CAKRA CINTA
Hai,
nama aku Linsi. Aku orangnya alim, gak suka neko neko, dan selalu nurut sama
orang tua. Temen temen sering ngatain aku kuper. Kadang aku sebel juga
digituin, sampai suatu saat aku kenal sama si Indah. Dia temen satu kosku. Baru
satu minggu dia menempati kamar yang tepat berada di depan kamarku. Orangnya
asik dan mudah bergaul. Aku pengen berguru sama dia biar jadi anak hitz. Aku
pengen ngubah hidup gue mulai dari sekarang. Hari ini aku ngobrol di kamar
Indah sambil numpang nonton tv. Ngapain susah susah beli tv, jika tv tetangga
masih mampu menghibur.
“In, kamu
sering main keluar ya?”
“Iya. Soalnya
kalo di kos terus bosen. Emang kenapa?”
“Gak papa.
Kamu biasa main dimana?”
“Ya dimana aja
asal bias menghibur gue”
“Kapan kapan
ajak aku dong. Bolehkan ikut?”
“Haha…iya.
Kamu udah pernah keluar malem?”
“Udah sih,
tapi jarang. Keluarnya paling juga cuma di café sebelah.”
“Oh, tempat
ngopi itu ya?”
“Iya.”
Tring……tring…
Terdengar
suara handphone Indah berdering, aku pun langsung pamit balik ke kamar kosku
yang sempit. Aku menghempaskan tubuhku ke springbad warna biru yang berada di
pojok ruang. Aku mencoba meregangkan otot ototku yang pegal akibat lama duduk
di lantai. Sejeneak, aku teringat untuk pergi membeli kado ulang tahun untuk
kaka sepupuku. Badanku serasa enggan untuk bergegas keluar. Aku mengirim pesan
kepada Indah untuk menemaniku membeli kado besok siang. Sambil menunggu sms
dari Indah, kuhabiskan seperempat hariku untuk tidur di kasur ini.
Hari ini
memang hari yang melelahkan. Aku baru saja selesai ujian akhir dan mulai takut
akan hasilnya. Aku bukan orang yang pintar, oleh karena itu aku menutupi
kekuranganku dengan rajin mengerjakan tugas dan belajar. Kadang walaupun aku
sudah belajar mati matian, aku mendapt nilai yang kurang memuaskan. Hal yang
menyakitkan bukan?? Sebenarnya, aku juga tidak tau mengapa aku memilih jurusan
ini. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana aku
memanfaatkannya saja. Sebenarnya aku inggin menjadi pelukis yang bisa
mengekspresikan emosi dan pikiranku menjadi sebuah karya seni. Orangtuaku
menginginkan aku kuliah dijurusan yang sudah jelas pekerjaannya. Seperti
menjadi guru yang akan bekerja di sekolahan. Ibu menginginkanku untuk menjadi
guru SD. Tapi, aku tidak terlalu suka dengan anak kecil karena aku tidak
mempunyai adik kandung ataupun sepupu. Pada akhirnya aku memilih jurusan
pendidikan bahasa Inggris. Lucu memang, tapi keadaan membuatku terperangkap
disitu. Jurusanku sangat bergengsi dan mahal.
Indah belum
juga membalas sms dariku. Pintunya juga terkunci rapat bahkan tidak ada suara
tv ataupun kipas sama sekali. Sudah dua hani ini aku tidak melihat Indah. Aku
berpikir dalam benakku, apakah benar apa yang dikata orang tentang Indah?
Tok tok…
Ada seseorang
yang mengetuk pintu kamar kosku. Ternyata orang itu adalah Kak Agnes. Ia ingin
minta tolong kepadaku untuk menemaninya mencetak buku barunya dipercetakan. Kak
Agnes adalah seorang penulis yang baru merintih karirnya baru baru ini. Dia
sangat lembut dan asyik buat diajak bercanda. Oleh karena itu aku senang pergi
dengannya. Berhubung Indah juga belum membalas smsku, aku meminta tolong kak
Agnes untuk mampir ke toko pernak pernik seusai ke percetakan. Aku ingin
sekalian membeli kado untuk kak Sela.
Langit mulai
tampak kemerah merahan. Aku sudah mandi setelah berpanas panasan mengantar kak
Agnes ke percetakan. Saat aku berjalan menuju lorong kamarku, pintu Indah
tampak terbuka lebar. Sehingga cahaya lampunya yang terang menyinari rak
sepatuku. Aku hendak mampir ke kamarnya dan memarahinya karena tidak membalas
smsku. Tapi tubuhku enggan untuk berhenti di kamarnya, aku berlalu dan membuka
pintu kamarku. Seketika itu juga Indah memanggilku.
“ Linsi”
“ Iya. Ada
apa?”
“ Sorry aku gak sempat balas smsmu. Aku sedang
trip dengan gengku.”
“Oh. Gak papa,
aku juga udah beli kadonya kok.”
“Hmm…sebagai
gantinya aku ajak kamu main keluar sekarang.”
“ Sekarang?
Gak ah aku capek.”
“ Udah ayok.
Kamu aku dandanin ya”
“Apasih pake
dandan segala?”
“Udah ayo
sini!”
Indah menarik
tanganku masuk ke kamar kosnya yang berantakan dan sedikit pengap itu. Tiba
tiba dia menyopot bajuku. Kemudian mengulungkan dress yang bagus dan elegan
untuk kupakai. Dan entah apa yang ia lakukan pada wajah dan rambutku dengan
waktu yang lama. Akhirnya aku melihat ke kaca dan aku bisa melihat betapa
cantiknya diriku.
“Wah In, kamu
hebat bisa me-make over-ku menjadi cantik. Tapi, bukankah dressnya kependekan
ya. ”
“ Ih, kamu mah
norak. Biasa aja kali. Udah yuk pergi.”
“Eh, aku gak
mau. Aku malu, aku belum pernah berdandan seperti ini.”
Bukan Indah
namanya kalo tidak memaksa sampai seperti ini. Aku jadi pergi dengannya malam
ini. Aku belum penah datang ke sini sebelumnya. Aku suka dengan warna yang seperti
fatamorgana terlihat di pintunya. Setelah kami masuk, aku baru sadar bahwa itu
diskotik. Aku sangat takut dan mengajak Indah pulang. Tapi ia terus menarik
tanganku masuk ke dalam kerumunan. Mengajakku bertemu dengan teman temannya dan
memperkenalkan aku. Mereka keren tapi menakutkan bagiku. Aku hanya ingin duduk
dan melihat mereka berjoget tak karuan karena mabuk. Tapi aku mulai tertarik
ingin mengikuti mereka berjoget. Baru beranjak dari tempat duduk, aku melihat
seorang lelaki yang sepertinya mengawasiku. Aku memberanikan diri untuk
menatapnya sambil siap siap menonjoknya. Setengah mati aku terperanjat,
ternyata dia adalah kak Tara.
“ Astaga!
Kampret!”
“ Heh, anak
holy dilarang kesini. Ngapain kamu kesini hayo?”
“ Ehh…nemenin
Indah, temenku. Kak, jangan bilang kakek ataupun orangtuaku ya..aku mohon,”
dengan muka melas aku menatapnya.
“ Hmm..iya
iya. Tapi kamu juga jangan kasih tau aku masih pacaran sama si Vio”
“ Haha… oke
oke”
“ Kamu jangan
kemana mana. Duduk yang manis disini
aja. Kalo lo berani ikut minum ataupun joget, gue ketekin sampai pingsan”
“ Iya iya”
Kak tara pun
bergabung dengan teman temanya. Aku menunggu di sofa coklat yang terletak
disudut café. Entah kenapa aku tidak melihat Indah lagi. Suasana semakin riuh,
terlarut dalam euphoria. Tiba tiba ada sesosok yang memeluku erat dan seketika
mencium pipiku. Aku sangat kaget, karena aku tidak mengenal laki laki yang telah memeluk dan menciumku. Disaat aku
berusaha melepaskan pelukan yang sangat erat itu, tiba tiba Kak Tara datang dan
memukul laki laki itu. Akhirnya terjadilah keributan, dan kita diusir oleh
bodyguard. Ka Tara marah marah gak jelas.
“Sial!! Kenapa
bisa jadi begini sih?,” umpat kak Tara.
“Sebenarnya
ada apa sih?,” Tanya kak Vio.
“Nanti gue
ceritain. Sekarang yang penting kita pulang aja nenangin pikiran,” Ujar kak
Tara.
“Lah terus aku
pulang sama siapa? Temenku gak bisa dihubungi,” kataku.
“Tunggu, gue
panggilin si curut,” ujar kak Tara.
Kak Tara
menghampiri seseorang yang ada di dalam mobil xx dan berbicara agak kolot.
Kemudian Kak Tara seperti ingin memukul orang itu. Aku pun memanggilnya untuk
memperingatkan dia berbuat kasar. Akhirnya orang yang ada di dalam mobil itu
keluar, dan ternyata dia adalah orang yang melecehkanku tadi. Dia melihat ke
arahku dan berjalan kemari bersama Kak Tara.
“Linsi, dia
sebenarnya temen gue namanya Alex. Dia yang akan mengantar lo pulang. Sorry gue
gak bisa nganter lo pulang, soalnya gue pulang sama Vio pake motor.”
“Apa? Aku
tidak mau”
“Please sekali
ini saja. Jangan kawatir, dia tidak akan berani menyentuhmu lagi.”
Setelah aku
pikir-pikir, aku memang harus pulang bersama orang kurang hajar ini karena akan
lebih berbahaya jika aku menunggu taksi sendiri.
“ Oke. Aku
mau, tapi aku duduk di belakang.”
Selama di
perjalanan tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir kami. Suasananya
sangat dingin, terlebih kami begitu canggung untuk bertatap muka. Hingga
sampailah kami di depan kosku. Karena memamang sudah larut malam, suasa kos
menjadi sepi dan gerbang pun sudah dikunci. Aku mencari kunci gerbang yang
kuberi gantungan donat dari kain flannel di dalam tasku. Tetapi kunci itu
sepertinya tidak ada dalam tas lalu kucoba merogoh kantunggku, tetap saja tidak
kutemukan.
“Jangan bilang
kamu lupa menaruh kunci kosmu,” kata Alex dengan muka menyebalkan.
“Ah tunggu
sebentar, akan kucari lagi pasti ketemu.”
“Sudah belum?”
“Aku akan
mengetuk jendela temanku dulu ya, tunggu jangan pergi dulu.”
Aku telah
mengetuk ke semua jendela kamar temanku, tapi tidak satupun dari mereka yang
menjawab. Mungkin karena hari libur, sebagian dari mereka menginap dirumah
temannya atau pulang kerumah. Aku ingin sekali membunyikan bel kos, tapi tidak
enak dengan bapak kos karena aku tidak ingin mengganggu tidurnya. Kemudian aku
menelepon teman akrabku, Riri. Tetapi, dia juga tidak mengangkatnya. Berhubung
aku ini orang yang kuper, jadi aku tidak punya banyak teman. Aku pun kembali masuk ke dalam mobil dengan
muka ditekuk.
“Sorry, semua
temenku gak ada yang bisa dihubungi. Mungkin mereka sudah tidur. Hmm aku mau
minta tolong ke kamu untuk mengantarku ke kos kak Tara,” pintaku dengan muka
memelas.
“(sigh) telfon
dulu dia, jangan jangan dia gak pulang ke kos”
“Oh, begitu
ya. Oke”
Akhirnya aku
menelfon kak Tara. Panggilan pertama tidaklah diangkatnya. Kemudian aku
menelfon lagi, dan akhirnya di angakat.
“Hallo kak,
kamu di kos kan? Aku kesana ya?”
“Hmm.. in i si
ap a a ya?”
“Loh, kamu
yang siapa kok cewek sih? Suaranya putus putus nih. Mana kak Taranya?”
“Ah h so r
ry ini lagi ii di pa an tai…”
Aku
langsung mengakhiri panggilan dan marah marah tidak jelas. Aku tidak tahu harus
berbuat apa dan tidur dimana. Aku juga tidak enak dengan Alex yang sudah
menunggu terlalu lama.
“Kak Tara
masih belum di kos, dia malah ke pantai sama pacarnya. Aku gak tau mau kemana
lagi, tapi kalo kamu mau pulang, pulanglah. Makasih sudah mengantarku sampai
kos.”
Saat aku
mau membuka pintu mobil dan keluar, tiba tiba Alex menancap gas mobinya. Aku
sangat kaget. Aku juga sangat takut jika dia marah.
“Sorry
banget ya, kamu gak marah kan?”
“Diamnlah”
“Ehm,,..sorry
kita mau kemana ya?”
“Diamlah”
Aku hanya
bisa diam dan bersiap siap mengepal tangan jika dia berani menyentuhku lagi.
Dalm ahti aku hanya bisa berdoa, semoga tidak ada hal buruk yang menimpaku.
Hingga sampailah di pelataran sebuah rumah yang besar tetapi agak kuno. Alex
pun menyuruhku untuk turun.
“Dimana
ini?”
“Rumahku.”
“Hah? Aku
tidak enak dengan orang tuamu jika aku menginap di sini.”
“Mereka
sudah tidak ada.”
“Oh Tuhan,
maaf”
Alex pun
mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya. Suasananya begitu tenang dan cahaya lampu
yang memancar ke seluruh ruangan membuat rumah ini terlihat sangat terang dan
luas. Alex mempersilahkanku duduk sembari membuat teh. Aku pun duduk di sofa
coklat di depan tv. Tak lama kemudian Alex duduk disebelahku dan memberiku
secangkir teh hangat.
“Silahkan
diminum dulu.”
“oh.. iya
terimakasih.”
“Hmm..
sorry ya soal tadi di club. Aku kira kamu temanku. Habisnya kalian sama sama
kecil dan imut”
“Oh..benar
begitu? Baiklah aku maafkan.”
“(senyum)
eh, kamu tidur di kamarku dulu ya, soalnya kamar tamu dikunci. Kasihan Pak Mun
kalau aku harus membangunkan malam malam begini.”
“Pak Mun?”
“Pak Mun
itu yang bawa kunci ruangan ruangan di rumah.”
“Oh, iya
aku akan tidur di kamarmu. Tolong anterin ya.”
“Oke.”
Kamar Alex
terletak di lantai dua tepat di dekat tangga. Saat aku buka kamarnya, tak
kusangka kamarnya tertata rapi. Mungkin karena semua perabotannya terbuat dari
kayu sehingga aromanya seperti kayu cendana. Di dinding yang berwarna putih
tergantung lukisan lukisan Conan. Eh, tunggu…Conan? Ya itu benar benar Conan.
Ternyata Alex childish juga orangnya. Setelah menyeruput secangkir teh, aku
merasa ngantuk. Aku pun mengunci pintunya rapat rapat. Kamar Alex yang nyaman
membuatku terlelap.
Jam
menunjukkan pukul tiga pagi, aku merasa ingin ke kamar mandi untuk buang air
kecil. Tapi aku tidak tahu letak kamar mandinya dimana. Aku memberanikan diri
untuk menuruni tangga, dengan berlahan lahan aku sampai di lantai bawah. Alex
tertidur pulas di sofa di depan tv. Saat aku ingin mendekatinya, aku melihat
sebuah kamar mandi di sudut ruangan. Dengan cepat aku masuk ke kamar mandi. Sat
aku kembali, aku merasa iba dengan Alex yang hanya tidur di sofa karena aku
memakai kamarnya. Aku kembali ke kamar dan mengambil sebuah selimut. Kemudian
kuselimutkan ke kakinya yang panjang itu, lalu aku cepat cepat kembali ke
kamar.
Matahari
sudah mulai terik, aku mulai beranjak dari kasur yang lembut ini. Rasanya masih
ingin tidur, tapi ini bukanlah rumahku dimana aku bisa seenaknya sendiri.
Setelah kurapikan kasurnya, aku menuju dapur untuk minum. Tenggorokanku terasa
kering dan dahaga. Aku berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga. Mataku
memandang sofa yang ada di depan tv, namun Alex sudah tidak ada di situ. Ketika
aku mau menengok ke belakang, tiba tiba ada wanita separuh baya dengan baju
bunga bunga muncul di belakangku. dengan membawa segelas susu cokelat.
“Astaga,”
umpatku dengan muka terperanjat.
“Ealah
Gusti, eh maaf mbak saya malah ikut kaget,” jawabnya dengan suara bergetar
karena tertawa.
“Haha..
iya tidak apa apa.”
“Oh iya sini
duduk dulu terus diminum susunya, thole yang suruh mamak buat susu. Ayo
diminum.”
“ Ah iya
terimakasih.”
“Mamak ke
dapur dulu ya masak buat sarapan.”
“Oh iya,
silahkan.”
Mamak
masuk ke pintu samping dengan membawa serbet di bahunya. Aku di sini menghadap
segelas susu cokelat yang sebenarnya tidak aku sukai. Namun untuk menghargai
Mamak yang sudah membuatkannya, aku harus menghabiskannya. Setelah dengan susah
payah aku menghabiskannya, aku berjalan menuju ruangan dimana Mamak telah
berjalan tadi. Ternyata ini adalah jalan menuju ke dapur. Aku melihat Mamak
sedang mengupas bawang ditemani seorang bapak bapak yang sedang minum kopi di
meja sebelahnya. Aku pun masuk ke dapur untuk mencuci gelas susu.
“Permisi,
tempat untuk mencuci gelas dimana ya?”
“Di situ,”
kata bapak bapak yang sedang minum kopi sambil menunjuk ke sudut dapur.
“Eh Bapak
ini loh. Taruh meja saja nak nanti biar Mamak yang mencucinya,” jawab Mamak
sambil mencubit lengan Bapak”
“Tidak apa
apa Mak, sekalian saya bantu memasak ya. Tapi saya bisanya Cuma ngupas sama
motong motong,” jawabku sambil nyengir.
“Halah
halah, pintarnya,” jawab Bapak.
“Ya sudah,
habis mencuci gelasnya nanti tolong bantu Mamak melanjutkan mengupas bawang
ya.”
“Iya Mak.
Oh iya ngomong ngomong Alex kemana Mak?”
“Oh thole lagi
lari pagi biasanya.”
“Wah rajin
juga ya olahraga. Oh iya kenapa Mamak memamnggil Alex ‘thole’?”
“Oh karena
sejak dulu sebelum orangtuanya nak Alex meninggal, saya sudah bekerja di sini.
Membantu memasak dan membersihkan rumah.”
“Kemarin
Alex juga sempat bilang padaku kalau orangtuanya sudah meninggal. Tapi aku
tidak berani bertanya.”
“Dulu
ketika nak Alex dan nak
Ting tong…
Terdengar
suara bel berbunyi. Bapak pun menuju ke depan untuk membukakan pintu. Kemudian
Bapak kembali lagi ke dapur dan mengtakan kak Tara menjemputku. Oh iya, aku
hamper lupa kalau tadi malam aku sudah sms kak Tara untuk menjemputku. Aku pun
berpamitan dengan Mamak dan Bapak.
“Mak, Pak,
saya pulang dulu ya.”
“Oh iya,
sini Pak Mus antarkan,” jawab Bapak.
Oh
ternyata Bapak ini namanya Pak Mus. Berarti beliau yang bertugas membawa kunci
rumah ini.
“Eh tidak
menunggu masakannya matang? Nanti kita sarapan bersama. Pasti nanti thole juga sudah
pulang,” kata Mamak.
“Tidak
Mak, lain kali saja. Terimakasih,” jawabku dengan sopan.
“Ya sudah
hati hati ya,”kata Mamak.
Pak Mus
mengantarku ke depan menemui kak Tara. Kami pun berpamitan untuk pulang.
Semenjak
hari itu terjadi, aku menjadi sering hang out bersama kak Tara, Alex dan teman
temannya. Ternyata mereka seru seru orangnya. Hari hariku menjadi lebih
berwarna semenjak adanya mereka. Temanku bertambah banyak ketika aku membuka
diriku untuk berteman dengan siapa saja. Tidak hanya Alex yang menjadi baik
kepadaku, tetapi Erza, Kevin, Nowel, Jeni, Rena dan masih banyak lagi.
-Chapter 1
End-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar