Follow Us @soratemplates

Sabtu, 17 Desember 2016

Cakra Cinta (chapter 1)

06.03 0 Comments
CAKRA CINTA

                Hai, nama aku Linsi. Aku orangnya alim, gak suka neko neko, dan selalu nurut sama orang tua. Temen temen sering ngatain aku kuper. Kadang aku sebel juga digituin, sampai suatu saat aku kenal sama si Indah. Dia temen satu kosku. Baru satu minggu dia menempati kamar yang tepat berada di depan kamarku. Orangnya asik dan mudah bergaul. Aku pengen berguru sama dia biar jadi anak hitz. Aku pengen ngubah hidup gue mulai dari sekarang. Hari ini aku ngobrol di kamar Indah sambil numpang nonton tv. Ngapain susah susah beli tv, jika tv tetangga masih mampu menghibur.
“In, kamu sering main keluar ya?”
“Iya. Soalnya kalo di kos terus bosen. Emang kenapa?”
“Gak papa. Kamu biasa main dimana?”
“Ya dimana aja asal bias menghibur gue”
“Kapan kapan ajak aku dong. Bolehkan ikut?”
“Haha…iya. Kamu udah pernah keluar malem?”
“Udah sih, tapi jarang. Keluarnya paling juga cuma di café sebelah.”
“Oh, tempat ngopi itu ya?”
“Iya.”
                Tring……tring…
Terdengar suara handphone Indah berdering, aku pun langsung pamit balik ke kamar kosku yang sempit. Aku menghempaskan tubuhku ke springbad warna biru yang berada di pojok ruang. Aku mencoba meregangkan otot ototku yang pegal akibat lama duduk di lantai. Sejeneak, aku teringat untuk pergi membeli kado ulang tahun untuk kaka sepupuku. Badanku serasa enggan untuk bergegas keluar. Aku mengirim pesan kepada Indah untuk menemaniku membeli kado besok siang. Sambil menunggu sms dari Indah, kuhabiskan seperempat hariku untuk tidur di kasur ini.
Hari ini memang hari yang melelahkan. Aku baru saja selesai ujian akhir dan mulai takut akan hasilnya. Aku bukan orang yang pintar, oleh karena itu aku menutupi kekuranganku dengan rajin mengerjakan tugas dan belajar. Kadang walaupun aku sudah belajar mati matian, aku mendapt nilai yang kurang memuaskan. Hal yang menyakitkan bukan?? Sebenarnya, aku juga tidak tau mengapa aku memilih jurusan ini. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana aku memanfaatkannya saja. Sebenarnya aku inggin menjadi pelukis yang bisa mengekspresikan emosi dan pikiranku menjadi sebuah karya seni. Orangtuaku menginginkan aku kuliah dijurusan yang sudah jelas pekerjaannya. Seperti menjadi guru yang akan bekerja di sekolahan. Ibu menginginkanku untuk menjadi guru SD. Tapi, aku tidak terlalu suka dengan anak kecil karena aku tidak mempunyai adik kandung ataupun sepupu. Pada akhirnya aku memilih jurusan pendidikan bahasa Inggris. Lucu memang, tapi keadaan membuatku terperangkap disitu. Jurusanku sangat bergengsi dan mahal.
Indah belum juga membalas sms dariku. Pintunya juga terkunci rapat bahkan tidak ada suara tv ataupun kipas sama sekali. Sudah dua hani ini aku tidak melihat Indah. Aku berpikir dalam benakku, apakah benar apa yang dikata orang tentang Indah?
Tok tok…
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar kosku. Ternyata orang itu adalah Kak Agnes. Ia ingin minta tolong kepadaku untuk menemaninya mencetak buku barunya dipercetakan. Kak Agnes adalah seorang penulis yang baru merintih karirnya baru baru ini. Dia sangat lembut dan asyik buat diajak bercanda. Oleh karena itu aku senang pergi dengannya. Berhubung Indah juga belum membalas smsku, aku meminta tolong kak Agnes untuk mampir ke toko pernak pernik seusai ke percetakan. Aku ingin sekalian membeli kado untuk kak Sela.
Langit mulai tampak kemerah merahan. Aku sudah mandi setelah berpanas panasan mengantar kak Agnes ke percetakan. Saat aku berjalan menuju lorong kamarku, pintu Indah tampak terbuka lebar. Sehingga cahaya lampunya yang terang menyinari rak sepatuku. Aku hendak mampir ke kamarnya dan memarahinya karena tidak membalas smsku. Tapi tubuhku enggan untuk berhenti di kamarnya, aku berlalu dan membuka pintu kamarku. Seketika itu juga Indah memanggilku.
“ Linsi”
“ Iya. Ada apa?”
 “ Sorry aku gak sempat balas smsmu. Aku sedang trip dengan gengku.”
“Oh. Gak papa, aku juga udah beli kadonya kok.”
“Hmm…sebagai gantinya aku ajak kamu main keluar sekarang.”
“ Sekarang? Gak ah aku capek.”
“ Udah ayok. Kamu aku dandanin ya”
“Apasih pake dandan segala?”
“Udah ayo sini!”
Indah menarik tanganku masuk ke kamar kosnya yang berantakan dan sedikit pengap itu. Tiba tiba dia menyopot bajuku. Kemudian mengulungkan dress yang bagus dan elegan untuk kupakai. Dan entah apa yang ia lakukan pada wajah dan rambutku dengan waktu yang lama. Akhirnya aku melihat ke kaca dan aku bisa melihat betapa cantiknya diriku.
“Wah In, kamu hebat bisa me-make over-ku menjadi cantik. Tapi, bukankah dressnya kependekan ya. ”
“ Ih, kamu mah norak. Biasa aja kali. Udah yuk pergi.”
“Eh, aku gak mau. Aku malu, aku belum pernah berdandan seperti ini.”
Bukan Indah namanya kalo tidak memaksa sampai seperti ini. Aku jadi pergi dengannya malam ini. Aku belum penah datang ke sini sebelumnya. Aku suka dengan warna yang seperti fatamorgana terlihat di pintunya. Setelah kami masuk, aku baru sadar bahwa itu diskotik. Aku sangat takut dan mengajak Indah pulang. Tapi ia terus menarik tanganku masuk ke dalam kerumunan. Mengajakku bertemu dengan teman temannya dan memperkenalkan aku. Mereka keren tapi menakutkan bagiku. Aku hanya ingin duduk dan melihat mereka berjoget tak karuan karena mabuk. Tapi aku mulai tertarik ingin mengikuti mereka berjoget. Baru beranjak dari tempat duduk, aku melihat seorang lelaki yang sepertinya mengawasiku. Aku memberanikan diri untuk menatapnya sambil siap siap menonjoknya. Setengah mati aku terperanjat, ternyata dia adalah kak Tara.
“ Astaga! Kampret!”
“ Heh, anak holy dilarang kesini. Ngapain kamu kesini hayo?”
“ Ehh…nemenin Indah, temenku. Kak, jangan bilang kakek ataupun orangtuaku ya..aku mohon,” dengan muka melas aku menatapnya.
“ Hmm..iya iya. Tapi kamu juga jangan kasih tau aku masih pacaran sama si Vio”
“ Haha… oke oke”
“ Kamu jangan kemana mana. Duduk yang manis disini  aja. Kalo lo berani ikut minum ataupun joget, gue ketekin sampai pingsan”
“ Iya iya”
Kak tara pun bergabung dengan teman temanya. Aku menunggu di sofa coklat yang terletak disudut café. Entah kenapa aku tidak melihat Indah lagi. Suasana semakin riuh, terlarut dalam euphoria. Tiba tiba ada sesosok yang memeluku erat dan seketika mencium pipiku. Aku sangat kaget, karena aku tidak mengenal laki laki yang  telah memeluk dan menciumku. Disaat aku berusaha melepaskan pelukan yang sangat erat itu, tiba tiba Kak Tara datang dan memukul laki laki itu. Akhirnya terjadilah keributan, dan kita diusir oleh bodyguard. Ka Tara marah marah gak jelas.
“Sial!! Kenapa bisa jadi begini sih?,” umpat kak Tara.
“Sebenarnya ada apa sih?,” Tanya kak Vio.
“Nanti gue ceritain. Sekarang yang penting kita pulang aja nenangin pikiran,” Ujar kak Tara.
“Lah terus aku pulang sama siapa? Temenku gak bisa dihubungi,” kataku.
“Tunggu, gue panggilin si curut,” ujar kak Tara.
Kak Tara menghampiri seseorang yang ada di dalam mobil xx dan berbicara agak kolot. Kemudian Kak Tara seperti ingin memukul orang itu. Aku pun memanggilnya untuk memperingatkan dia berbuat kasar. Akhirnya orang yang ada di dalam mobil itu keluar, dan ternyata dia adalah orang yang melecehkanku tadi. Dia melihat ke arahku dan berjalan kemari bersama Kak Tara.
“Linsi, dia sebenarnya temen gue namanya Alex. Dia yang akan mengantar lo pulang. Sorry gue gak bisa nganter lo pulang, soalnya gue pulang sama Vio pake motor.”
“Apa? Aku tidak mau”
“Please sekali ini saja. Jangan kawatir, dia tidak akan berani menyentuhmu lagi.”
Setelah aku pikir-pikir, aku memang harus pulang bersama orang kurang hajar ini karena akan lebih berbahaya jika aku menunggu taksi sendiri.
“ Oke. Aku mau, tapi aku duduk di belakang.”
Selama di perjalanan tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir kami. Suasananya sangat dingin, terlebih kami begitu canggung untuk bertatap muka. Hingga sampailah kami di depan kosku. Karena memamang sudah larut malam, suasa kos menjadi sepi dan gerbang pun sudah dikunci. Aku mencari kunci gerbang yang kuberi gantungan donat dari kain flannel di dalam tasku. Tetapi kunci itu sepertinya tidak ada dalam tas lalu kucoba merogoh kantunggku, tetap saja tidak kutemukan.
“Jangan bilang kamu lupa menaruh kunci kosmu,” kata Alex dengan muka menyebalkan.
“Ah tunggu sebentar, akan kucari lagi pasti ketemu.”
“Sudah belum?”
“Aku akan mengetuk jendela temanku dulu ya, tunggu jangan pergi dulu.”
Aku telah mengetuk ke semua jendela kamar temanku, tapi tidak satupun dari mereka yang menjawab. Mungkin karena hari libur, sebagian dari mereka menginap dirumah temannya atau pulang kerumah. Aku ingin sekali membunyikan bel kos, tapi tidak enak dengan bapak kos karena aku tidak ingin mengganggu tidurnya. Kemudian aku menelepon teman akrabku, Riri. Tetapi, dia juga tidak mengangkatnya. Berhubung aku ini orang yang kuper, jadi aku tidak punya banyak teman.  Aku pun kembali masuk ke dalam mobil dengan muka ditekuk.
“Sorry, semua temenku gak ada yang bisa dihubungi. Mungkin mereka sudah tidur. Hmm aku mau minta tolong ke kamu untuk mengantarku ke kos kak Tara,” pintaku dengan muka memelas.
“(sigh) telfon dulu dia, jangan jangan dia gak pulang ke kos”
“Oh, begitu ya. Oke”
Akhirnya aku menelfon kak Tara. Panggilan pertama tidaklah diangkatnya. Kemudian aku menelfon lagi, dan akhirnya di angakat.
“Hallo kak, kamu di kos kan? Aku kesana ya?”
“Hmm.. in i si ap a a ya?”
“Loh, kamu yang siapa kok cewek sih? Suaranya putus putus nih. Mana kak Taranya?”
“Ah h so r ry ini lagi ii di pa an tai…”
Aku langsung mengakhiri panggilan dan marah marah tidak jelas. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan tidur dimana. Aku juga tidak enak dengan Alex yang sudah menunggu terlalu lama.
“Kak Tara masih belum di kos, dia malah ke pantai sama pacarnya. Aku gak tau mau kemana lagi, tapi kalo kamu mau pulang, pulanglah. Makasih sudah mengantarku sampai kos.”
Saat aku mau membuka pintu mobil dan keluar, tiba tiba Alex menancap gas mobinya. Aku sangat kaget. Aku juga sangat takut jika dia marah.
“Sorry banget ya, kamu gak marah kan?”
“Diamnlah”
“Ehm,,..sorry kita mau kemana ya?”
“Diamlah”
Aku hanya bisa diam dan bersiap siap mengepal tangan jika dia berani menyentuhku lagi. Dalm ahti aku hanya bisa berdoa, semoga tidak ada hal buruk yang menimpaku. Hingga sampailah di pelataran sebuah rumah yang besar tetapi agak kuno. Alex pun menyuruhku untuk turun.
“Dimana ini?”
“Rumahku.”
“Hah? Aku tidak enak dengan orang tuamu jika aku menginap di sini.”
“Mereka sudah tidak ada.”
“Oh Tuhan, maaf”
Alex pun mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya. Suasananya begitu tenang dan cahaya lampu yang memancar ke seluruh ruangan membuat rumah ini terlihat sangat terang dan luas. Alex mempersilahkanku duduk sembari membuat teh. Aku pun duduk di sofa coklat di depan tv. Tak lama kemudian Alex duduk disebelahku dan memberiku secangkir teh hangat.
“Silahkan diminum dulu.”
“oh.. iya terimakasih.”
“Hmm.. sorry ya soal tadi di club. Aku kira kamu temanku. Habisnya kalian sama sama kecil dan   imut”
“Oh..benar begitu? Baiklah aku maafkan.”
“(senyum) eh, kamu tidur di kamarku dulu ya, soalnya kamar tamu dikunci. Kasihan Pak Mun kalau aku harus membangunkan malam malam begini.”
“Pak Mun?”
“Pak Mun itu yang bawa kunci ruangan ruangan di rumah.”
“Oh, iya aku akan tidur di kamarmu. Tolong anterin ya.”
“Oke.”
Kamar Alex terletak di lantai dua tepat di dekat tangga. Saat aku buka kamarnya, tak kusangka kamarnya tertata rapi. Mungkin karena semua perabotannya terbuat dari kayu sehingga aromanya seperti kayu cendana. Di dinding yang berwarna putih tergantung lukisan lukisan Conan. Eh, tunggu…Conan? Ya itu benar benar Conan. Ternyata Alex childish juga orangnya. Setelah menyeruput secangkir teh, aku merasa ngantuk. Aku pun mengunci pintunya rapat rapat. Kamar Alex yang nyaman membuatku terlelap.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi, aku merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tapi aku tidak tahu letak kamar mandinya dimana. Aku memberanikan diri untuk menuruni tangga, dengan berlahan lahan aku sampai di lantai bawah. Alex tertidur pulas di sofa di depan tv. Saat aku ingin mendekatinya, aku melihat sebuah kamar mandi di sudut ruangan. Dengan cepat aku masuk ke kamar mandi. Sat aku kembali, aku merasa iba dengan Alex yang hanya tidur di sofa karena aku memakai kamarnya. Aku kembali ke kamar dan mengambil sebuah selimut. Kemudian kuselimutkan ke kakinya yang panjang itu, lalu aku cepat cepat kembali ke kamar.
Matahari sudah mulai terik, aku mulai beranjak dari kasur yang lembut ini. Rasanya masih ingin tidur, tapi ini bukanlah rumahku dimana aku bisa seenaknya sendiri. Setelah kurapikan kasurnya, aku menuju dapur untuk minum. Tenggorokanku terasa kering dan dahaga. Aku berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga. Mataku memandang sofa yang ada di depan tv, namun Alex sudah tidak ada di situ. Ketika aku mau menengok ke belakang, tiba tiba ada wanita separuh baya dengan baju bunga bunga muncul di belakangku. dengan membawa segelas susu cokelat.
“Astaga,” umpatku dengan muka terperanjat.
“Ealah Gusti, eh maaf mbak saya malah ikut kaget,” jawabnya dengan suara bergetar karena tertawa.
“Haha.. iya tidak apa apa.”
“Oh iya sini duduk dulu terus diminum susunya, thole yang suruh mamak buat susu. Ayo diminum.”
“ Ah iya terimakasih.”
“Mamak ke dapur dulu ya masak buat sarapan.”
“Oh iya, silahkan.”
Mamak masuk ke pintu samping dengan membawa serbet di bahunya. Aku di sini menghadap segelas susu cokelat yang sebenarnya tidak aku sukai. Namun untuk menghargai Mamak yang sudah membuatkannya, aku harus menghabiskannya. Setelah dengan susah payah aku menghabiskannya, aku berjalan menuju ruangan dimana Mamak telah berjalan tadi. Ternyata ini adalah jalan menuju ke dapur. Aku melihat Mamak sedang mengupas bawang ditemani seorang bapak bapak yang sedang minum kopi di meja sebelahnya. Aku pun masuk ke dapur untuk mencuci gelas susu.
“Permisi, tempat untuk mencuci gelas dimana ya?”
“Di situ,” kata bapak bapak yang sedang minum kopi sambil menunjuk ke sudut dapur.
“Eh Bapak ini loh. Taruh meja saja nak nanti biar Mamak yang mencucinya,” jawab Mamak sambil mencubit lengan Bapak”
“Tidak apa apa Mak, sekalian saya bantu memasak ya. Tapi saya bisanya Cuma ngupas sama motong motong,” jawabku sambil nyengir.
“Halah halah, pintarnya,” jawab Bapak.
“Ya sudah, habis mencuci gelasnya nanti tolong bantu Mamak melanjutkan mengupas bawang ya.”
“Iya Mak. Oh iya ngomong ngomong Alex kemana Mak?”
“Oh thole lagi lari pagi biasanya.”
“Wah rajin juga ya olahraga. Oh iya kenapa Mamak memamnggil Alex ‘thole’?”
“Oh karena sejak dulu sebelum orangtuanya nak Alex meninggal, saya sudah bekerja di sini. Membantu memasak dan membersihkan rumah.”
“Kemarin Alex juga sempat bilang padaku kalau orangtuanya sudah meninggal. Tapi aku tidak berani bertanya.”
“Dulu ketika nak Alex dan nak
Ting tong…
Terdengar suara bel berbunyi. Bapak pun menuju ke depan untuk membukakan pintu. Kemudian Bapak kembali lagi ke dapur dan mengtakan kak Tara menjemputku. Oh iya, aku hamper lupa kalau tadi malam aku sudah sms kak Tara untuk menjemputku. Aku pun berpamitan dengan Mamak dan Bapak.
“Mak, Pak, saya pulang dulu ya.”
“Oh iya, sini Pak Mus antarkan,” jawab Bapak.
Oh ternyata Bapak ini namanya Pak Mus. Berarti beliau yang bertugas membawa kunci rumah ini.
“Eh tidak menunggu masakannya matang? Nanti kita sarapan bersama. Pasti nanti thole juga sudah pulang,” kata Mamak.
“Tidak Mak, lain kali saja. Terimakasih,” jawabku dengan sopan.
“Ya sudah hati hati ya,”kata Mamak.
Pak Mus mengantarku ke depan menemui kak Tara. Kami pun berpamitan untuk pulang.
Semenjak hari itu terjadi, aku menjadi sering hang out bersama kak Tara, Alex dan teman temannya. Ternyata mereka seru seru orangnya. Hari hariku menjadi lebih berwarna semenjak adanya mereka. Temanku bertambah banyak ketika aku membuka diriku untuk berteman dengan siapa saja. Tidak hanya Alex yang menjadi baik kepadaku, tetapi Erza, Kevin, Nowel, Jeni, Rena dan masih banyak lagi.






-Chapter 1 End-

Followers

Search This Blog

Translate