihat air
terjun yang begitu indah seperti di mimpinya. Ia tersenyum lebar, kemudian
berjalan pincang mendekati air terjun itu. Susi kecil tak menghiraukan
banyaknya orang yang ada di sana. Masa bodoh dengan gerombolan orang yang
sedang bercengkrama atau yang sedang berpacaran. Kakinya yang kecil berjalan
menuju air terjun. Masih dengan luka yang sama di kakinya. Tapi ia tetap menghiraukan
rasa sakitnya yang terkena air. Di bawah air terjun itu Susi membasahi tubuhnya
bersama sama dengan banyak orang. Tak sengaja Ia melihat raut wajah yang taka
sing lagi baginya. Ia berada di samping Susi. Sosok itu adalah Evaro. Susi
dipertemukan lagi dengannya tapi, Susi selalu takut jika dekat dengannya. Ada
rasa yang janggal jika Ia melihat Evaro. Kaki susi yang mulai kaku itu
beranajak menuju sungai yang mengalir kecil. Sebenarnya tidak jauh dari air
terjun itu tapi, kali ini tidak terdapat satu orang pun di sini kecuali Susi
seorang. Masih dengan aliran yang sama dengan air terjun tadi. Susi dengan senangnya
bermain air segar itu. Semakin lama ia semakin jauh dari keramaian. Ia terlena
dengan air yang bisa membuat marahnya hilang. Susi tak sadar, air itu semakin
deras membawa susi menuju celah yang dalam. Telapak kaki Susi yang mulai mati
terkagetkan oleh celah yang dalam itu. Susi mencoba berenang, namun kakinya
terlanjur kaku menerpa ketakutan. Mungkin beberapa detik lagi Susi akan
tenggelam. Keajaiban pun datang menolong Susi lewat sosok yang tinggi dan
keriput. Seorang kakek tua telah menolong Susi dari maut. Melihat sosok itu
Susi menangis dan ingin lepas dari genggamannya. Susi takut oleh belatinya yang
tajam. Semakin Susi meronta-ronta, semakin kakek itu kuat menyengkeram Susi.
Badan Susi serasa lemas dan tak berdaya. Tiba-tiba Susi pun pingsan.
Mata cantik itu telah terbuka lebar. Susi
bingung ia berada dimana. Cahaya dari sela-sela kerai membuat matanya silau. Badannya
terbujur kaku di kasur mati itu. Ia bangun mencoba mencari pintu keluar. Tapi
ia dikejutkan oleh sosok kakek tadi. Kakek itu tersenyum dan memberikan air
putih kepadanya. Susi pun meminumnya karena ia sangat haus. Kerongkongannya
menjadi segar kembali dan Susi membalas senyuman kakek itu.
“Sudah
enak badannya?”
“Sudah
Kek, terimakasihj telah menolongku”
“Iya
sama-sama.”
“
Kek saya ingin pulang”
“Oh iya, Kakek akan
mengantarmu di penitipan barang karena guru dan teman-teman sudah menunggu”
“Kok
Kakek bisa tahu?”
“Kakek
tadi membeahwa teman-temannyari pengumuman orang hilang”
“Oh,terimakasih
sekali lagi Kek. Nama kakek siapa?”
“Nama
Kakek Urdo. Kakek perawat tempat ini. Sudah ayo Kakek antar”
Sesampainya
di tempat penitipan barang, Susi disambut oleh Ibu Uhma dan pak Candra. Yang
paling mengagetkan adalah teman teman susi langsung memeluk Susi yang sempat
hilang itu. Sepertinya Susi sadar bahwa teman-temannya sangat menyayangi Susi.
Susi berjanji tidak akan bersikap seperti tadi. Sesampai di rumah ia sadar
bahwa handuk kesayangannya telah tertinggal. Susi pun menangis, kemudian orang
tuanya memarahinya. Karena orang tua Susi tidak suka jika Susi jadi anak yang
cengeng, maka jika susi marah orang tuanya akan berkata “Susi merengut seperti
marmut”. Kemudian Susi akan berhenti menangis.
Saat ini Susi masih kecil dan menyebalkan tapi kelak Ia akan menjadi
orang hebat jika ia berani dan bertanggung jawab.
UNSUR
INTRINSIK
Tema : Ketidak beruntungan Susi dalam sehari
Latar :
Kamar Susi, rumah Susi, pingir jalan, sekolah, wisata kolam renang dan air terjun ,
Suasana : senang, sedih, tegang, membosankan
Alur : Maju
Sudut pandang : Orang ketiga
Perwatakan : Susi = menyebalkan, pemarah, manja
Ayah dan Ibu = baik, telaten, tegas
Kakek Urdo = suka menolong, baik
Ibu Uhma = telaten, sabar, baik hati
Amanat
: Untuk mencapai keinginan, harus butuh waktu dan pengorbanan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar