Follow Us @soratemplates

Rabu, 25 September 2013

Selasa, 24 September 2013

puisi singkat

05.00 0 Comments
KAPAS YANG TERTETES 
TINTA HITAM


Dahulu.... kau putih 
Bersih tiada noda
Lembut nan berseri
Bening mata memandangmu

Hembusan angin nan kencang
Tlah membawamu ke alam bebas
Jauh menghilang...melayang layang
Terombang ambing di udara

Hingga membuatmu menghitam
Tertetes tinta tnta hitam dunia
Putih bersih, kini tlah berubah
Menjadi sampah yang tak berguna

#puisi ini bermakna : apabila seseorang yang awalnya masih alim atau polos tapi salah memilih pergaulan, seseorang itu akan hancur dan tidak berguna bagi orang lain. lebih tidak bernilai di mata orang lain. 
trimakasih :D

cerpen 3

04.51 0 Comments

Air Mata Terakhir


Bahagia itu tidak harus di kayangan. Cukup menari denganmu di atas awan yang bertabur cococips dipayungi toping cokelat yang tebal anti cahaya dan.......BRAAKKKK..... Seketika, aku terbangun dari lamunanku dan melihat ice creamku jatuh disambar bal basket si Rio. 

"Ya Tuhan indahnya," bisikku lirih.

Aku tercenganga ketika Rio menghampiriku. Matanya yang berbinar sudah sering kulihat. Tapi, lengan yang kuat dan putih terlihat tepat di depan mataku membuat ku tersihir cinta. Ya, dia adalah idola hatiku sejak kami masih berteman di taman kanak-kanak. 

" Aduh, maaf. Kamu tidak apa-apa?"
" oh...nnggg ngg gak kok hehe.."
"siip"
"ha..? Cuma gitu aja??," kataku dalam hati.

Trenggggg treeeng...
Bel masuk sudah menjerit-jerit memanggil para siswa SMA Prima untuk mengikuti pelajaran kembali. Aku kembali duduk di bangkuku yang paling belakang di sebelah Nofi. Sengaja biar bisa lihat Rio sepuasnya. Sebenarnya Nofi tidak terlalu suka duduk di belakang. Tapi, dia kan teman setiaku yang selalu bersamaku dimana pun. Kecuali tadi di lapangan basket. Aku sengaja meninggalnya yang sibuk baca buku di kantin. Aneh-aneh saja bisa-bisa bukunya yang dimakan.

"Dari mana Re?"
"Dari lapangan basket "
"Ngapain? Jadi juru bersih-bersih keringat?"
"Iya...bisa jadi...tidak..tidak"
"LEBAY"

Pelajaran biologi mulai dengan bab baru. Padahal bab kemaren aja nilaiku belum tuntas. Memang kalau suruh menghafal ingatanku tidak seperti Nofi. Bukannya sombong, tapi kalau menghitung, lumayanlah lebih mending dari pada Nofi. Materi biologi kusimpan di otak depan. Karena otak tengah dan belakangku sudah sibuk dengan setumpuk angka-angka.
Trenggggg..... Treeenggg...treeeengg
Bel tanda pulang yang merdu menyadarkan mataku untuk melihat Rio. Tapi, dimana dia?  Aku tidak melihatnya setelah aku menengok ke jam dinding sebentar saja. Yah... sudahlah besuk juga ketemu lagi. 

"Reina..."
"Iya"
"Ini ice cream untuk mengganti milikmu tadi. Sama seperti tadi. Bertoping cokelat tebal dan di dalamnya ada cococipsnya"
"Ha?...makasih. Tapi ti.."
"Suadahlah ini, dimakan. Biar kutemani kamu makan"

Apa?? Rio memanggilku lalu menarik tanganku menuju lapangan basket? Mengganti ice creamku lalu menemaniku makan pula. Wah seperti melamun di bawah matahari "berkeringat". Sepertinya aku mulai mati gaya dan kehilangan banyak ion. Kalian tahu rasanya? Hatiku pengen meledak ledak, jantungku mulai berdebar dan kehilangan kendali. 
"O iya Re, 3 bulan lagi kita kan udah ujian nasional, kamu mau melanjutkan kuliah di mana?"
"Haahhhh?? 3 bulan??",sontak, aku hampir tersendak.
"Iya. Masa kamu tidak memperhitungkan dari sekarang?"
"Serasa masih TK. Dan sibuk memperhitungkan waktuku melihatmu", kataku lirih.
"Apa?? Melihat hantu??"
"Ha?? Sudah lupakan. Aku mau pulang. Toh ice creamku sudah habis”
"Ok. Hati hati ya"

Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Di perjalanan aku sibuk memikirkan time managementku untuk waktu 3 bulan yang sangat singkat. Tapi, di dalam pikiranku sudah banyak tersita untuk memikirkan Rio. Sedangkan Rio tidak pernah memperhatikanku sedetail itu. Mulai sekarang, aku berjanji akan belajar dengan sungguh sungguh dan penuh semangat untuk menyaingi Rio si bintang kelas itu. Dengan begitu, Rio akan melirik padaku. Hahaha.. 
Baru sadar, ternyata dari tadi aku senyum senyum sendiri dan ditertawakan oleh pengemis yang berada di sebrang jalan. Pokoknya aku tidak mau ini hanya fikir belaka dan aku harus benar benar mencapai target. Aku tidak mau ditertawakan anak jalanan karena kegagalanku.


*******

#1 bulan kemudian

Satu bulan ini memang melelahkan. Jadwal keseharianku kuhabiskan untuk belajar dan les. Setiap malam aku belajar dari pukul 18.00-20.00 WIB. Nanti bangun lagi sekitar pukul 03.00 dini hari. Belum siang sepulang sekolah aku harus les. Rasanya otakku mulai mencair dan nyawaku mulai hilang satu persatu. Apalagi sudah sebulan ini aku duduk di depan. Otomatis jarang melihat Rio yang suka makan permen xylitol waktu pelajaran.
Pagi hari di ruang makan. Ayah, Ibu dan adikku memandangiku yang sedang sarapan. Memang aneh rasanya bila terlalu banyak mata yang memandangiku.

"Apa? Ada apa denganku ada yang aneh ya?"
"Kaka sebulan ini kelihatan lebih rajin dariku"
"O...jelas"
"Sombong! Kaka kan cewek seharusnya rajin sejak dulu dong"
"Kamu kan cowo. Seharusnya ngga' cerewet dong"
"Sudah sudah mungkin kaka'mu baru sadar kalau ujian sudah dekat. Iya kan Bu?"
"Iya Yah"
“Kalau kamu bisa mendapat nilai lebih bagus dari Rio, apalagi bisa menjadi juara umum. Ayah akan memberimu kejutan yang besar. Pasti kamu suka”.
“Memangnya apa yah??”
“Tunggu saja”

Memang satu bulan ini, nilaiku sudah jauh progres. Bahkan hampir menyamai nilai Rio. Pantas saja keluargaku kaget mendengan laporan dari wali kelas Rabu kemarin di rapat sekolah.
By the way, aku jadi penasaran dengan kejutan dari Ayah. Kali ini hanya satu yang ada dipikiranku yaitu dijodohkan dengan Rio. Memang aneh, siapa yang tahu kalau aku suka Rio? Nofi saja tidak begitu memahami perasaanku kepada Rio. Tapi, mungkin saja kan karena Ibunya Rio itu teman akrap Ayah dan Ibuku. Dari pada pusing memikirkan hal yang bodoh, mending aku segera menaiki skuter maticku yang dari tadi menunggu di garasi. Berangkat sekolah lebih pagi daripada si Rendi (adikku), wah hebat!

Treeeengggg ……trreeenggg
Aku terkesiap mendengar bel tanda masuk kelas ketika aku sibuk membaca buku. Terlihat Rio dan Nofi sedang berbincang bincang asik di depan kelas. Hatiku, oh hatiku, sunyi senyap tak gemerlap dan serasa dicabik cabik harimau. Untungnya Bu Isna segera masuk ruang kelas dan menyuruh mereka untuk duduk. Aji gila, pagi pagi sudah panas ngelihatin mereka. Sial!! Jangan jangan mereka salingg…..

Plak….
“Aw..!!,” aku menjert. Pipiku panas kena gamparan tangan si Zog yang gemuk.
“Sorry Re, ada nyamuk di pipimu,” jelas si Zog lantang.
 Seisi kelas melihatku dan menertawakan aku. Termasuk Rio dan Nofi yang jelas jelas sudah kuanggap teman baikku. Gara gara si Zon alias si zona gemuk aku jadi pusat perhatian. Aku mengikuti pelajaran biologi dengan perasaan sebal setengah mati.

Trreeengg…trreeengg
Ya, tentu aku tidak asing dengan bel itu. Langsung saja aku melarikan diri ke kantin tanpa mengajak Nofi. Seperti biasa, aku membeli ice cream kesukaanku. Selintas, kulihat sosok Nofi berjalan menuju lapangan basket. Mataku menyipit dan penuh selidik. Apa yang dikerjakan Nofi di sana?? Mencariku?? Atau mencari Rio?? Aku lari dari kantin menuju parkiran. Entah kenapa aku ingin membenamkan diriku dari Nofi dan Rio.

“Sial!! Hari ini adalah hari yang mengenaskan. Ada apa dengan mereka berdua? Apa aku haru bilang secara blak blakan tentang perasaanku kepada Rio? Tidak…tidak. Pasti ada jalan yang lebih indah,” aku berkata lirih menuju tempat duduk yang ada di sebelah pohon beringin.

Untuk menghilangkan rasa penatku, aku menendang kerikil yang ada di depan kakiku. Plak ….kerikil itu tergelempar dan menabrak sebuah motor yang tidak asing kulihat. Ya, itu motor Rio yang tidak jauh dari motorku. Tapi tiba tiba alarm motor itu berbunyi keras. Aku gugup harus bagaimana. Kemudian aku mengambil stiker di helmku yang bertuliskan “I LOvE U” dan menempelkannya ke kaca spidometer motor Rio. Entah ide gila apa itu,dan datang dari mana.  Kemudian aku lari sekencang kencangnya.
Ketika aku menengok sebentar ke arah motor Rio, sontak aku syok melihat ada sesosok besar yang tiba tiba muncul di hadapanku. Aku tidak dapat mengerem langkahku seperti motor CBS. Terjadilah apa yang terjadi kepadaku dan kepadamu. Aku menabrak si Zog yang sedang lari dari arah barat.

“AWAASS!!!,” aku berteriak sebisa mungkin.
“AAAGGHH,” Zog terkaget.
“Aww…,” rintihku ketika ku tau Zog menabrakku hingga aku terpental ke selokan.
            “Maaf Re, aku tidak sengaja”
           
            Kemudian Zog menggendongku hingga ke UKS walaupun aku sudah meronta ronta tidak mau. Semua keadaan bertambah ricuh. Bekas luka lukaku bertambah perih ketika PMR mengoleskan obat merah.

            “Rei,kamu tidak apa apa?,” tanya Nofi yang baru saja datang.
            “Lumayan…lumayan hancur,” balasku sambil nyengir kecut.
            “Kamu ini, masih sempat bercanda,” kata Nofi.
            “Gimana rasanya?,” sahut Rio yang datang bersama Zog.
(aku dan Nofi menengok kea rah Rio bersamaan)
        “Lebih sakit daripada terkena bola basketmu,” jawabku sambil memutarkan bola mataku 360 derajat.
(Semua tertawa)

Setelah kejadian itu terjadi, aku akan lebih berhati hati dan tidak ceroboh dalam melakukan suatu hal. 



#3 minggu menjelang UNAS


Matahari mulai terbenam, awan pun mulai menjelma menjadi merah keorenan. Aku duduk termenung di taman belakang rumah. Di situ aku mengingat kejadian di kelas tadi. Kejadian yang membuatku bangga akan kemampuanku. Aku mendapat nilai try out tertinggi di kelas. Itu berarti aku mendapat nilai lebih tinggi daripada Rio. Sehingga dia mengucapkan selamat dan menjabat tanganku. Ternyata usahaku telah membuahkan hasil.

“Rei….Reina…makan dulu nak”
(Suara ibu yang lembut telah masuk dalam telingaku)
“Iya Bu…”

Aku berjalan menuju ruang makan yang berada di sebelah dapur. Mataku sedikit terbelalak karena menu yang ibu sediakan lebih lengkap dari biasanya. Piringnya pun menjadi dua kali lebih banyak dan tertata rapih.

“Wah..wah..wah, ada pesta ya?,” tanyaku penuh selidik.
“Bukan, ini hanya sambutan kecil karena Om Dio suami Tante Rika telah pulang dari Kalimantan,” jawab ibu dengan nada bahagia.
“Tante Rika Ibunya Rio?!,” tanyaku dengan begitu semangat.
“Iya, Om dio baru datang tadi pagi dan ingin berkumpul bersama kita,” jelas Ibu.
“Ok. Aku akan membantu Ibu menyiapkan segalanya.”

Oh Tuhan… pasti menyenangkan bertemu Rio di luar jam sekolah. Andai mereka menginap di sini, pasti lebih seru. Tapi, mereka berkunjung di sini sebentar saja aku sudah bahagia.

Tok..tok …tingtung…tingtung
Bel sudah bersiul menandakan mereka sudah datang.  Aku cepat cepat berlari dan membukakan pintu. Ya, benar mereka datang. Ada Om Dio, Tante Rika, Risa (adik Rio) dan tentunya Rio yang paling kunanti nanti. Tapi, kenapa setelah aku membukakan pintu mereka malah tertawa tebahak bahak?

“Hahaha, kamu ini habis ngapain Re?,” tanya Om Dio.
“E..e..emangnya ada yang salah denganku?,” aku balik bertanya dengan suara terbata bata.
“Ya, jelas dong. Orang mukamu coreng moreng bigini.”
“What…? Tisu tisu…e kaca kaca.”
(Aku menjadi salah tingkah. Pasti gara gara pemanggang sate yang aku angkat tadi mukaku jadi coreng moreng begini).

Setelah aku mempersilahkan mereka masuk, aku langsung meluncur ke kamar mandi untuk membersihkan noda di wajahku. Setelah selesai dari kamar mandi, aku ikut bergabung di ruang makan. Semuanya ternyata sudah asik menikmati hidangan. Kebetulan, ada kursi yang kosong di sebelah Rio. Kesempatanku untuk menambah akrab dengannya. 

“Hi…,” sapaku.
“Hi juga, sudah lama ya kita tidak berkumpul begini.”
“Iya. Kamu pasti kangen banget kan sama aku…hehe,” candaku dengan agak memberankan diri.
“Idih..tiap hari juga ketemu kali,” ejeknya.
“Besuk mau lanjut kuliah jurusan apa?”
“Aku masih bingun antara jadi Guru olahraga atau ke seminari untuk jadi Pastur. Kamu?”
“Haaah apa?!! Kamu mau jadi Pastur?”
           
Aku terkaget setengah mati dan kupingku serasa panas mendengar Rio hendak menjadi Pastur. Seketika harapanku musnah untuk memiliki Rio karena Pastur tidak boleh memiliki istri. Tetapi, aku mencoba untuk tenang dan membujuk Rio agar jadi guru olahraga saja.

“Mending kamu jadi guru olahraga saja. Toh kamu juga jago basket. Kamu juga anak laki laki satu satunya di keluargamu kan.”
“Iya sih. Akan kupertimbangkan pendapatmu”

Setelah kami selesai makan dan berbincang bincang, keluarga Rio segera berpamitan karena hari sudah mulai larut malam. Kami  pun mempersilahkan mereka untuk pulang.
Tidak ada pembantu di rumah kami. Jadi, aku memberikan malam ini khusus untuk membantu pekerjaan ibuku yang super duper banyak.

Pagi hari di sekolah.
Aku bertemu Rio di parkiran dan berjalan bersama untuk masuk kelas.
           
“Rio..”
“Eh, Reina. Kamu kelihatan masih mengantuk”
“(aku tersenyum)”
“Yah..malah tersenyum. Makasih lho sambutannya tadi malam”
“Iya..sama sama”

Tiba tiba ada Zog yang merangkul bahu kami dari belakang. Aku dan Rio sempat terkaget dan kami tertawa terpingkal pingkal. Aku, Rio dan Zog pun berjalan menuju kelas bersama sama.
Sesampai di kelas, ternyata Pak Indra guru matematika kami sudah memulai pelajaran. Berhubung Pak Indra merupakan salah satu guru kiler di sekolah ini, kami pun dihukum beliau untuk menyapu di gedung aula. Sungguh menyebalkan! Zog selalu mengganggu acara berduaku dengan Rio. Ketika aku mendekati Rio, Zog selalu lebih dulu dekat dekat dan menjahili aku. Rio yang pendiam hanya bisa ikut tertawa. Setelah hukuman kami selesaikan, kami boleh mengikuti pelajaran lagi seperti biasa.
Trreeeenggg….treeeenngg
Bel istirahat telah menari nari di telingaku. Aku bergegas mengajak Nofi untuk jajan di kantin. Setiba di kantin, kami terheran heran karena kantin begitu sepi. Tapi, setelah aku satu kali melangkah ke depan, banyak orang yang muncul dari bawah meja dan menyanyikan lagu yang berlirik “maukah kamu jadi pacarku…yang salalu setya menemaniku….” Seketika, Zog muncul di belakangku dengan membawa bunga yang kelihatannya baru dipetik dari taman sekolah.

“Reina Riona Lalita, maukah kamu menjadi pacarku?”
APPAA??? Zog menembakku??? Oh Tuhan, aku harus bagaimana ini…
“A…aa..ku…”
(Belum sempat melanjutkan kalimatku, aku melihat Rio datang dan tiba tiba pergi menjauh)  
“Aku apa?”
“Aku tidak tega mengucapkan ini. Tapi, aku sudah menyukai seseorang”
“Sudah kuduga. Tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu”
“Ayolah, lebih baik kita memikirkan UNAS yang tinggal sebentar lagi”

Zog kemudian pergi dengan membenamkan wajahnya dan membuang bunga itu ke tong sampah. Semua murid yang ada di kantin menyorakiku seolah olah aku seorang penjahat. Aku lari menuju lapangan basket dan meninggalkan Nofi sendirian. Hatiku seakan sepi dan air mataku tak terasa menetes di pipi.

“Kenapa bukan kamu Ri? Ternyata Zog lebih berani dari pada kamu. Atau kamu memang tidak suka dengan ku dan hanya menganggapku teman?,” bisikku lirih.

Terdengar suara bola basket yang sedang dimainkan mendekat dan mendekat. Siapa itu? Rio, Zog atau para siswa yang akan berolahraga? Aku hanya bisa diam dan mengusap air mataku. Kemudian aku menengok kea rah suara itu. Ternyata hanya segelintir bola terpental pental yang kelihatannya dilempar dari luar. Aku beranjak pergi dan tiba tiba ada yang menepuk pundakku. Dengan secepat kilat aku menengok. Dan ternyata Rio ada di belakangku dengan membawa ice cream kesukaanku.

“Rio”
“Duduklah, dan makan ice cream ini”
(Aku hanya bisa menunduk dan menuruti perkataan Rio)

Rio menungguku untuk menghabiskan ice cream ini. Setelah ice cream coklat itu masuk dalam perutku semua, sejenak Rio melihatku dan melemparkan sebuah bola basket. Dengan sigap aku menangkapnya dan menggiringnya ke ring. Rio mengejar dan merebut bola sehingga aku harus berputar balik untuk merebutnya kembali. Permainan bertambah seru walau aku tidak bisa bermain basket. Tapi, Rio terus mengajarkanku dan mengajakku bermain. Kami pun tertawa terbahak bahak tanpa menghiraukan bel berbunyi. Tak terasa hari sudah sore dan ketika kami keluar dari lapangan, sekolahan sudah sepi. Kami pun memutuskan untuk pulang bersama.
Malam hari ketika aku belajar, terdengar telepon ayahku berdering. Terdengar pembicaraan itu sangat serius dan berbelit belit. Mungkin itu salah satu klien ayah yang komplain dengan produk baru perusahaan. Namun, seketika telepon itu mati ayah tidak dengan segan segan menggebrok pintu kamarku. Aku terperanjat dari tempat dudukku dan membukakan pintu.  Terlihat mata ayah yang tadinya penuh kasih saying kini berubah menjadi merah dan garang.

“REINAA!!,” ayah membentakku garang.
“A..a apa yah?,” sahutku dengan gemetar.
“Kamu mau jadi apa? Selama jam ke-3 sampai selesai kamu tidak mengikuti pelajaran. Kamu kemana? Dengan siapa? Ada apa dengan kamu ini sehingga wali kelasmu menyekorsmu selama 2 hari?,” tanya ayah panjang lebar.
“Maaf yah, tadi aku keasikan main basket dengan Rio sehingga tidak mendengar bel,” jelasku dengan muka menunduk dan meneteskan air mata.
“Memangnya kamu mau jadi pemain basket? Berjalan saja tidak becus. Masih mending Rio cerdas. Lhah kamu..?,” suara ayah bertambah besar bagaikan petir.

Sedangkan ibu dan adikku mulai datang dan mencoba menenagkan ayah. Aku pun disuruh masuk kamar dan tidur untuk menenangkan diri. Ibu mulai menutup pitu kamarku dan pergi. Sepintas aku memikirkan Rio. Apakah dia juga bernasip sama denganku? Aku mencoba meraih ponselku dan mengirim pesan singkat padanya.


Rio, sorry gara2 aku kamu jd ikut kena skors 2hari.



                              Bukan slhmu Rei, biarkan waktu yang menjawab dan berjalan apa adanya.




Ada apa dengannya? Kenapa jawabnya begitu aneh? Aku tidak terlalu memikirkan itu. Tapi cuma ada satu yang menancap dalam pikiranku yaitu bagaimana aku kembali baikan dengan ayahku? Aku harus membalasnya dengan nilai nilaiku yang menjanjikan masa depanku. Aku juga akan menjaga sikapku. Aku janji.


Ujian sudah di depan mata.
Aku telah merasa siap dengan soal ujian yang sudah mengibarkan bendera merahnya. Aku akan membunuhnya dengan rumus rumus dan jawaban yang tepat. Aku akan mengerjakannya dengan jujur dan tanpa menyontek. Aku juga tidak membeli jawaban dari oknum.
            Hari Senin, dimulai dengan jadwal matematika. Aku berusaha untuk berkonsentrasi dan larut dalam soal tanpa melihat di sekelilingku.  Setelah aku selesai, aku langsung meneliti dan mengumpul lembar jawabanku. Ya aku selesai pertama kali.
            Hari Selasa dan Rabu, seperti biasa aku dengan PDnya mengumpul lembar jawaban pertamakali. Tapi, pada hari Kamis dan Jumat aku kalah cepat dengan Rio. Semoga saja nilaiku tidak terpaut dengannya.
            Aku menunggu nilai UNAS dengan kegiatan yang hanya datar datar saja. Pagi hari aku membantu ibu memasak dan membersihkan rumah, siang hari aku bermain dengan adikku dan sore hari aku membantu ayah membersihkan kebun dan menyirami tanaman. Hampir satu bulan aku seperti orang linglung. Tapi untungnya, nilai UNAS akan diumumkan hari Senin besuk. Rasanya itu seperti lari di atas awan. Menyenangkan tetapi juga mendebarkan. Aku hanya bisa berdoa untuk itu.
            Kali ini ayahku yang akan menghadiri di acara pengumuman kelulusan. Sungguh jantungku tambah bergoncang goncang. Aku tidak berani membuka mata dan telingaku ketika wali kelas menyampaikan nilai itu. Ketika ayah melihat nilaiku, matanya serasa dua kali tambah lebar. Dan bola matanya yang hitam memandang tajam padaku. Aku semakin takut dan tanganku mulai merinding. Seketika ayah memelukku dengan erat dan membisikan padaku “ kamu akan mendapat paspornya nak”. Apa maksudnya?
            Ternyata nilaiku sempurna dan melebihi nilai Rio bahkan menjadi nilai tertinggi di sekolah ini. Ayah memberikanku hadiah yang dulu dijanjikannya yaitu sekolah di Australia. Aku tak percaya ayah punya ide seperti itu. Menurutku itu sangat berat karena aku harus jauh dari keluarga dan juga Rio.
            “ Rei, selamat ya,” kata Rio yang tiba tiba muncul di hadapanku.
            “Eh, iya sama sama,” balasku.
            “Kamu bener mau ke Australia ya?”
            “Ehmm, belum tahu. Lagi pula aku..”
(Aku belum sempat melanjutkan kata kataku. Tetapi Rio telah memotongnya)
            “O ya, aku sepertinya lebih berminat melanjutkan ke seminari”
            “Haah?? Yang benar? Jangannn”
            “Lho kenapa?”
            “Karena aku, ingin kamu selalu ada di sisihku,” aku menunduk dan lari ke tempat ayahku.

            Ini hal yang tergila yang penah aku lakukan. Tapi aku sudah tidak bisa memendam perasaan ini. Mataku sudah tebutakan oleh ketulusan, kebijaksanaan dan kebaikannya. Tapi apabila aku memang ditakdirkan Tuhan untuk tidak bersamanya, mungkin aku butuh waktu yang lama untuk menerima.
            Satu minggu menjelang kepergianku ke negeri Kanguru itu, Rio mengajakku untuk makan malam. Katanya untuk sekedar mengingat masa persahabatanku dengannya. Sekitar pukul 07.00 WIB ia datang menjemputku. Rio mengajakku makan di sebuah warung makan yang kecil dan sederhana. Tetapi, ketika kami masuk ke dalam ternyata banyak sekali pelanggan. Dan setelah kucicipi, rasa dan aroma hidangannya begitu lezat.
           
“Wah enak sekali,” kataku.
“Kalau kamu ingin lagi, pesan saja jangan malu malu. Biar aku yang bayar,” jawab Rio.
“Sayangnya perutku sudah kenyang. Ternyata rasanya tidak sesederhana tempatnya ya,” pujiku.
“Iya. Seperti persahabatan kita yang sederhana dan banyak orang yang tidak mengetahuinya,” jelas Rio.
             
            Aku hanya tersenyum ketika Rio mengatakan aku adalah sahabatnya. Ya sahabat saja mungkin sudah cukup baginya. Tapi hatiku seperti tersengat lebah ketika mendengar itu.
           
            “Rio, kamu jadi melanjutkan ke seminari?”
            “Kalau kamu benar benar tidak setuju, aku bisa memilih kuliah menambil jurusan pendidikan olahraga”
            (Aku hanya tersipu malu)
            “Rei, bisakah kamu melihat pertandingan basket untuk merayakan kelulusan SMA kita?”
            “O..bisa. Kamu main kan?”
            “Iya”
            “Kapan?”
            “Besuk Kamis pukul 15.00 WIB”
            “Ok”
            Setelah kami kenyang, Rio mengantarkanku pulang. Dan aku berjanji hendak melihat pertandingan basket hari Kamis besok.


Hari Kamis.
Tak terasa hari Kamis sudah datang. Hari ini aku sudah berjanji pada Rio untuk melihat pertandingan basket. Aku mengajak Nofi untuk melihatnya. Sengaja aku menjemput Nofi di kediamannya untuk sekedar melepas kangen setelah serasa lama tidak bertemu.

            “Nofi….aku kangen”
            “Aku juga Rei..”
            “Gimana udah sembuh? Katanya kemaren kamu sakit”
“Udah Rei. Cuma gak enak badan aja kok”
            Selesai berbincang bincang kami pun berangkat menuju lapangan basket di SMA kami. Tepatnya mantan sekolah kami :D. Setelah sampai, ternyata sudah banyak teman teman yang datang. Terlihat Rio dan teman temannya sedang pemanasan fisik. Ternyata Zog juga ikut main satu tim dengan Rio. Wah pasti seru pertandingannya.
            Aku dan Nofi mengambil barisan depan sendiri. Maklum karena tinggi kami sedikit terhambat. Terdengar wasit telah meniup peluit yang berarti permainan sudah dimulai. Aku dan Nofi terus berteriak dengan menyebut nama Rio. Mungkin tingkah kami sedikit kemayu tapi kan tidak masalah. Toh hanya untuk menyemangati saja. Terlihat Rio dengan fasih terus mencetak point. Pada menit menit awal tim Rio masih unggul 15 point. Tetapi, ketika menit pertengahan ada insiden tragis yang membuat jantungku hampir berhenti. Ketika Rio membawa bola dan melakukan dribel terlihat ada Jarod yang berusaha menghalangi langkah Rio. Dan ternyata kaki Rio terjegal oleh kali Jarod sehingga membuat Rio jatuh tersungkur. Tanpa diketahui, Zog yang lari dari belakang Rio tidak bisa menghentikan langkahnya. Otomatis tulang belakang Rio terinjak Zog. Terdengar Rio berteriak dan bersama teriakannya air keluar dari mulut Rio.
            Aku langsung lari ke tempat Rio dan memeluknya. Terlihat darah mengucur dari hidung juga jidatnya dan nafasnya terputus putus. Isaknya semakin keras sehingga membuat semua panik. Terdengar suara Pak Toni (wasit) menelepon ambulance. Air mataku menetes membasahi pipi Rio. Terdengar dari suara Rio yang amat kurang jelas “ Rei,ku harap ini air mata terakhirmu.” Setelah ambulan datang, Rio dianggkat dan di bawa ke ambulance. Dengan gesit aku mengambil tas Rio yang ada di barisan depan penonton dan ikut mobil ambulance itu. Di perjalanan, aku terus menangis dan Rio sempat mengusap air mataku dengan susah payah yang kemudian tanganya terjatuh dari pipiku dan terbujur kaku. Ya, dia telah tiada. Tim medis telah berusaha menolongnya tapi takdir berkata lain. Selamat tinggal Rio.
            Selesai mengikuti acara penguburan Rio, Zog menghampiriku dengan wajah yang kusut.

            “Rei, sorry ya gara gara aku semua jadi berantakan”
            “Ini bukan salahmu, tapi ini takdir yang harus dijalani”
            “Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu bahkan sejak dulu aku ingin mengatakannya”
            “Apa?”
            “Sebenarnya Rio suka kamu dari dulu. Dia juga tahu kalau yang menempelkan stiker di motornya itu kamu. Karena sebenarnya waktu itu aku melihatmu dan aku memberitahukan pada Rio. O ya, sebenarnya waktu aku menembak kamu, Rio terlebih dahulu merencanakan ingin menembakmu. Tapi aku sedang marah sama Rio. Jadi aku menggagalkan rencana itu. Sorry ya Rei”
            “Ya sudahlah semua telah berlalu Zog”
            Aku berjanji untuk Rio. Bahwa aku akan berusaha tegar menjalani hidup tanpa menitihkan air mata, aku akan masih bisa hidup walau salah satu orang yang aku sayangi telah tiada. Karena itu adalah bagian rencana Tuhan. Dan kini aku telah melanjutkan studyku di Australia untuk menyongsong hari depan yang aku yakin pasti akan lebih indah. 

Sabtu, 21 September 2013

cerpen 2

05.23 0 Comments

SABTU INDAH ??

            Sabtu indah. Ya, itulah katalimat menarik yang ada di benakku saat ini. Sabtu yang tidak ada ulangan ekonomi, tidak ada testu (tes Sabtu) dan rencana menarik bersama 3 sahabatku. Aku tahu gosib ini dari Dewia kelas XB. Semoga itu bukan PHP (Pemberian Harapan Palsu) saja. Kami berencana membeli headphone di JEC yang saat ini telah dibuka pameran bermacam alat elektronik.  Mari kukenalkan dulu dengan 3 sahabatku. Yang pertama, ada Ameyta si amoeba yang selalu bergerak ke mana-mana tanpa kita sadari. Lalu ada Puspina si unyil yang kecil dan sok unyu. Terakhir ada Cesi si dewi wc yang terlalu lancar pencernaanya hingga kemana-mana harus ke wc. Mau tau nama dan karakterku? Bacalah cerita ini sampai selesai.
             Kuawali pagi ini dengan berbasah-basah ria karena hujan terus mengguyur dengan derasnya. Di tengah perjalanan menuju sekolah, hujan telah reda. Namun, aku enggan melepas mantelku. Ya, menurut perkiraanku mantel ini akan kering sesampai di sekolah dan tinggal melipatnya saja. Sesampai di parkiran, banyak teman-teman yang melihat dan menertawakan aku. Karena hanya aku yang memakai jas hujan dan itu pun sudah kering. Sampai di kelas, semua temanku sudah beragumen mengenai pulang pagi sekitar jam 10.00 WIB. Saat jam istirahat selesai, aku melihat segerombolan kelas XI pulang yang kemudian disusul kelas X. Aku, Puspina, Ameyta dan Cesi jadi pergi ke JEC. Sebelumnya, kami harus ke rumah Cesi untuk menitipkan motor Ameyta. Aku juga memberi waktu mereka untuk sholat.
Jujur, aku belum hafal jalan ke JEC. Dan aku memperbolehkan orang yang membaca cerita ini tertawa. Setelah sampai di JEC, aku langsung menuju ke kamar mandi. Ya, aku terkenal beser. Di dalam, kami ikut berdesak-desakan dengan lautan manusia. Berminat membeli headphone, kami berkeliling untuk mencari yang sesuai koceng.
“ Kenapa rata-rata Rp 50.000,00 an ya?,” gumam Pina dengan muka sok imut.
“ Engga, itu ada Rp 20.000 an,” sahut Ameyta yang tiba-tiba ada di sebelahku.
            “ Tisa, ikut aku cari mouse pad yuk,” pinta Cesi padaku.
            “ Ok. Bentar ya unyil and amoebaku,” candaku.
            Setelah aku dan Cesi berkeliling dan tidak membawa hasil, kami kembali ke tempat Pina dan Ameyta. Ternyata disana ada banyak mouse pad yang menggiurkan. Ketika aku hendak membeli headphone tang merah tadi, ternyata Meyta telah membelinya dan yang putih telah dibeli Pina. Dan mereka tak mau aku membeli dengan warna yang sama. Ya, aku lebih baik mengalah karena mengalah itu lebih terhormat dari pada kalah. Saat kami berjalan, ada bule yang member brosur tapi, kami tidak terlalu tahu apa isinya. Sepertinya semacam tawaran touring. Ketika kami berada di bagian aksesori Hp, kami bertemu lagi dengan bule itu dan diberi brosur lagi. Tapi kami tidak bisa mengatakan “tadi sudah dikasih” dalam bahasa Inggris.
            “Eh tadi udah dikasih kan?,” bisikku.
            “Trus gimana ngomongnya? Ga biasa ngomongnya,” kata Puspina.
            “Udah terima aja,” sahut Ameyta.
            “Bahasa Inggrinya “tadi” apa? Tanya Cesi.
            “Tauk ah gelap,” sahutku dengan nyengir.
Ternyata mbak-mbak yang sedang promosi di sebelah kami memperhatikan segala tingkah laku kami dan tersenyum. Kami hanya nyengir dan kabur keluar untuk mengisi perut. Aku, Cesi, Pina memilih mie ayam dan Amaeyta memilih bakso. Kami memilih tempat yang teduh di bawah deklit yang sudah disediakan. Saat pelayan sedang mencari keberadaan kami, kami sengaja tidak melihatnya untuk sedikit mengerjai. Maklum anak muda mempunyai kebahagiaan tersendiri untuk ini.
            Setelah puas berbincang dan berhubung perut sudah kenyang, kami kembali ke rumah Cesi. Tiba-tiba sudah berjejer polisi menggiring para pengendara motor. Yah, terjadilah apa yang terjadi. Kami ditilang dan haru membayar Rp 40.000,00. Padahal kami masih memakai seragam juga telah menyerahka kartu pelajar.
            “ Nasib-nasib,” gerutuku.
            “ Edan! Pelajar kota dilolosin,” sahut Cesi dengan muka geram.
            “ Parah!!! walaupun sekolahan kita batas kota tetap aja masih kabupaten,” sela Ameyta.
            ”…..,”Pina hanya nyengir kecut.
Setelah sampai di rumah Cesi,kami berpamitan untuk pulang dan berterimakasih atas traktirannya tadi. Sungguh semua hal yang terjadi hari ini sangat mengesalkan.

cerpen

05.18 0 Comments

RAZIA PEMBAWA BERKAH


            Kejadian razia di sekolah tadi pagi, membuatku takut memakai si Ray yaitu sepatuku yang warna abu-abu dominan hitam. Si Ray yang sempat disita oleh Bapak Guru, membuatku cemas. Untung aja aku nggak ikut dipanas-panasin.
            Sepulang sekolah aku menceritakan semua kejadian itu kepada Bapak.
“Pak,,tadi sepatuku disita. Katanya sih nggak boleh pake sepatu kaya gini”.
“Ya udah nanti Bapak antar ke jalan Mataram. Kamu siap-siap dulu sana,”kata Bapak.
Setelah siap,kami langsung cap cuz ke jalan Mataram,Jogja. Waktu lampu merah aku melihat mas-mas pake rompi ungu,helm ungu,celana pencil warna putih,sepatu Hip-Hop warna ungu terus motornya Satria. Badannya putih, berisi lagi…pokoknya keren deh.
“Pak,lihat deh orang yang di samping kiri kita,kerenkan kayak artis Korea             ya..he he..”kataku sambil sembrono.
Eh si Bapak malah diem aja, gak ngrespon amat deh. Tapi nggak papalah yang penting bisa ketemu sama mas itu di beberapa kali lampu merah.
            Setelah melalui perjalanan panjang,kami sampai juga di jalan Mataram. Setelah turun dari motor,dengan gesitnya aku mondar-mandir memilih calon sepatu yang memenuhi syarat dan kriteria. Di toko Yoel Shoes kutemukan sepatu hitam polos yang kini kuberi nama Blicky. Masalah sepatu udah kelar,tinggal kaos kakinya. Ku hampiri toko kaos kaki di sebelah. Harga @kaos kaki Rp 5.000,00. Aku membeli 2 pasang kaos kaki. Tapi,waktu membayar..aku keliru ambil uang yang Rp 5.000,00-an.
 “Eh..bentar buk,keliru”kataku.
"Iya si embak ini,orang satu aja harganya Rp5.000,00,”kata pedagang agak judes.
Aku hanya bisa tercengir malu.
            Selesai berbelanja,kami tidaklah langsung pulang,melainkan mampir dulu ke pasar Burung. Ternyata tidak hanya burung aja yang dijual di sana. Ada ayam,anjing,ular,monyet ,kura-kura, dll. Setelah berkeliling di pasar itu dan tidak tahan baunya, kami langsung meluncur pulang. Sesampainya di rumah, tidak terasa hari sudah petang.

Followers

Search This Blog

Translate