#puisi ini bermakna : apabila seseorang yang awalnya masih alim atau polos tapi salah memilih pergaulan, seseorang itu akan hancur dan tidak berguna bagi orang lain. lebih tidak bernilai di mata orang lain.
Bahagia itu tidak harus di kayangan. Cukup menari denganmu di atas awan yang bertabur
cococips dipayungi toping cokelat yang tebal anti cahaya dan.......BRAAKKKK..... Seketika, aku terbangun dari lamunanku dan melihat ice creamku jatuh disambar bal basket si Rio.
"Ya Tuhan indahnya," bisikku lirih.
Aku tercenganga ketika Rio menghampiriku.
Matanya yang berbinar sudah sering kulihat. Tapi, lengan yang kuat dan putih terlihat tepat di depan mataku membuat ku tersihir cinta.
Ya, dia adalah idola hatiku sejak kami masih berteman di taman kanak-kanak.
" Aduh, maaf. Kamu tidak apa-apa?"
" oh...nnggg ngg gak kok hehe.."
"siip"
"ha..? Cuma gitu aja??," kataku dalam hati.
Trenggggg treeeng...
Bel masuk sudah menjerit-jerit
memanggil para siswa SMA Prima untuk mengikuti pelajaran kembali. Aku kembali
duduk di bangkuku yang paling belakang di sebelah Nofi. Sengaja biar
bisa lihat Rio sepuasnya. Sebenarnya Nofi tidak terlalu suka duduk di
belakang. Tapi, dia kan teman setiaku yang selalu bersamaku dimana pun. Kecuali
tadi di lapangan basket. Aku sengaja meninggalnya yang sibuk baca buku di kantin.
Aneh-aneh saja bisa-bisa bukunya yang dimakan.
"Dari mana Re?"
"Dari lapangan basket "
"Ngapain? Jadi juru bersih-bersih keringat?"
"Iya...bisa jadi...tidak..tidak"
"LEBAY"
Pelajaran biologi mulai
dengan bab baru. Padahal bab kemaren aja nilaiku belum tuntas. Memang kalau suruh menghafal ingatanku tidak seperti
Nofi. Bukannya sombong, tapi kalau menghitung, lumayanlah lebih mending dari
pada Nofi. Materi biologi kusimpan di otak depan. Karena otak tengah dan belakangku sudah sibuk dengan setumpuk angka-angka.
Trenggggg..... Treeenggg...treeeengg
Bel tanda pulang yang
merdu menyadarkan mataku untuk melihat Rio. Tapi, dimana dia? Aku tidak
melihatnya setelah aku menengok ke jam dinding sebentar saja. Yah... sudahlah
besuk juga ketemu lagi.
"Reina..."
"Iya"
"Ini ice
cream untuk mengganti milikmu tadi. Sama seperti tadi. Bertoping cokelat tebal
dan di dalamnya ada cococipsnya"
"Ha?...makasih. Tapi ti.."
"Suadahlah ini, dimakan. Biar kutemani kamu makan"
Apa?? Rio memanggilku lalu menarik tanganku
menuju lapangan basket? Mengganti ice creamku lalu menemaniku makan pula.
Wah seperti melamun di bawah matahari "berkeringat". Sepertinya
aku mulai mati gaya dan kehilangan banyak ion. Kalian tahu rasanya? Hatiku
pengen meledak ledak, jantungku mulai berdebar dan kehilangan kendali.
"O
iya Re, 3 bulan lagi kita kan udah ujian nasional, kamu mau melanjutkan kuliah
di mana?"
"Haahhhh?? 3 bulan??",sontak, aku hampir tersendak.
"Iya. Masa kamu tidak memperhitungkan dari sekarang?"
"Serasa masih TK. Dan sibuk memperhitungkan waktuku melihatmu", kataku lirih.
"Apa?? Melihat hantu??"
"Ha?? Sudah lupakan. Aku mau pulang. Toh ice creamku sudah habis”
"Ok. Hati hati ya"
Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Di perjalanan aku sibuk
memikirkan time managementku untuk waktu 3 bulan yang sangat singkat. Tapi, di
dalam pikiranku sudah banyak tersita untuk memikirkan Rio. Sedangkan Rio tidak
pernah memperhatikanku sedetail itu. Mulai sekarang, aku berjanji akan belajar
dengan sungguh sungguh dan penuh semangat untuk menyaingi Rio si bintang kelas
itu. Dengan begitu, Rio akan melirik padaku. Hahaha..
Baru sadar, ternyata dari
tadi aku senyum senyum sendiri dan ditertawakan oleh pengemis yang berada di
sebrang jalan. Pokoknya aku tidak mau ini hanya fikir belaka dan aku harus
benar benar mencapai target. Aku tidak mau ditertawakan anak jalanan karena kegagalanku.
*******
#1 bulan
kemudian
Satu bulan ini memang melelahkan. Jadwal keseharianku
kuhabiskan untuk belajar dan les. Setiap malam aku belajar dari pukul
18.00-20.00 WIB. Nanti bangun lagi sekitar pukul 03.00 dini hari. Belum siang
sepulang sekolah aku harus les. Rasanya otakku mulai mencair dan nyawaku mulai
hilang satu persatu. Apalagi sudah sebulan ini aku duduk di depan. Otomatis jarang
melihat Rio yang suka makan permen xylitol waktu pelajaran.
Pagi hari di ruang makan. Ayah, Ibu dan adikku memandangiku
yang sedang sarapan. Memang aneh rasanya bila terlalu banyak mata yang
memandangiku.
"Apa? Ada apa denganku ada yang aneh ya?"
"Kaka sebulan ini kelihatan lebih rajin dariku"
"O...jelas"
"Sombong! Kaka kan cewek seharusnya rajin sejak dulu
dong"
"Kamu kan cowo. Seharusnya ngga' cerewet dong"
"Sudah sudah mungkin kaka'mu baru sadar kalau ujian
sudah dekat. Iya kan Bu?"
"Iya Yah"
“Kalau kamu bisa mendapat nilai lebih bagus dari Rio,
apalagi bisa menjadi juara umum. Ayah akan memberimu kejutan yang besar. Pasti kamu
suka”.
“Memangnya apa yah??”
“Tunggu saja”
Memang satu bulan ini, nilaiku sudah jauh progres. Bahkan
hampir menyamai nilai Rio. Pantas saja keluargaku kaget mendengan laporan dari
wali kelas Rabu kemarin di rapat sekolah.
By the way, aku jadi penasaran dengan kejutan dari Ayah. Kali
ini hanya satu yang ada dipikiranku yaitu dijodohkan dengan Rio. Memang aneh,
siapa yang tahu kalau aku suka Rio? Nofi saja tidak begitu memahami perasaanku
kepada Rio. Tapi, mungkin saja kan karena Ibunya Rio itu teman akrap Ayah dan Ibuku. Dari pada pusing memikirkan hal yang bodoh, mending aku segera menaiki skuter maticku yang dari tadi menunggu di garasi. Berangkat sekolah lebih pagi daripada si Rendi (adikku), wah hebat!
Treeeengggg ……trreeenggg
Aku terkesiap mendengar bel tanda masuk kelas ketika aku
sibuk membaca buku. Terlihat Rio dan Nofi sedang berbincang bincang asik di
depan kelas. Hatiku, oh hatiku, sunyi senyap tak gemerlap dan serasa dicabik cabik harimau. Untungnya Bu Isna segera masuk ruang kelas dan menyuruh mereka untuk duduk. Aji gila, pagi pagi sudah panas ngelihatin mereka. Sial!!
Jangan jangan mereka salingg…..
Plak….
“Aw..!!,” aku menjert. Pipiku panas kena gamparan
tangan si Zog yang gemuk.
“Sorry Re, ada nyamuk di pipimu,” jelas si Zog lantang.
Seisi kelas
melihatku dan menertawakan aku. Termasuk Rio dan Nofi yang jelas jelas sudah kuanggap
teman baikku. Gara gara si Zon alias si zona gemuk aku jadi pusat perhatian. Aku
mengikuti pelajaran biologi dengan perasaan sebal setengah mati.
Trreeengg…trreeengg
Ya, tentu aku tidak asing dengan bel itu. Langsung saja aku melarikan diri ke kantin tanpa mengajak Nofi. Seperti biasa, aku membeli ice
cream kesukaanku. Selintas, kulihat sosok Nofi berjalan menuju lapangan basket.
Mataku menyipit dan penuh selidik. Apa yang dikerjakan Nofi di sana?? Mencariku??
Atau mencari Rio?? Aku lari dari kantin menuju parkiran. Entah kenapa aku ingin
membenamkan diriku dari Nofi dan Rio.
“Sial!! Hari ini adalah hari yang mengenaskan. Ada apa
dengan mereka berdua? Apa aku haru bilang secara blak blakan tentang perasaanku
kepada Rio? Tidak…tidak. Pasti ada jalan yang lebih indah,” aku berkata lirih
menuju tempat duduk yang ada di sebelah pohon beringin.
Untuk menghilangkan rasa penatku, aku menendang kerikil
yang ada di depan kakiku. Plak ….kerikil itu tergelempar dan menabrak sebuah
motor yang tidak asing kulihat. Ya, itu motor Rio yang tidak jauh dari motorku.
Tapi tiba tiba alarm motor itu berbunyi keras. Aku gugup harus bagaimana. Kemudian
aku mengambil stiker di helmku yang bertuliskan “I LOvE U” dan menempelkannya
ke kaca spidometer motor Rio. Entah ide gila apa itu,dan datang dari mana. Kemudian aku lari sekencang kencangnya.
Ketika aku menengok sebentar ke arah motor Rio, sontak aku syok
melihat ada sesosok besar yang tiba tiba muncul di hadapanku. Aku tidak dapat
mengerem langkahku seperti motor CBS. Terjadilah apa yang terjadi kepadaku dan
kepadamu. Aku menabrak si Zog yang sedang lari dari arah barat.
“AWAASS!!!,” aku berteriak sebisa mungkin.
“AAAGGHH,” Zog terkaget.
“Aww…,” rintihku ketika ku tau Zog menabrakku hingga aku
terpental ke selokan.
“Maaf Re, aku tidak sengaja”
Kemudian Zog menggendongku hingga ke
UKS walaupun aku sudah meronta ronta tidak mau. Semua keadaan bertambah ricuh. Bekas
luka lukaku bertambah perih ketika PMR mengoleskan obat merah.
“Rei,kamu tidak apa apa?,” tanya
Nofi yang baru saja datang.
“Gimana rasanya?,” sahut Rio yang datang
bersama Zog.
(aku dan Nofi menengok kea rah Rio bersamaan)
“Lebih sakit daripada terkena bola basketmu,” jawabku
sambil memutarkan bola mataku 360 derajat.
(Semua tertawa)
Setelah kejadian itu terjadi, aku akan lebih berhati hati dan tidak ceroboh dalam melakukan suatu hal.
#3 minggu menjelang UNAS
Matahari mulai terbenam, awan pun
mulai menjelma menjadi merah keorenan. Aku duduk termenung di taman belakang
rumah. Di situ aku mengingat kejadian di kelas tadi. Kejadian yang membuatku
bangga akan kemampuanku. Aku mendapat nilai try out tertinggi di kelas. Itu
berarti aku mendapat nilai lebih tinggi daripada Rio. Sehingga dia mengucapkan
selamat dan menjabat tanganku. Ternyata usahaku telah membuahkan hasil.
“Rei….Reina…makan dulu nak”
(Suara ibu yang lembut telah
masuk dalam telingaku)
“Iya Bu…”
Aku berjalan menuju ruang makan
yang berada di sebelah dapur. Mataku sedikit terbelalak karena menu yang ibu
sediakan lebih lengkap dari biasanya. Piringnya pun menjadi dua kali lebih
banyak dan tertata rapih.
“Wah..wah..wah, ada pesta ya?,”
tanyaku penuh selidik.
“Bukan, ini hanya sambutan kecil
karena Om Dio suami Tante Rika telah pulang dari Kalimantan,” jawab ibu dengan
nada bahagia.
“Tante Rika Ibunya Rio?!,”
tanyaku dengan begitu semangat.
“Iya, Om dio baru datang tadi
pagi dan ingin berkumpul bersama kita,” jelas Ibu.
“Ok. Aku akan membantu Ibu
menyiapkan segalanya.”
Oh Tuhan… pasti menyenangkan
bertemu Rio di luar jam sekolah. Andai mereka menginap di sini, pasti lebih
seru. Tapi, mereka berkunjung di sini sebentar saja aku sudah bahagia.
Tok..tok …tingtung…tingtung
Bel sudah bersiul menandakan
mereka sudah datang. Aku cepat cepat
berlari dan membukakan pintu. Ya, benar mereka datang. Ada Om Dio, Tante Rika,
Risa (adik Rio) dan tentunya Rio yang paling kunanti nanti. Tapi, kenapa
setelah aku membukakan pintu mereka malah tertawa tebahak bahak?
“Hahaha, kamu ini habis ngapain
Re?,” tanya Om Dio.
“E..e..emangnya ada yang salah
denganku?,” aku balik bertanya dengan suara terbata bata.
“Ya, jelas dong. Orang mukamu
coreng moreng bigini.”
“What…? Tisu tisu…e kaca kaca.”
(Aku menjadi salah tingkah. Pasti
gara gara pemanggang sate yang aku angkat tadi mukaku jadi coreng moreng
begini).
Setelah aku mempersilahkan mereka
masuk, aku langsung meluncur ke kamar mandi untuk membersihkan noda di wajahku.
Setelah selesai dari kamar mandi, aku ikut bergabung di ruang makan. Semuanya
ternyata sudah asik menikmati hidangan. Kebetulan, ada kursi yang kosong di
sebelah Rio. Kesempatanku untuk menambah akrab dengannya.
“Hi…,” sapaku.
“Hi juga, sudah lama ya kita
tidak berkumpul begini.”
“Iya. Kamu pasti kangen banget
kan sama aku…hehe,” candaku dengan agak memberankan diri.
“Idih..tiap hari juga ketemu
kali,” ejeknya.
“Besuk mau lanjut kuliah jurusan
apa?”
“Aku masih bingun antara jadi
Guru olahraga atau ke seminari untuk jadi Pastur. Kamu?”
“Haaah apa?!! Kamu mau jadi
Pastur?”
Aku terkaget setengah mati dan
kupingku serasa panas mendengar Rio hendak menjadi Pastur. Seketika harapanku
musnah untuk memiliki Rio karena Pastur tidak boleh memiliki istri. Tetapi, aku
mencoba untuk tenang dan membujuk Rio agar jadi guru olahraga saja.
“Mending kamu jadi guru olahraga
saja. Toh kamu juga jago basket. Kamu juga anak laki laki satu satunya di
keluargamu kan.”
“Iya sih. Akan kupertimbangkan
pendapatmu”
Setelah kami selesai makan dan
berbincang bincang, keluarga Rio segera berpamitan karena hari sudah mulai
larut malam. Kami pun mempersilahkan
mereka untuk pulang.
Tidak ada pembantu di rumah kami.
Jadi, aku memberikan malam ini khusus untuk membantu pekerjaan ibuku yang super
duper banyak.
Pagi hari di sekolah.
Aku bertemu Rio di parkiran dan
berjalan bersama untuk masuk kelas.
Tiba tiba ada Zog yang merangkul
bahu kami dari belakang. Aku dan Rio sempat terkaget dan kami tertawa
terpingkal pingkal. Aku, Rio dan Zog pun berjalan menuju kelas bersama sama.
Sesampai di kelas, ternyata Pak
Indra guru matematika kami sudah memulai pelajaran. Berhubung Pak Indra
merupakan salah satu guru kiler di sekolah ini, kami pun dihukum beliau untuk
menyapu di gedung aula. Sungguh menyebalkan! Zog selalu mengganggu acara
berduaku dengan Rio. Ketika aku mendekati Rio, Zog selalu lebih dulu dekat
dekat dan menjahili aku. Rio yang pendiam hanya bisa ikut tertawa. Setelah
hukuman kami selesaikan, kami boleh mengikuti pelajaran lagi seperti biasa.
Trreeeenggg….treeeenngg
Bel istirahat telah menari nari
di telingaku. Aku bergegas mengajak Nofi untuk jajan di kantin. Setiba di
kantin, kami terheran heran karena kantin begitu sepi. Tapi, setelah aku satu
kali melangkah ke depan, banyak orang yang muncul dari bawah meja dan
menyanyikan lagu yang berlirik “maukah kamu jadi pacarku…yang salalu setya
menemaniku….” Seketika, Zog muncul di belakangku dengan membawa bunga yang
kelihatannya baru dipetik dari taman sekolah.
“Reina Riona Lalita, maukah kamu
menjadi pacarku?”
APPAA??? Zog menembakku??? Oh
Tuhan, aku harus bagaimana ini…
“A…aa..ku…”
(Belum sempat melanjutkan
kalimatku, aku melihat Rio datang dan tiba tiba pergi menjauh)
“Aku apa?”
“Aku tidak tega mengucapkan ini.
Tapi, aku sudah menyukai seseorang”
“Sudah kuduga. Tapi aku tidak
akan menyerah untuk mendapatkanmu”
“Ayolah, lebih baik kita
memikirkan UNAS yang tinggal sebentar lagi”
Zog kemudian pergi dengan
membenamkan wajahnya dan membuang bunga itu ke tong sampah. Semua murid yang
ada di kantin menyorakiku seolah olah aku seorang penjahat. Aku lari menuju
lapangan basket dan meninggalkan Nofi sendirian. Hatiku seakan sepi dan air
mataku tak terasa menetes di pipi.
“Kenapa bukan kamu Ri? Ternyata
Zog lebih berani dari pada kamu. Atau kamu memang tidak suka dengan ku dan
hanya menganggapku teman?,” bisikku lirih.
Terdengar suara bola basket yang sedang
dimainkan mendekat dan mendekat. Siapa itu? Rio, Zog atau para siswa yang akan
berolahraga? Aku hanya bisa diam dan mengusap air mataku. Kemudian aku menengok
kea rah suara itu. Ternyata hanya segelintir bola terpental pental yang
kelihatannya dilempar dari luar. Aku beranjak pergi dan tiba tiba ada yang
menepuk pundakku. Dengan secepat kilat aku menengok. Dan ternyata Rio ada di
belakangku dengan membawa ice cream kesukaanku.
“Rio”
“Duduklah, dan makan ice cream
ini”
(Aku hanya bisa menunduk dan
menuruti perkataan Rio)
Rio menungguku untuk menghabiskan
ice cream ini. Setelah ice cream coklat itu masuk dalam perutku semua, sejenak
Rio melihatku dan melemparkan sebuah bola basket. Dengan sigap aku menangkapnya
dan menggiringnya ke ring. Rio mengejar dan merebut bola sehingga aku harus
berputar balik untuk merebutnya kembali. Permainan bertambah seru walau aku
tidak bisa bermain basket. Tapi, Rio terus mengajarkanku dan mengajakku
bermain. Kami pun tertawa terbahak bahak tanpa menghiraukan bel berbunyi. Tak
terasa hari sudah sore dan ketika kami keluar dari lapangan, sekolahan sudah
sepi. Kami pun memutuskan untuk pulang bersama.
Malam hari ketika aku belajar,
terdengar telepon ayahku berdering. Terdengar pembicaraan itu sangat serius dan
berbelit belit. Mungkin itu salah satu klien ayah yang komplain dengan produk
baru perusahaan. Namun, seketika telepon itu mati ayah tidak dengan segan segan
menggebrok pintu kamarku. Aku terperanjat dari tempat dudukku dan membukakan
pintu. Terlihat mata ayah yang tadinya
penuh kasih saying kini berubah menjadi merah dan garang.
“REINAA!!,” ayah membentakku
garang.
“A..a apa yah?,” sahutku dengan
gemetar.
“Kamu mau jadi apa? Selama jam
ke-3 sampai selesai kamu tidak mengikuti pelajaran. Kamu kemana? Dengan siapa?
Ada apa dengan kamu ini sehingga wali kelasmu menyekorsmu selama 2 hari?,”
tanya ayah panjang lebar.
“Maaf yah, tadi aku keasikan main
basket dengan Rio sehingga tidak mendengar bel,” jelasku dengan muka menunduk
dan meneteskan air mata.
“Memangnya kamu mau jadi pemain
basket? Berjalan saja tidak becus. Masih mending Rio cerdas. Lhah kamu..?,”
suara ayah bertambah besar bagaikan petir.
Sedangkan ibu dan adikku mulai datang
dan mencoba menenagkan ayah. Aku pun disuruh masuk kamar dan tidur untuk
menenangkan diri. Ibu mulai menutup pitu kamarku dan pergi. Sepintas aku
memikirkan Rio. Apakah dia juga bernasip sama denganku? Aku mencoba meraih
ponselku dan mengirim pesan singkat padanya.
Rio, sorry gara2 aku kamu jd ikut kena skors 2hari.
Bukan slhmu Rei, biarkan waktu yang menjawab dan berjalan apa adanya.
Ada apa dengannya? Kenapa jawabnya
begitu aneh? Aku tidak terlalu memikirkan itu. Tapi cuma ada satu yang menancap
dalam pikiranku yaitu bagaimana aku kembali baikan dengan ayahku? Aku harus
membalasnya dengan nilai nilaiku yang menjanjikan masa depanku. Aku juga akan
menjaga sikapku. Aku janji.
Ujian sudah di depan mata.
Aku telah merasa siap dengan soal ujian yang sudah mengibarkan
bendera merahnya. Aku akan membunuhnya dengan rumus rumus dan jawaban yang
tepat. Aku akan mengerjakannya dengan jujur dan tanpa menyontek. Aku juga tidak
membeli jawaban dari oknum.
Hari Senin,
dimulai dengan jadwal matematika. Aku berusaha untuk berkonsentrasi dan larut
dalam soal tanpa melihat di sekelilingku. Setelah aku selesai, aku langsung meneliti dan
mengumpul lembar jawabanku. Ya aku selesai pertama kali.
Hari Selasa
dan Rabu, seperti biasa aku dengan PDnya mengumpul lembar jawaban pertamakali. Tapi,
pada hari Kamis dan Jumat aku kalah cepat dengan Rio. Semoga saja nilaiku tidak
terpaut dengannya.
Aku menunggu
nilai UNAS dengan kegiatan yang hanya datar datar saja. Pagi hari aku membantu
ibu memasak dan membersihkan rumah, siang hari aku bermain dengan adikku dan
sore hari aku membantu ayah membersihkan kebun dan menyirami tanaman. Hampir satu
bulan aku seperti orang linglung. Tapi untungnya, nilai UNAS akan diumumkan
hari Senin besuk. Rasanya itu seperti lari di atas awan. Menyenangkan tetapi
juga mendebarkan. Aku hanya bisa berdoa untuk itu.
Kali ini
ayahku yang akan menghadiri di acara pengumuman kelulusan. Sungguh jantungku
tambah bergoncang goncang. Aku tidak berani membuka mata dan telingaku ketika
wali kelas menyampaikan nilai itu. Ketika ayah melihat nilaiku, matanya serasa
dua kali tambah lebar. Dan bola matanya yang hitam memandang tajam padaku. Aku semakin
takut dan tanganku mulai merinding. Seketika ayah memelukku dengan erat dan
membisikan padaku “ kamu akan mendapat paspornya nak”. Apa maksudnya?
Ternyata nilaiku
sempurna dan melebihi nilai Rio bahkan menjadi nilai tertinggi di sekolah ini. Ayah
memberikanku hadiah yang dulu dijanjikannya yaitu sekolah di Australia. Aku tak
percaya ayah punya ide seperti itu. Menurutku itu sangat berat karena aku harus
jauh dari keluarga dan juga Rio.
“ Rei,
selamat ya,” kata Rio yang tiba tiba muncul di hadapanku.
“Eh, iya
sama sama,” balasku.
“Kamu bener
mau ke Australia ya?”
“Ehmm,
belum tahu. Lagi pula aku..”
(Aku belum sempat melanjutkan kata kataku. Tetapi Rio telah
memotongnya)
“O ya, aku
sepertinya lebih berminat melanjutkan ke seminari”
“Haah?? Yang
benar? Jangannn”
“Lho
kenapa?”
“Karena
aku, ingin kamu selalu ada di sisihku,” aku menunduk dan lari ke tempat ayahku.
Ini hal
yang tergila yang penah aku lakukan. Tapi aku sudah tidak bisa memendam
perasaan ini. Mataku sudah tebutakan oleh ketulusan, kebijaksanaan dan
kebaikannya. Tapi apabila aku memang ditakdirkan Tuhan untuk tidak bersamanya, mungkin
aku butuh waktu yang lama untuk menerima.
Satu minggu
menjelang kepergianku ke negeri Kanguru itu, Rio mengajakku untuk makan malam.
Katanya untuk sekedar mengingat masa persahabatanku dengannya. Sekitar pukul
07.00 WIB ia datang menjemputku. Rio mengajakku makan di sebuah warung makan
yang kecil dan sederhana. Tetapi, ketika kami masuk ke dalam ternyata banyak
sekali pelanggan. Dan setelah kucicipi, rasa dan aroma hidangannya begitu
lezat.
“Wah enak sekali,” kataku.
“Kalau kamu ingin
lagi, pesan saja jangan malu malu. Biar aku yang bayar,” jawab Rio.
“Sayangnya perutku
sudah kenyang. Ternyata rasanya tidak sesederhana tempatnya ya,” pujiku.
“Iya. Seperti persahabatan
kita yang sederhana dan banyak orang yang tidak mengetahuinya,” jelas Rio.
Aku hanya
tersenyum ketika Rio mengatakan aku adalah sahabatnya. Ya sahabat saja mungkin
sudah cukup baginya. Tapi hatiku seperti tersengat lebah ketika mendengar itu.
“Rio, kamu
jadi melanjutkan ke seminari?”
“Kalau kamu
benar benar tidak setuju, aku bisa memilih kuliah menambil jurusan pendidikan
olahraga”
(Aku hanya
tersipu malu)
“Rei,
bisakah kamu melihat pertandingan basket untuk merayakan kelulusan SMA kita?”
“O..bisa. Kamu
main kan?”
“Iya”
“Kapan?”
“Besuk Kamis
pukul 15.00 WIB”
“Ok”
Setelah kami
kenyang, Rio mengantarkanku pulang. Dan aku berjanji hendak melihat
pertandingan basket hari Kamis besok.
Hari Kamis.
Tak terasa hari Kamis sudah datang. Hari ini aku sudah
berjanji pada Rio untuk melihat pertandingan basket. Aku mengajak Nofi untuk
melihatnya. Sengaja aku menjemput Nofi di kediamannya untuk sekedar melepas
kangen setelah serasa lama tidak bertemu.
“Nofi….aku
kangen”
“Aku juga
Rei..”
“Gimana
udah sembuh? Katanya kemaren kamu sakit”
“Udah Rei. Cuma gak enak badan aja
kok”
Selesai berbincang
bincang kami pun berangkat menuju lapangan basket di SMA kami. Tepatnya mantan
sekolah kami :D. Setelah sampai, ternyata sudah banyak teman teman yang datang.
Terlihat Rio dan teman temannya sedang pemanasan fisik. Ternyata Zog juga ikut
main satu tim dengan Rio. Wah pasti seru pertandingannya.
Aku dan
Nofi mengambil barisan depan sendiri. Maklum karena tinggi kami sedikit
terhambat. Terdengar wasit telah meniup peluit yang berarti permainan sudah
dimulai. Aku dan Nofi terus berteriak dengan menyebut nama Rio. Mungkin tingkah
kami sedikit kemayu tapi kan tidak masalah. Toh hanya untuk menyemangati saja. Terlihat
Rio dengan fasih terus mencetak point. Pada menit menit awal tim Rio masih unggul
15 point. Tetapi, ketika menit pertengahan ada insiden tragis yang membuat
jantungku hampir berhenti. Ketika Rio membawa bola dan melakukan dribel
terlihat ada Jarod yang berusaha menghalangi langkah Rio. Dan ternyata kaki Rio
terjegal oleh kali Jarod sehingga membuat Rio jatuh tersungkur. Tanpa diketahui,
Zog yang lari dari belakang Rio tidak bisa menghentikan langkahnya. Otomatis tulang
belakang Rio terinjak Zog. Terdengar Rio berteriak dan bersama teriakannya air
keluar dari mulut Rio.
Aku langsung
lari ke tempat Rio dan memeluknya. Terlihat darah mengucur dari hidung juga jidatnya
dan nafasnya terputus putus. Isaknya semakin keras sehingga membuat semua panik.
Terdengar suara Pak Toni (wasit) menelepon ambulance. Air mataku menetes
membasahi pipi Rio. Terdengar dari suara Rio yang amat kurang jelas “ Rei,ku
harap ini air mata terakhirmu.” Setelah ambulan datang, Rio dianggkat dan di
bawa ke ambulance. Dengan gesit aku mengambil tas Rio yang ada di barisan depan
penonton dan ikut mobil ambulance itu. Di perjalanan, aku terus menangis dan
Rio sempat mengusap air mataku dengan susah payah yang kemudian tanganya terjatuh
dari pipiku dan terbujur kaku. Ya, dia telah tiada. Tim medis telah berusaha
menolongnya tapi takdir berkata lain. Selamat tinggal Rio.
Selesai mengikuti
acara penguburan Rio, Zog menghampiriku dengan wajah yang kusut.
“Rei, sorry
ya gara gara aku semua jadi berantakan”
“Ini bukan
salahmu, tapi ini takdir yang harus dijalani”
“Sebenarnya
aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu bahkan sejak dulu aku ingin mengatakannya”
“Apa?”
“Sebenarnya
Rio suka kamu dari dulu. Dia juga tahu kalau yang menempelkan stiker di
motornya itu kamu. Karena sebenarnya waktu itu aku melihatmu dan aku
memberitahukan pada Rio. O ya, sebenarnya waktu aku menembak kamu, Rio terlebih
dahulu merencanakan ingin menembakmu. Tapi aku sedang marah sama Rio. Jadi aku
menggagalkan rencana itu. Sorry ya Rei”
“Ya
sudahlah semua telah berlalu Zog”
Aku berjanji
untuk Rio. Bahwa aku akan berusaha tegar menjalani hidup tanpa menitihkan air
mata, aku akan masih bisa hidup walau salah satu orang yang aku sayangi telah
tiada. Karena itu adalah bagian rencana Tuhan. Dan kini aku telah melanjutkan
studyku di Australia untuk menyongsong hari depan yang aku yakin pasti akan
lebih indah.
Sabtu indah.
Ya, itulah katalimat menarik yang ada di benakku saat ini. Sabtu yang tidak ada
ulangan ekonomi, tidak ada testu (tes Sabtu) dan rencana menarik bersama 3
sahabatku. Aku tahu gosib ini dari Dewia kelas XB. Semoga itu bukan PHP
(Pemberian Harapan Palsu) saja. Kami berencana membeli headphone di JEC yang
saat ini telah dibuka pameran bermacam alat elektronik. Mari kukenalkan dulu dengan 3 sahabatku. Yang
pertama, ada Ameyta si amoeba yang selalu bergerak ke mana-mana tanpa kita
sadari. Lalu ada Puspina si unyil yang kecil dan sok unyu. Terakhir ada Cesi si
dewi wc yang terlalu lancar pencernaanya hingga kemana-mana harus ke wc. Mau tau nama
dan karakterku? Bacalah cerita ini sampai selesai.
Kuawali pagi ini dengan berbasah-basah ria
karena hujan terus mengguyur dengan derasnya. Di tengah perjalanan menuju
sekolah, hujan telah reda. Namun, aku enggan melepas mantelku. Ya, menurut
perkiraanku mantel ini akan kering sesampai di sekolah dan tinggal melipatnya
saja. Sesampai di parkiran, banyak teman-teman yang melihat dan menertawakan
aku. Karena hanya aku yang memakai jas hujan dan itu pun sudah kering. Sampai
di kelas, semua temanku sudah beragumen mengenai pulang pagi sekitar jam 10.00
WIB. Saat jam istirahat selesai, aku melihat segerombolan kelas XI pulang yang
kemudian disusul kelas X. Aku, Puspina, Ameyta dan Cesi jadi pergi ke JEC.
Sebelumnya, kami harus ke rumah Cesi untuk menitipkan motor Ameyta. Aku juga
memberi waktu mereka untuk
sholat.
Jujur, aku belum hafal jalanke
JEC. Dan aku
memperbolehkan orang yang membaca cerita ini tertawa. Setelah sampai di JEC,
aku langsung menuju ke kamar mandi. Ya, aku terkenal beser. Di dalam, kami ikut
berdesak-desakan dengan lautan manusia. Berminat membeli headphone, kami
berkeliling untuk mencari yang sesuai koceng.
“ Kenapa rata-rata Rp 50.000,00 an ya?,”
gumam Pina dengan muka sokimut.
“ Engga, itu ada Rp 20.000 an,” sahut
Ameyta yang tiba-tiba ada disebelahku.
“ Tisa, ikut
aku cari mouse pad yuk,” pinta Cesi padaku.
“ Ok. Bentar
ya unyil and amoebaku,” candaku.
Setelah aku
dan Cesi berkeliling dan tidak membawa hasil, kami kembali ke tempat Pina dan
Ameyta. Ternyata disana ada banyak mouse pad yang menggiurkan. Ketika aku
hendak membeli headphone tang merah tadi, ternyata Meyta telah membelinya dan
yang putih telah dibeli Pina. Dan mereka tak mau aku membeli dengan warna yang
sama. Ya, aku lebih baik mengalah karena mengalah itu lebih terhormat dari pada
kalah. Saat kami berjalan, ada bule yang member brosur tapi, kami tidak terlalu
tahu apa isinya. Sepertinya semacam tawaran touring. Ketika kami berada di
bagian aksesori Hp, kami bertemu lagi dengan bule itu dan diberi brosur lagi.
Tapi kami tidak bisa mengatakan “tadi sudah dikasih” dalam bahasa Inggris.
“Eh tadi
udah dikasih kan?,” bisikku.
“Trus gimana
ngomongnya? Ga biasa ngomongnya,” kata Puspina.
“Udah terima
aja,” sahut Ameyta.
“Bahasa
Inggrinya “tadi” apa? Tanya Cesi.
“Tauk ah
gelap,” sahutku dengan nyengir.
Ternyata mbak-mbak yang sedang promosi di sebelah kami memperhatikan
segala tingkah laku kami dan tersenyum. Kami hanya nyengir dan kabur keluar
untuk mengisi perut. Aku, Cesi, Pina memilih mie ayam dan Amaeyta memilih
bakso. Kami memilih tempat yang teduh di bawah deklit yang sudah disediakan.
Saat pelayan sedang mencari keberadaan kami, kami sengaja tidak melihatnya
untuk sedikit mengerjai. Maklum anak muda mempunyai kebahagiaan tersendiri
untuk ini.
Setelah puas
berbincang dan berhubung perut sudah kenyang, kami kembali ke rumah Cesi.
Tiba-tiba sudah berjejer polisi menggiring para pengendara motor. Yah,
terjadilah apa yang terjadi. Kami ditilang dan haru membayar Rp 40.000,00.
Padahal kami masih memakai seragam juga telah menyerahka kartu pelajar.
“
Nasib-nasib,” gerutuku.
“ Edan!
Pelajar kota dilolosin,” sahut Cesi dengan muka geram.
“ Parah!!! walaupun sekolahan kita batas kota tetap aja masih kabupaten,”
sela Ameyta.
”…..,”Pina
hanya nyengir kecut.
Setelah sampai di rumah Cesi,kami berpamitan untuk pulang dan
berterimakasih atas traktirannya tadi. Sungguh semua hal yang terjadi hari ini
sangat mengesalkan.
Kejadian
razia di sekolah tadi pagi, membuatku takut memakai si Ray yaitu sepatuku yang
warna abu-abu dominan hitam. Si Ray yang sempat disita oleh Bapak Guru, membuatku
cemas. Untung aja aku nggak ikut dipanas-panasin.
Sepulang
sekolah aku menceritakan semua kejadian itu kepada Bapak.
“Pak,,tadi sepatuku disita. Katanya sih nggak boleh pake
sepatu kaya gini”.
“Ya udah nanti Bapak antar ke jalan Mataram. Kamu siap-siap
dulu sana,”kata Bapak.
Setelah siap,kami langsung cap cuz ke jalan Mataram,Jogja. Waktu
lampu merah aku melihat mas-mas pake rompi ungu,helm ungu,celana pencil warna
putih,sepatu Hip-Hop warna ungu terus motornya Satria. Badannya putih, berisi
lagi…pokoknya keren deh.
“Pak,lihat deh orang yang di samping
kiri kita,kerenkan kayak artis Korea ya..he he..”kataku sambil sembrono.
Eh si Bapak malah diem aja, gak
ngrespon amat deh. Tapi nggak papalah yang penting bisa ketemu sama mas itu di
beberapa kali lampu merah.
Setelah
melalui perjalanan panjang,kami sampai juga di jalan Mataram. Setelah turun
dari motor,dengan gesitnya aku mondar-mandir memilih calon sepatu yang memenuhi
syarat dan kriteria. Di toko Yoel Shoes kutemukan sepatu hitam polos yang kini
kuberi nama Blicky. Masalah sepatu udah kelar,tinggal kaos kakinya. Ku hampiri
toko kaos kaki di sebelah. Harga @kaos kaki Rp 5.000,00. Aku membeli 2 pasang
kaos kaki. Tapi,waktu membayar..aku keliru ambil uang yang Rp 5.000,00-an.
“Eh..bentar
buk,keliru”kataku.
"Iya si embak ini,orang satu aja harganya Rp5.000,00,”kata
pedagang agak judes.
Aku hanya bisa tercengir malu.
Selesai
berbelanja,kami tidaklah langsung pulang,melainkan mampir dulu ke pasar Burung.
Ternyata tidak hanya burung aja yang dijual di sana. Ada
ayam,anjing,ular,monyet ,kura-kura, dll. Setelah berkeliling di pasar itu dan
tidak tahan baunya, kami langsung meluncur pulang. Sesampainya di rumah, tidak
terasa hari sudah petang.