Follow Us @soratemplates

Sabtu, 21 September 2013

cerpen 2


SABTU INDAH ??

            Sabtu indah. Ya, itulah katalimat menarik yang ada di benakku saat ini. Sabtu yang tidak ada ulangan ekonomi, tidak ada testu (tes Sabtu) dan rencana menarik bersama 3 sahabatku. Aku tahu gosib ini dari Dewia kelas XB. Semoga itu bukan PHP (Pemberian Harapan Palsu) saja. Kami berencana membeli headphone di JEC yang saat ini telah dibuka pameran bermacam alat elektronik.  Mari kukenalkan dulu dengan 3 sahabatku. Yang pertama, ada Ameyta si amoeba yang selalu bergerak ke mana-mana tanpa kita sadari. Lalu ada Puspina si unyil yang kecil dan sok unyu. Terakhir ada Cesi si dewi wc yang terlalu lancar pencernaanya hingga kemana-mana harus ke wc. Mau tau nama dan karakterku? Bacalah cerita ini sampai selesai.
             Kuawali pagi ini dengan berbasah-basah ria karena hujan terus mengguyur dengan derasnya. Di tengah perjalanan menuju sekolah, hujan telah reda. Namun, aku enggan melepas mantelku. Ya, menurut perkiraanku mantel ini akan kering sesampai di sekolah dan tinggal melipatnya saja. Sesampai di parkiran, banyak teman-teman yang melihat dan menertawakan aku. Karena hanya aku yang memakai jas hujan dan itu pun sudah kering. Sampai di kelas, semua temanku sudah beragumen mengenai pulang pagi sekitar jam 10.00 WIB. Saat jam istirahat selesai, aku melihat segerombolan kelas XI pulang yang kemudian disusul kelas X. Aku, Puspina, Ameyta dan Cesi jadi pergi ke JEC. Sebelumnya, kami harus ke rumah Cesi untuk menitipkan motor Ameyta. Aku juga memberi waktu mereka untuk sholat.
Jujur, aku belum hafal jalan ke JEC. Dan aku memperbolehkan orang yang membaca cerita ini tertawa. Setelah sampai di JEC, aku langsung menuju ke kamar mandi. Ya, aku terkenal beser. Di dalam, kami ikut berdesak-desakan dengan lautan manusia. Berminat membeli headphone, kami berkeliling untuk mencari yang sesuai koceng.
“ Kenapa rata-rata Rp 50.000,00 an ya?,” gumam Pina dengan muka sok imut.
“ Engga, itu ada Rp 20.000 an,” sahut Ameyta yang tiba-tiba ada di sebelahku.
            “ Tisa, ikut aku cari mouse pad yuk,” pinta Cesi padaku.
            “ Ok. Bentar ya unyil and amoebaku,” candaku.
            Setelah aku dan Cesi berkeliling dan tidak membawa hasil, kami kembali ke tempat Pina dan Ameyta. Ternyata disana ada banyak mouse pad yang menggiurkan. Ketika aku hendak membeli headphone tang merah tadi, ternyata Meyta telah membelinya dan yang putih telah dibeli Pina. Dan mereka tak mau aku membeli dengan warna yang sama. Ya, aku lebih baik mengalah karena mengalah itu lebih terhormat dari pada kalah. Saat kami berjalan, ada bule yang member brosur tapi, kami tidak terlalu tahu apa isinya. Sepertinya semacam tawaran touring. Ketika kami berada di bagian aksesori Hp, kami bertemu lagi dengan bule itu dan diberi brosur lagi. Tapi kami tidak bisa mengatakan “tadi sudah dikasih” dalam bahasa Inggris.
            “Eh tadi udah dikasih kan?,” bisikku.
            “Trus gimana ngomongnya? Ga biasa ngomongnya,” kata Puspina.
            “Udah terima aja,” sahut Ameyta.
            “Bahasa Inggrinya “tadi” apa? Tanya Cesi.
            “Tauk ah gelap,” sahutku dengan nyengir.
Ternyata mbak-mbak yang sedang promosi di sebelah kami memperhatikan segala tingkah laku kami dan tersenyum. Kami hanya nyengir dan kabur keluar untuk mengisi perut. Aku, Cesi, Pina memilih mie ayam dan Amaeyta memilih bakso. Kami memilih tempat yang teduh di bawah deklit yang sudah disediakan. Saat pelayan sedang mencari keberadaan kami, kami sengaja tidak melihatnya untuk sedikit mengerjai. Maklum anak muda mempunyai kebahagiaan tersendiri untuk ini.
            Setelah puas berbincang dan berhubung perut sudah kenyang, kami kembali ke rumah Cesi. Tiba-tiba sudah berjejer polisi menggiring para pengendara motor. Yah, terjadilah apa yang terjadi. Kami ditilang dan haru membayar Rp 40.000,00. Padahal kami masih memakai seragam juga telah menyerahka kartu pelajar.
            “ Nasib-nasib,” gerutuku.
            “ Edan! Pelajar kota dilolosin,” sahut Cesi dengan muka geram.
            “ Parah!!! walaupun sekolahan kita batas kota tetap aja masih kabupaten,” sela Ameyta.
            ”…..,”Pina hanya nyengir kecut.
Setelah sampai di rumah Cesi,kami berpamitan untuk pulang dan berterimakasih atas traktirannya tadi. Sungguh semua hal yang terjadi hari ini sangat mengesalkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Followers

Search This Blog

Translate